HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
BERKAH NATAL: Jejeran perajin dan penjual rosario di Sedangsono, Banjaroyo, Kalibawang, kemarin (24/12). Banyaknya peziarah jelang Natal membuat para perajin bisa meraih untung.

Ramai Peziarah, Perajin Rosario Raup Untung Berlipat

Salah satu lokasi yang cukup ramai dikunjungi umat Nasrani jelang perayaan Natal di Kulonprogo yakni Sendangsono. Tempat wisata ziarah di Desa Banjaroyo, Kalibawang ini banyak memiliki titik sakral. Juga menyediakan produk kerajinan penunjang ibadah, salah satunya rosario. Seperti apa suasana di sana?
HENDRI UTOMO, Kulonprogo
HUJAN yang turun sejak pagi hari tak me-nyurutkan minat dan semangat peziarah untuk datang ke Sendangsono. Sebagai lokasi wisata religi, di sana terdapat Gua Maria yang biasa digunakan untuk berdevosi atau menghatur-kan sembah bakti pada Bunda Maria.
Bulan Desember setiap tahunnya, men-jadi puncak kunjungan di lokasi yang juga akrab disebut Louders Sendangsono itu. Selain untuk berdoa, di lokasi yang diarsi-tekturi oleh budayawan dan rohaniawan YB Mangunwijaya ini terdapat deretan perajin rosario dan salib.
Momen jelang Natal kemarin (24/12) mem-berikan berkah tersendiri bagi perajin di sana. Ramainya pengunjung membuat dagangan mereka laris manis. Salah satu perajin dan pedagang rosario Surastri, 45, menjelaskan, momen jelang Natal merupakan peruntung-an bagi dirinya. Sebab, pengunjung yang datang lumayan banyak dibanding hari biasa. Selain berdoa, mereka tak lupa membeli rosario sebagai buah tangan
“Saat perayaan Natal besok (hari ini) banyak juga yang ber-jualan bunga. Semua jualannya sama, rosario, salib, lilin, dan jerikan tempat air,” ungkapnya.Surastri mengungkapkan, se-lain Natal, Sendangsono ramai dikunjungi saat Hari Paskah yang biasanya jatuh di bulan Mei. “Natal kali ini juga cukup ramai, permintaan rosario cukp banyak, omzet lumayan terdongkrak,” ujarnya.
Dia menjelaskan, untuk harga rosario cukup bervariasi, antara Rp 15 ribu hingga Rp 250 ribu, tergantung ukuran dan bahan-nya. Rosario dengan bahan kris-tal harganya Rp 40 ribu, semen-tara untuk bahan kayu berkisar antara Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu.
Sementara untuk rosario jumbo berbahan kayu sonokeling bisa mencapai Rp 130 ribu hingga Rp 250 ribu. Perajin lain, Bowo Susanto, 54, mengungkapkan, rosario meru-pakan kerajinan khas yang ba-nyak ditemui di Sendangsono. “Permintaan naik sekitar 10 persen jika dibanding hari-hari biasa,” ungkapnya.
Dalam sehari, dia bersama tiga pekerjanya bisa mempro-duksi 10 salib dan 20 untaian rosario berbagai ukuran. Selain dipasarkan di Sendangsono, hasil kerajinan itu juga dijual di seputar Jogjakarta bahkan sam-pai ke Kalimantan.
Sementara itu, para pengunjung di Sendangsono biasa menyem-patkan diri mendatangi bebe rapa titik sakral. Di antaranya Gereja St Maria Lourdes Promasan, Padusan, Gua Maria Lourdes Sendangsono, dan Sendang Pembaptisan.
Kemudian pohon Sono, Pe-ngambilan Air Sendangsono, Kapel Tri Tunggal Maha Kudus, Kapel Maria, Lukisan Bunda Maria Bunda Segala Bangsa, Salib Milenium, Kapel 12 Rasul, Jalan Salib Pendek.
Selain itu, ada penginapan dan rumah panggung. Di sana juga digelar acara rutin seperti Misa Bulan Maria di bu-lan Mei dan Oktober. Juga Perarakan Maria Dolorasa, Perarakan Maria Lourdes, Perarakan Sakramen Maha Kudus, serta Misa dan Sholawatan Katolik.Nama Sendangsono sendiri merupakan gabungan dari kata Sendang (Ejaan Jawa yang ber-arti Sumber Air) dan Sono ( pohon Sono atau Angsana).
Sehingga secara harafiah Sendangsono diartikan sebagai mata air yang berada di bawah pohon Angsa-na. Mulanya, sumber mata air itu sering disebut sumber Semagung karena berdekatan dengan dusun Semagung.Sendangsono ini dikelola oleh Paroki St Maria Lourdes di Pro-masan.
Lokasi itu dapat ditem-puh dalam waktu sekitar 15 menit saja dari Kota Wates. Luas kompleks Sendangsono hampir satu hektare.Setiap peziarah yang datang akan melewati jalan salib besar yang dimulai dari gereja yang ada di bagian bawah kompleks Sendangsono. Rute jalan salib kurang lebih berjarak satu kilo-meter hingga ke pemberhentian terakhir di atas Sendang.
Sejarah Sendangsono sendiri tak terlepas dari kiprah Romo Van Lith SJ (rohaniawan Belanda yang lama tinggal di Pulau Jawa). Romo Van Lith merupakan salah satu rohaniawan yang menyebar-kan ajaran Katolik di Jawa.
Berdasarkan informasi dari beberapa sumber, keberadaan Sendangsono bermula pada 14 Desember 1904 silam, di mana Romo Van Lith berhasil membaptis 171 warga setempat dengan air dari kedua pohon Sono. Dua puluh lima tahun berjalan tepatnya 8 Desember 1929 lokasi itu dinyatakan resmi menjadi tempat penziarahan oleh Romo JB Prennthaler SJ.
Patung Bunda Maria yang berada di Sendangsono sendiri berasal dari Spanyol yang merupakan pemberian Ratu Spanyol. Patung ini di angkat beramai-ramai naik dari Desa Sentolo oleh umat Katolik ke Kalibawang.
Hingga tahun 1945, Pemuda Katolik Indonesia berkesempatan berziarah ke Lourdes, dari sana mereka membawa batu tempat penampakan Bunda Maria untuk ditanamkan di bawah kaki Bunda Maria Sendangsono sebagai reliqui. Sehingga Sendangsono hingga kini juga akrab disebut Gua Maria Lourdes Sendangsono.
Tahun 1974, kompleks Sendang-sono kembali terangkat oleh kiprah YB Mangunwijaya yang memberi sentuhan arsitektur. Konsep pembangunan kompleks Sendangsono cukup kental nu-ansa Jawa sekaligus didesain sangat sejuk dan ramah ling-kungan. Kompleks Sendang sono bahkan pernah mendapat peng-hargaan arsitektur terbaik dari ikatan arsitek Indonesia untuk kategori kelompok bangunan khusus. (ila/ong)