JOGJA – Civitas akademika Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Jogjakarta belum merasa puas atas akreditasi B yang diraihnya. Alasannya, predikat akreditias B pada institusinya membukti-kan, UAD Jogja belum mampu menunjukkan pengelolaan lembaganya secara profesional, akuntabel, dan masih ada banyak kekurangan.”Tentu akreditasi B belum memuaskan masyarakat dan khususnya keluarga UAD. Karena itu, kekurangan tersebut men-jadi tanggungjawab bersama seluruh civitas akademika UAD, agar lembaga ini baik, sehingga mendapatkan predikat akreditias A,” kata Rektor UAD Kasiyarno pada pidato Milad ke-55 di kampus setempat, Sabtu (26/12).Kasiyarno mengapresiasi kerja keras tim penjamin mutu UAD dan seluruh civitas UAD.
Sebab, tanpa kerja kerjas seluruh elemen UAD, mustahil meraih akreditasi B. Pada 2019, UAD berambisi ingin mendapatkan akreditasi A. Ini sesuai keinginan Kemen terian Ristek dan Pendidikan Tinggi (Dikti), pada tahun tersebut banyak PT terakreditasi A.”Kami akan terus mem perbaiki pola manajemen dan mendorong seluruh dosen dan karyawan UAD ikut mewujudkan keinginan supaya mendapatkan akreditasi A,” pinta Kasiyarno.Menurutnya, pada usia 55 tahun, UAD mengalami pasang surut ujian dan tantangan. Pada 55 tahun silam, UAD berdiri dengan label Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan (FKIP). Ke mudian berubah menjadi IKIP Muham-madiyah. Selanjutnya, pada 2002, berubah lagi menjadi UAD.”Saat ini, UAD memiliki 38 prodi. Yaitu, 32 studi strata S1 dan 6 prodi S2,” papar Kasiyarno.
Selain bertambahnya program studi, setiap tahun jumlah mahasiswa mengalami pe-ningkatan signifikan. Pada 2014, jumlah mahasiswa baru ada 4.668. Setahun berikutnya, 2015, naik menjadi 5.480 orang.”Sedangkan mahasiswa asing pada 2013 ada 118 orang. Tahun 2014, menjadi 167 orang dan 2015 naik menjadi 177 orang. Ke-banyakan berasal dari Tiongkok. Ada juga Belanda, India, Malaysia, Thailand, Inggris, Spanyol, Korea, Hongaria, dan Jepang,” papar Kasiyarno. (mar/hes/ong)