SETIAP pelaksanaan garebeg, khususnya yang dilaksanakan pihak Puro Pakualaman, seperti halnya yang digelar Rabu (24/12) lalu, mengingatkan Kanjeng Pangeran Haryo Indro-kusumo akan ‘peristiwa’ yang pernah dia alami. Dia pernah jatuh dari kuda yang ditung-ganginya.Sebagai salah satu Pangeran Kadipaten Pakualaman, memang sudah menjadi kewajiban bagi Kanjeng Pangeran Haryo Indrokusumo aktif dalam beragam upacara tradisi. Salah satunya menjadi Manggalayudha dalam setiap penyelenggaraan garebeg.Adik bungsu dari mendiang Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Paku Alam IX ini, harus menunggang kuda untuk men jalankan tugasnya. Di sini lah kisah berawal, di mana dirinya pernah terjatuh dari pelana.
Ini di alaminya ketika menjadi Manggalayudha di tahun 1997.”Ternyata kuda yang saya pilih itu kuda balap. Sehingga kalau mendengar sorak atau tepuk tangan saat posisi berhenti, pasti ingin lari. Itu yang saya rasakan waktu itu, dan akhirnya ter-jatuh,” kenang Kawedanan Budaya lan Pariwisata Kadipaten Pakualaman ini.Pria yang akrab disapa Kanjeng Indro ini tidak menyadari salah pilih kuda. Pasalnya saat memilih, kuda pilihannya kala itu terlihat tenang. Perawakan kuda pun sangat pas untuk digunakan sebagai pasukan Manggalayudha.
Meski tidak rutin menunggang kuda setiap harinya, tapi tetap wajib berlatih. Hal inipula yang dilaukan Kanjeng Indro ketika dipasrahi tugas ini. Selama tiga hari berturut-turut, setiap akan garebeg, dirinya berlatih menunggang kuda.”Ternyata tenang belum tentu bisa dikendalikan. Tetap harus tahu sejarahnya dulu sebelum dipilih. Tapi jatuh memang risiko ketika me-mutuskan menjadi seorang Manggala-yudha,” kata pria kelahiran Jogja-karta 17 Agustus 1950 ini. (dwi/jko/ong)