MEMBAUR dengan masyara-kat tidak bisa terpisahkan dari keseharian Suharsono. Meski kelak dilantik sebagai bupati, Suharsono tak akan menghi-langkan kebiasaannya itu. Begitu pula dengan hobinya dalam ber-kuliner.”Seperti lagunya Christin Pan-jaitan, saya tetap seperti yang dulu,” kelakar Suharsono.Ya, sejak masih aktif di kepo-lisian, Suharsono rutin membaur dengan masyarakat ketika dirinya sedang tidak berdinas. Di anta-ranya, dengan melayat. Bahkan, Suharsono tidak canggung me-megang cangkul dan ikut langsung mengebumikan.”Kalau di kampung (Beji) ada pemakaman saya ikut nguruk tanahnya itu. Pakai cangkul dan celana jelek,” ucapnya.
Suharsono mengungkapkan, selama ini dia lebih memilih ber-temu dengan koleganya dengan gaya nonformal seperti di warung kuliner. Gaya ini pula yang akan dia lakukan ketika nanti dilantik sebagai bupati.”Cukup di warung kuliner. Pakai celana pendek atau bahkan saru-ngan dengan kaus oblong, saya pikir lebih nyantai,” ungkapnya.Karena itu pula, lanjutnya, warga Bantul yang ingin bertemu deng-annya cukup dengan menelepon dan menentukan lokasi perte-muan di warung kuliner. Atau menghubungi salah satu satu asistennya. “Biar tidak ada jarak antara pimpinan dan bawahan,” tandasnya. (zam/ila/ong)