Siap Mental, Cari Sudut Pandang Baru

Sambut tahun baru dengan semangat baru pula. Beragam resolusi telah disusun sebagai peta langkah setahun ke depan. Juga mengevaluasi perjalanan yang dilakukan belakangan ini. Tentunya, hal itu bisa mempengaruhi mood dalam bekerja. Pertanyaannya, tetap bertahan di jalur yang sama atau justru memilih keluar dan mencari atmosfer baru?
yustisia
ADA banyak rencana yang disusun untuk tahun depan? Itu sudah pasti. Salah satunya mungkin resign dan mencoba pekerjaan lain atau beralih profesi. Bahkan sebagian ada yang me-mutuskan menjadi womenpre-neur. Namun, untuk memulainya tentunya membutuhkan tekad kuat dan persiapan yang matang.Menurut Pakar Psikologi Yustisia Anugrah Septiani, pilihan tetap pada diri sendiri untuk kenya-manan dalam bekerja. Dijelaskan, momen pergantian waktu men-jadi semangat untuk mengejar target baru. Ini dapat menjadi motivasi dalam menjalani pe-kerjaan apapun. “Memilih untuk berhenti dan beralih pekerjaan tidak ada sa-lahnya. Asalkan memang ingin mencari sudut pandang baru, bukan lari dari masalah,” ungkap Pakar Psikologi Klinis UGM ini.
Yusti menjelaskan, tidak semua orang menganggap tantangan sebagai hal yang menyenangkan. Jika secara bijak, setiap individu mampu mengolah tantangan menjadi motivasi. Di sisi lain tantangan juga dapat membuat cemas dan khawatir akan apa yang terjadi berikutnya.Dari sudut pandang psikologi, tantangan ibarat bahan baku untuk berkarya. Jika mampu mengolah dengan baik, akan menjadi karya yang indah. Begitu juga sebaliknya, jika tidak mampu memanajemen dengan baik dapat menghambat.”Secara naluri kita pun se-benarnya sudah mempersiapkan rencana-rencana jangka pendek maupun panjang,” ungkapnya.
Namun, rencana hanya tinggal rencana jika membiarkan rasa takut tetap bercokol dalam diri. Terkadang yang menghambat untuk lebih maju adalah rasa takut yang justru dibiarkan. Ketakutan ini, lanjutnya, di-sebabkan oleh beberapa hal, seperti takut terhadap penolakan, takut tidak sesuai harapan, hingga takut kecewa. “Terlebih dalam dunia kerja, momok akan ketakutan sangat-lah terasa. Mulai dari diri sen-diri hingga lingkungan pekerjaan,” terang psikolog kelahiran Jogja-karta, 25 September 1990 ini.Oleh karena itu, perlu dibangun cara pikir sehat dan positif. Me-nurut Yusti, pola pikir yang sehat dan positif mampu mendorong perilaku yang produktif. Alhasil, akan tercipta mood yang baik dalam melakoni pekerjaan. Menurutnya, manusia diberi kelebihan pikiran dan hati yang seharusnya digunakan sebagai senjata saat menghadapi situasi di luar kontrol. Jadi, tidak ada salahnya untuk mencoba. “Jika belum apa-apa sudah merasa kalah, kapan diri kita bisa merasakan sesuatu yang baru,” ujarnya.
Yusti mencontohkan, atmosfer yang akan terjadi dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Meski belum diterapkan, namun polemik sudah terjadi. Terutama ke-takutan untuk menghadapi persaingan secara bebas. Saat ini MEA bisa menjadi jem-batan untuk bersaing. Bukan hanya secara perusahaan dan produk namun juga jasa. “Intinya, momen tahun baru bisa jadi resolusi untuk mengubah mindset, bersikap positif, dan berusaha melakukan sesuatu semaksimal mungkin. Tidak perlu takut terhadap pikiran atau omongan orang lain,” pesan Yusti. (dwi/ila/ong)