SLEMAN – Baru kali ini lem-baga legislatif Sleman punya inisiatif mencetuskan regulasi yang cukup spektakuler. Bahkan, konsep yang dituangkan dalam rapat panitia khusus (pansus) mendapat respons positif dari eksekutif dan Kementerian Agama. Inisiatif itu adalah rancangan peraturan daerah (raperda) tentang pendidikan non formal keagamaan. Rencananya, ra-perda tersebut ditetapkan di penghujung 2015 ini. “Jika ini gol, bakal menjadi yang per-tama di Indonesia,” ujar Ketua Pansus Raperda Pendidikan Nonformal Keagamaan DPRD Sleman Prasetyo Budi Utomo kemarin (27/12).
Sepintas, muatan raperda ini tidak jauh beda dengan yang selama ini pernah ada. Juga di daerah lain. Hanya saja, kebanyakan cuma memuat tentang pendidikan nonformal bagi muslim.Raperda inisiatif dewan ini memuat kepentingan seluruh agama yang diakui di Indone-sia. Itulah yang menjadi ung-gulan. “Kong Hu Cu juga ada,” lanjut politikus Golkar asal Prambanan itu.
Difasilitasi Kementerian Agama Sleman, pansus telah menda-patkan banyak masukan dari tokoh agama. Tujuannya untuk menguatkan materi raperda.Nantinya, muatan regulasi menyentuh semua kegiatan beragama mulai anak-anak hingga pendidikan menengah di luar sekolah formal. Misalnya, Taman Pendidikan Alquran (TPA) untuk muslim atau sekolah Minggu bagi penganut Nasrani. “Prinsipnya untuk melengkapi pendidikan ilmu agama yang telah diajarkan di sekolah. Agar anak-anak dekat dengan nu-ansa agama sejak kecil,” tuturnya Pras sapaan akrabnya.
Dalam pelaksanaannya, semua kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan agama di luar sekolah juga akan dibiayai oleh pemerin-tah daerah.Kabag Hukum Setda Pemkab Sleman Herry Dwikuryanto mengakui, ide legislatif belum pernah ada selama ini. Karena itu, pihaknya antusias mem-bantu dewan untuk menyusun materi dalam pembuatan pasal-pasal. “Ini sangat bagus jika benar-benar terealisasi. Kami mendukung,” ujarnya.
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Arif Haryono mengatakan, reali-sasi raperda akan sering ber-sentuhan dengan lembaganya. Namun, pelaksanaannya lebih terfokus pada Kementerian Agama. “Prinsip kami support. Konsep sedang dimatangkan bersama,” kata Arif.Kepala Kementerian Agama Sleman M Lutfi Hamid memang paling antusias menyambut ra-perda ini. Selain materi, Lutfi berencana membuat legalitas kelompok-kelompok pelaksana kegiatan agama nonformal supaya memiliki badan hukum. “Sedang kami data,” ucapnya.
Lutfi mewacanakan ada sema-cam honor bagi pengampu (ten-tor) yang membina peserta pendidikan nonformal keaga-maan. Setidaknya, honor bisa memicu semangat tumbuh kembang lebih banyak lembaga pendidikan agama nonformal di Sleman. Meskipun, dasar utama bagi para pengampu ada-lah keikhlasan.Lebih dari itu, jika setiap lem-baga nonformal telah berbadan hukum akan menjadi kabar gem-bira bagi guru-guru agama di sekolah formal yang kekurangan jam mengajar. Lutfi sedang mem-buat formulasi agar ke depan para guru agama bisa menambah target jam mengajar di lembaga nonformal keagamaan demi mem-pertahankan program sertifi kasi masing-masing. (yog/din/ong)