Euforia perubahan terus menggema pascapasangan Suharsono-Abdul Halim Muslih (Suharsono-Halim) memenangkan pemilihan kepala daerah(Pilkada) 9 Desember lalu. Tetapi, kemenangan pasangan nomorurut satu ini tak lantas membuat Suharsono jumawa.
KESAN santai dan low pro-file tetap tidak hilang dari sosok Suharsono. Tak ada perubahan gaya dan sikap antara Suharsono sebelum dan pascapilkada. Keme-ja lengan pendek dipadu celana kain dan sandal kulit tetap men-jadi andalan style fesyen bapak dua anak itu. “Saya ya tetap seperti ini,” ucap Suharsono ketika Radar Jogja berkesempatan bertemu dan berbincang dengan pensiunan Polri ini di kediamannya di Jalan Parangtritis KM 6,5 Dusun Dema-ngan, Bangunharjo, Sewon bebe-rapa waktu lalu.
Suharsono bercerita, sebenar-nya dia tidak ada keinginan sama sekali maju sebagai calon bupati pada bursa Pilkada Bantul. Toh, dia juga tidak memiliki back-ground politisi. Di samping itu, jarang sekali pensiunan Polri ber-tarung dalam pilkada. Keinginan dan tekad mulai muncul setelah beberapa kolega dan sebagian warga Bantul men-dorong untuk bersaing dan mera-maikan Pilkada 2015. Keinginan itu muncul bersamaan dengan karirnya di Korps Bhayangkara yang akan masuk masa pensiun.”Kalau ada masyarakat Bantul yang maju sebenarnya malah akan saya dukung. Tapi kan tidak ada,” tuturnya.
grafis-biodata-suharsono
Perlahan, tapi pasti. Suharsono mulai berupaya memuluskan rencananya dengan berlabuh ke PDIP sebagai kendaraan politik-nya. Dari 17 PAC, ada 14 PAC PDIP yang mendukungnya saat proses penjaringan bakal calon bupati dan wakil bupati di internal partai berlambang banteng moncong putih.
Sayangnya, dukungan mayori-tas suara akar rumput PDIP ini tak lantas membuat langkah Suharsono mulus. DPP PDIP akhir-nya justru memberikan rekomen-dasi kepada pasangan Sri Surya Widati-Misbakhul Munir (Ida-Munir) yang notabene kurang mendapatkan dukungan dari akar rumput PDIP.Kendati gagal total di PDIP, pria kelahiran Beji, Sumberagung, Jetis ini tak patah arang. Lobi-lobi politik ke sejumlah partai politik (parpol) dilakukannya. Mulai parpol yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih (KMP) maupun Koalisi Indo-nesia Hebat (KIH). Termasuk men-daftarkan diri sebagai cabup di Partai Gerindra.
Upaya Suharsono membuahkan hasil. Partai Gerindra bersedia menjadi kendaraan politiknya dan mengusungnya sebagai calon bupati (cabup). Bak gayung bersambut, komunikasinya dengan PKB yang notabene tergabung dalam KIH juga menuai hasil positif. Partai yang dibidani Abdurrahman Wahid itu bersedia mengeluarkan rekomendasi dan menduetkan Abdul Halim Muslih yang merupakan Ketua DPC PKB Bantul sebagai calon wakil bupati (cawabup) pendampingnya.Berbeda dengan kontestan pil-kada pada umumnya, Suharsono lebih memilih membentuk relawan untuk membantu pemenangan-nya. “Hanya ada sekitar lima hing-ga enam orang yang berada di tim inti saya,” jelasnya.
Suharsono menuturkan, setiap anggota tim pemenangan inti ini dibebaskan untuk memilih dan menggandeng siapa saja yang ingin bergabung dan memenang-kannya. Meskipun dapat bergerak bebas, seluruh anggota tim inti ini tidak dapat membuat kepu-tusan strategis. “Keputusan dan kebijakan tetap ada dalam di-kendali saya,” terangnya.Selama masa pembentukan kader dan relawan serta masa kampa-nye, Suharsono selalu menekankan kebersamaan. Yakni, kebersamaan tekad memperbaiki Bumi Projo Tamansari. Karena kebersamaan ini pula, Suharsono mengeluar-kan tagline Pro Perubahan seba-gai salah satu jargon andalannya. Jargon inilah yang mengikat emosi para relawan perubahan.
Suharsono meyakini, kemena-ngannya tidak lepas dari semangat mayoritas warga Bantul yang ingin mewujudkan perubahan. Mengingat, selama 15 tahun ter-akhir Bumi Projo Tamansari di-kuasai dinasti politik. Apa parpol pengusung tidak memberikan kontribusi?”Jenengan bisa menilai sendiri,” Suharsono berkilah.
Ya, selama masa kampanye pergerakan relawan perubahan merebut hati pemilih sangat masif. Parpol pengusung justru tampak lembek. Parpol pengusung tidak begitu kentara melakukan kam-panye. Meski begitu, Suharsono berterima kasih kepada Partai Gerindra dan PKB selaku peng-usungnya, dan PKS selaku parpol pendukungnya.”Khususnya terima kasih kepada PKS yang telah membantu meng-amankan suara saat coblosan,” tuturnya.
Selain mengandalkan para re-lawan, Suharsono juga memiliki kiat jitu menghadapi strategi yang diterapkan calon petahana. Yaitu, perpaduan strategi perang dan psikologi.Suharsono menyatakan, memang sengaja tidak begitu menonjolkan kekuatannya saat masa kampa-nye. Masa kampanye justru dia manfaatkan untuk membentuk pararelawan dan memerhatikan strategi lawan. Bukan show force. “Beberapa minggu sebelum co-blosan baru saya all out turun ke bawah,” bebernya. (zam/ila/ong)