ZAKKI MUBAROK/RADAR JOGJA
BIKIN HEBOH: Kantor Yayasan Sativa Nusantara yang sudah memasang logo. Yayasan ini bikin heboh karena menawarkan pengobatan diabetes dengan daun ganja.
Baru baru ini, tepatnya 19 Desember lalu, kita dihebohkan dengan kabar sebuah yayasan di Bantul memproduksi obat herbal untuk penyembuhan penyakit diabetes. Yang membuat kita tercengang, bahan baku yang digunakan untuk pengobatan ini, adalah ganja. Pada hal ganja termasuk narkotika, yang berarti itu dilarang.
PERKEMBANGAN dunia ilmu pengobatan, tidak pernah berhenti. Termasuk di DIJ. Pesatnya perkembangan ilmu pengobatan tersebut, salah satunya ditandai dengan berdirinya Yayasan Sativa Nusantara, Sabtu (19/12) lalu. Yayasan yang kabarnya menggunakan ganja untuk penyembuhan penyakit diabetes ini, berkantor di Jalan Ki Ageng Mangir RT 126, DK 18 Mangiran, Trimurti, Srandakan, Bantul
Tidak mudah untuk menemukan lokasi yayasan yang berkantor pusat di Jakarta tersebut. Selain tergolong baru, sulitnya menemukan lokasi juga karena ti dak ada penanda, seperti spanduk, maupun plakat petunjuk di rumah yang menjadi basecamp ya yasan.
Bahkan, warga di sepanjang Jalan Ki Ageng Mangir pun jarang yang mengetahuinya. Setelah bertanya ke sejumlah warga, Ra-dar Jogja akhirnya me ne mu kan pemilik rumah yang men ja di kantor Yayasan Sa-tiva Nusan tara. Namanya Yusack.Yusack membenarkan, rumah yang di-jadikan kantor yayasan adalah miliknya.
Sebelum di ja di kan kantor yayasan, bangu-nan yang terletak sekitar 100 meter se la tan rumah pribadi Yusack ini, dimanfaatkan sebagai kantor kelompok wanita tani (KWT) Sri kandi. Juga, dijadikan sebagai ru ang pertemuan belajar oleh se jumlah warga.Yusack sendiri tidak begitu me nge ta hui ruang gerak Ya ya san Sativa Nusantara, ka-rena me mang tidak terlibat langsung. “Yang pakai (rumah untuk ya ya san) itu cucu saya. Dia yang ak tif di sana (yayasan),” terang Yusack.
Meski begitu, kata Yusack, sang cu cu yang bernama Dira Nara yana pernah bercerita kepadanya perihal yayasan. Ya ya san Sa-tiva Nusantara ini salah satu nya bergerak dalam bidang pe ngo ba tan dengan meng-gunakan gan ja sebagai bahan obatnya.Kepada dirinya, sang cucu yang ting gal di Jakarta ini juga ber ce ri ta sengaja memin-jam ru mah nya untuk dijadikan sebagai kan tor di DIJ. Mengingat, para pen diri yayasan masih minim ang garan.”Para pendiri yayasan yang su dah sarjana semua itu tidak pu nya duit. Karena tidak punya du it, akhirnya punya alternatif meng-gu na kan rumah itu,” tutur nya.
Menurutnya, hingga sekarang ya ya san masih belum melayani pa si en yang ingin berobat. Bah kan setelah diresmikan, se-per ti tutup kembali. Kantor yayasan, un-tuk sementara ini masih di fung sikan un-tuk kepentingan ad mi nis trasi, seperti alamat surat- menyurat.Namun demikian, para pen di ri yayasan sejauh ini telah di un dang berbagai pergu-ruan ting gi di DIJ untuk menghadiri se mi-nar perihal pengobatan pe nya kit diabetes dengan menggu na kan ganja. Salah satunya di Uni ver sitas Gadjah Mada.
Yusack mengungkapkan, gan ja meru-pakan salah satu benda ter la rang. Bagi siapa pun yang me ma kai, memiliki dan me nge dar kan dapat dijerat dengan Undang- undang No.35/2009 ten tang Narkotika. Tetapi, kata Yusack, belakangan ini Ke-men te ri an Kesehatan mulai me ngem bang-kan penggunaan ganja se ba gai bahan pengobatan. Bah kan, kementerian juga telah me mi li ki laboratorium khusus di Tawangmangu.”Tapi, sampai sekarang belum de cla re. Secara resmi belum ada per nya taan ten-tang kebolehan meng gunakan ganja se-bagai obat,” ungkapnya.
Yayasan Sativa Nusantara, ka ta Yusack, te-lah memiliki surat izin dari Kemenkum HAM dan Ke men terian Kesehatan. Saat pe res mian kantor yayasan Sab tu (19/12) lalu, perwaki-lan Ke men terian Kesehatan turut ha dir.Sayangnya, Dira Narayana atau pen di ri Yayasan Sativa Nusantara belum dapat dikonfirmasi.”Nanti kalau dia telpon atau ke sini, akan saya kasih tahu ka lau Radar Jogja ingin bertemu,” tam bahnya.(zam/jko/ong)