KUSNO S UTOMO /RADAR JOGJA
HASIL BUMI: Sekprov DIJ Ichsanuri saat berada di depan gunungan dari Keraton Jogja di Kepatihan, kemarin (24/12).
JOGJA – Ada harapan khusus disam-paikan para birokrat Pemprov DIJ saat menerima hajad dalem gu nungan dari Sultan Hamengku Buwono (HB) X di kompleks Kepatihan Danurejan, kemarin (24/12).”Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan berkah keselamatan dan kesehatan sehingga dapat menerima hajat da-lem Sri Sultan Hamengku Buwono X berupa gunungan garebeg Maulud ini,” ungkap Sekprov DIJ Ichsanuri dengan bahasa Jawa, kemarin.
Dalam kesempatan itu, Sekprov juga mendoakan HB X bersama per-maisuri GKR Hemas dan semua putra lan wayah dalem (anak dan cucu raja) sehat selalu, panjang umur, dan bahagia. Demikian pula dengan para sentana dalem (kerabat) serta seluruh abdi dalem.Setelah itu, Ichsanuri secara sim-bolis mengambil sebagian dari gunungan yang berasal dari hasil bumi seperti kacang panjang, cabai, dan telur asin. Selanjutnya, diserah-kan pada sejumlah kepala satuan kerja perangkat daerah (SKPD)
Sama seperti Ichsanuri, para pejabat pria yang menduduki jabatan eselon II dan III di ling-kungan Pemprov DIJ semuanya mengenakan busana Jawa gagrak (gaya) Ngayogyakarta Hadinin-grat. Sekprov mengenakan sur-jan warna merah dan blangkon bermotif batik. Sedangkan pe-jabat perempuan memakai busana kebaya gelung tekuk.
Gunungan dari keraton tiba di Pendapa Wiyata Praja Kepatihan sekitar pukul 11.30 WIB. Hajad dalem itu diusung 20 narakarya dan dikawal dua ekor gajah dari Kebun Raya dan Kebun Binatang Gembira Loka.Utusan keraton dipimpin KRT Rinto Isworo. Gunungan kemu-dian diserahkan dan diterima Ichsanuri mewakili Pemprov DIJ.
Setelah didoakan, gunungan di-bawa ke depan Masjid Sulthoni di barat Pendapa Wiyata Praja guna diperebutkan masyarakat. Tak lebih dari sepuluh menit, gunungan di kompleks Kepatihan ludes diperebutkan massa.Untuk Garabeg Maulud ini, Keraton Jogja mengeluarkan tujuh buah gunungan. Lima gun-ungan yakni gunungan lanang, gunungan wadon, gunungan gepak, gunungan darat, dan gun-ungan pawuhan dibawa dan diperebutkan masyarakat di ha-laman Masjid Gedhe Kauman, Jogja.
Sedangkan dua gunungan lainnya, masing-masing satu gunungan lanang dibawa ke Ke-patihan dan Pura PakualamanSementara itu, perayaan Ga-rebeg Maulud Jumawal 1949 kali ini memiliki makna tole-ransi yang tinggi. Sebab, pe-rayaan hari kelahiran Nabi Mu-hammad SAW ini hampir ber-samaan dengan perayaan Natal. Di mana Maulid Nabi SAW jatuh di hari Kamis (24.12) sedangkan Natal di hari Jumat (25/12).
Menurut Kawedanan Budaya lan Pariwisata Kadipaten Pa-kualaman Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Indrokusomo ke-dua hari besar agama ini mo-mentum yang penting. Mampu mempertegas wujud toleransi di Jogjakarta, di mana kedua umat beragama merayakan hari raya dan mengedepankan rasa saling menghargai.Pelaksanaan Grebeg Maulud di Pakualaman sendiri berlangsung dengan meriah. Seluruh kerabat Pakualaman hingga warga sekitar memadati Pakualaman sejak pagi hari kemarin (24/12).
Dalam kesempatan ini, Pakualaman te-tap menerima gunungan kakung atau gunungan lanang dari Ke-raton Jogjakarta.Gunungan ini sendiri diantar langsung oleh abdi dalem Ke-raton Jogjakarta. Dikawal oleh Manggalayudha, Bregada Lom-bok Abang, dan Bregada Plang-kir dari Kadipaten Pakualaman. Gunungan ini diserahterimakan dari Abdi Dalem Keraton Jogja-karta Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Wijoyo Pamungkas ke-pada Bupati Sepuh Kadipaten Pakualaman KRT Projo Anggono.
Beberapa kerabat Pakualaman turut hadir, seperti mantan Men-pora RI Roy Suryo.Kanjeng Indro menjelaskan, bahwa perayaan Maulud sudah ada sejak zaman Mataram Islam. Keraton Jogjakarta dan Kadipa-ten Pakualaman sebagai pewa-ris wajib menjaga tradisi ini. Lebih lanjut, dia mnejelaskan, tradisi ini juga sudah ada sejak era Sunan Kalijaga.Ada yang unik dalam peraya-an Grebeg Maulud di Kadipaten Pakualaman kali ini. Pangeran Pati Kanjeng Bendara Pangeran Haryo (KBPH) Suryodilogo tidak ikut dalam rombongan arak-arakan Gunungan. Sebelumnya, KBPH Suryodilogo sangat aktif dalam setiap pengawalan gun-ungan Grebeg.
Kanjeng Indro menjelaskan, ketidakhadiran Sang Pangeran Pati untuk persiapan Jumenengan Kanjeng Gusti Pangeran Adip-ati Aryo KGPAA Sri Paduka Pa-kualam X pada 7 Januari 2016 mendatang. Sehingga tugas ini digantikan oleh kerabat-kerabat Pakualaman yang lainnya.”Biasanya ikut jalan tapi kali ini tidak, untuk persiapan 7 Ja-nuari mendatang,” tandasnya.
Dijelaskan, untuk persiapan jumenengan sudah hampir 70 persen. Sentana dan kerabat Pakualaman sudah satu suara. “Terutama untuk kesukseskan Jumenengan KBPH Suryodilogo sebagai KGPAA Pakualam X,” pungkasnya. (kus/dwi/ila/ong)