JOGJA – Bagi masyarakat yang menik-mati libur Natal dan tahun baru, tampaknya tak harus risau dengan stok pangan, atau kebutuhan lainnya. Pasalnya, saat ini stok kebutuhan sembilan bahan pokok (sembako) di Provinsi DIJ dalam keadaan aman. Kon-disi itu bukan hanya untuk persiapan Natal dan Tahun Baru 2016, tapi hingga 4,5 bulan ke depan atau sampai April 2016. “Beberapa komoditi pangan kita mengalami surplus,” kata Ketua Tim Pemantau Inflasi Daerah (TPID) Provinsi DIJ Tri Mulyono
Tri yang sehari-hari menjabat kepala Biro Administrasi Per-ekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Setprov DIJ meng-ungkapkan, keadaan itu diketa-hui setelah pihaknya mengada-kan pemantauan di lima pasar tradisional se-DIJ. Lima pasar tersebut adalah Pasar Imogiri, Bantul, Pasar Demangan, Jogja, Pasar Pram-banan, Sleman, Pasar Ben-dungan, Kulonprogo dan Pa-sar Argosari Wonosari, Gunung-kidul. “Monitoring kami laku-kan selama tiga hari, 18 sam-pai dengan 22 Desember 2015,” terangnya.
Data di lapangan menunjuk-kan adanya kenaikan harga terhadap kebutuhan pokok. Meski perayaan Natal, pem-beli belum menunjukkan pe-ningkatan yang berarti. Tapi, harga beberapa kebutuhan pokok telah mengalami kenai-kan. Di antaranya, cabe me-rah, bawang merah, daging ayam, dan daging sapi.”Komoditi pangan yang me-ngalami surplus adalah produk-si beras sejumlah 57.878 ton. Sedangkan kebutuhan konsum-si masyarakat DIJ hanya 33,91 ton. Ada surplus sekitar 24.787 ton beras,” kata mantan kepala Biro Organisasi Setprov DIJ ini.
Produksi beras itu, lanjut Tri, mampu memenuhi kebu-tuhan dalam jangka waktu 4,5 bulan ke depan. Surplus juga terjadi pada daging sapi seba-nyak 391 ton, daging ayam 1.834 ton, dan bawang merah surplus 11o ton. “Produksi bawang me-rah mencapai 879 ton, semen-tara konsumsi bawang merah di DIJ hanya 769 ton,” beber dia.
Kepala Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (POM) DIJ I Gusti Ayu Adhi Aryapatni, Apt menginformasikan, selama men-dampingi TPID DIJ terjun ke lima pasang tradisional, mene-mukan sejumlah bahan pangan yang dikonsumsi ma-syarakat menggunakan zat per-warna tekstil (rodamin B). Ini ditemukan di beberapa kerupuk dan rengginan yang ada di Pasar Bendungan, Kulonprogo. Bahan pangan itu diketahui dipasok dari Purworejo dan Ke-bumen, Jawa Tengah.
Sedangkan bahan pangan yang mengandung formalin juga ditemukan di Pa-sar Bendungan. Yakni mi basah yang dikirimkan dari Kebumen, Jawa Tengah. “Kami lakukan pembinaan kepada beberapa pedagang. Sedangkan untuk pembuatnya kita tindak lanjuti sesuai dengan aturan hukum yang berlaku,” katanya.
Menyikapi itu, dia mengimbau kepada masyarakat agar cerdas memilih barang saat belanja di pasar tradisional maupun toko modern. Termasuk saat menem-puh perjalanan dengan kereta dan bus dalam rangka libur Natal.Ketika membeli oleh-oleh di stasiun dan terminal agar men-cermati tanggal kedaluarsa di kemasan, maupun mengamati zat pewarna atas bahan pangan yang akan dibeli.
Selain Balai Besar POM DIJ, TPID beranggotakan lintas ins-tansi, seperti Biro Umum Humas dan Protokol Setprov DIJ, Bulog dan Polda DIJ, Bank Indonesia, PLN serta Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan DIJ dan Dinas Pertanian DIJ. La-poran TPID juga disampaikan di media center humas Bagian Humas kompleks Kepatihan pada Rabu (23/12). Persiapan yang matang juga sudah dilakukan Kantor Per-wakilan Bank Indonesia (KPBI) DIJ.
Menyikapi liburan panjang Natal dan tahun baru kali ini, KPBI DIJ menyiapkan dana Rp 3,4 triliun. Semua itu un-tuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam merayakan Natal dan menyambut ta-hun baru 2016. Dari dana tersebut, Rp 1,5 tri-liun disiapkan untuk kebutuhan perbankan, dan sisanya Rp 1,8 triliun untuk stok minimum. “Saya rasa, ini lebih dari cukup, dan sengaja stok kami lebihkan,” jelas Kepala KPBI DIJ Arief Budi Santosa saat jumpa pers Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIJ di Kepatihan Jogja.
Dari uang sebesar Rp 1,5 tri-liun tersebut, saat ini sudah ditarik sekitar Rp 900 miliar. Sehingga yang akan ditarik lagi sekitar Rp 600 miliar.Menurut dia, apabila diban-dingkan kebutuhan Natal 2014 dan tahun baru 2015, tidak beda jauh. Untuk kebutuhan perbankan pada Natal 2014 dan tahun baru 2015 hanya sekitar Rp 1,4 triliun. Secara prinsip, lanjut dia, pe-nukaran di semua bank, se-hingga KPBI DIJ hanya menyi-apkan untuk kebutuhan kas di luar kantor. (pra/kus/jko/ong)