GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
MISA MALAM NATAL : Jemaat mengikuti Misa Malam Natal di Gereja St Antonius Kotabaru, Jogjakarta, Kamis (24/12). Pelaksanaan Misa Malam Natal Kota Jogja berlangsung khidmat dan aman.
JOGJA – Ribuan jemaat me-menuhi Gereja St Antonius Kotabaru di Jalan I Nyoman Oka 18, Jogja untuk mengikuti ibadah misa Natal, Kamis sore (24/12). Misa yang digelar tiga gelombang itu dihadiri sekitar tujuh ribu jemaat.Tak heran, sepanjang hari kemarin, gereja berarsitektur gaya Belanda itu dijejali jemaat
Halaman depan dan samping gereja yang dipasangi tenda dan ribuan kursi dipadati umat yang berdoa. Meski begitu, ibadah tetap berlangsung khidmat.Panitia Natal Gereja St Anto-nius Kotabaru Georgius Benny Wijaya mengatakan, perayaan Natal di gereja tersebut diper-siapkan selama enam minggu dan dikerjakan oleh para pemuda gereja. Hal itu untuk mewujudkan wajah Gereja Kotabaru sebagai gereja orang muda.”Ada misa khusus untuk kaum muda dipimpin Romo Mahar-sono Probho. Yaitu untuk meng-ajak orang muda peduli men-jaga keharmonisan alam,” kata-nya kepada Radar Jogja, kemarin.
Selaras dengan tema peles tarian alam dan lingkungan hidup, selama dua minggu panitia mempersiapkan dekorasi Natal dengan memajang dekorasi dan ornamen hijau. Dalam misa tersebut juga disampaikan vi-sualisasi drama dan teaterikal momen kelahiran Yesus. Se-hingga diharapkan semakin mengena dan dekat dengan anak muda. “Kita tampilkan banyak tanaman dan pohon-pohon se-bagai hiasan,” terang Benny.
Sementara itu, misa Natal per-tama pada pukul 17.00 WIB kemarin dipimpin oleh Romo R Hardaputranta SJ. Misa Natal kali ini mengusung tema Ber-sukarialah di Hadapan-Nya, Sebab Ia Datang. Dalam khot-bahnya, Romo Hardaputranta mengatakan, Tuhan telah men-ciptakan segala sesuatu, baik alam semesta dan segala isinya termasuk manusia di dalamnya. “Sayangnya, dosa membuat manusia terputus dalam relasi-nya dengan Tuhan,” ungkapnya.
Natal merupakan peristiwa di mana Tuhan berkenan membangun kembali relasi dengan ciptaan-Nya. Yaitu melalui pribadi Yesus yang lahir dalam kesederhanaan. Natal yang dirayakan tiap tahun bisa menjadi momen terbangunnya kembali harapan. “Karena manu-sia dan alam semesta direngkuh kembali dalam Dia yang Maha Pengasih,” urainya.Mengenai Tema Natal, me-nurutnya, jemaat layak bersuka cita karena Tuhan telah berkenan datang dan tinggal di tengah-tengah manusia. “Namun kita juga tidak dapat menutup mata terhadap petaka di sekitar kita. Alam yang tercemar, keluarga yang terkoyak dan jiwa-jiwa yang terluka,” ujarnya.
Sementara itu, nuansa khas budaya Jawa begitu kentara da-lam pelaksanaan misa perayaan malam Natal di Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus (HKTY) Ganjuran, Bambanglipuro, Bantul, petang (24/12) kemarin. Pastur, pro-diakon, lektor, hingga putra altar menggunakan pakaian khas adat Jawa. Aroma budaya Jawa kian kental, karena bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa. Iringan musik gending Jawa kian melengkapinya.Misa perayaan malam Natal dimulai pukul 17.30 WIB.
Te-tapi, sejak pukul 16.30 ribuan umat Katolik sudah tampak da-tang dan memadati salah satu gereja tertua dan terbesar di DIJ ini. Sebelum misa dimulai, ri-buan umat disuguhi drama ke-lahiran Yesus Kristus. Adegan drama ini diperagakan Mudika HKTY Ganjuran.Misa perayaan malam Natal sendiri dipimpin Pastur Kris-manto Pr. Misa Natal kali ini mengambil tema Sang Kerahiman Lahir Mewujudkan Langit Baru dan Bumi Baru bagi Keluarga. Romo Paroki HKTY Ganjuran Herman Pr menguraikan, tema kali ini merupakan rangkuman tema Natal dari seluruh dunia yang dirangkum Keuskupan Agung Semarang.”2016 bagi umat Katolik adalah tahun kerahiman yang telah dilaksanakan sejak 8 Desember lalu,” terang Romo Herman.
Romo Herman mengatakan, melalui tema ini umat diminta merenungkan tema Natal dari keluarga. Ini karena terwujudnya langit dan bumi baru dari ke-luarga. Kerahiman dan belas kasih itu dimulai dari yang ter-kecil, yaitu keluarga. “Dengan belas kasih yang dimulai dari keluarga maka langit dan bumi yang baru tercipta,” jelasnya.

Polda DIJ Kerahkan Sembilan Anjing Pelacak

Terkait pengamanan, Panitia Natal Gereja St Antonius Kotabaru Georgius Benny Wijaya menje-laskan, terdapat 120 petugas panitia gereja. Selain itu juga dibantu perhimpunan masyara-kat pinggir sungai sebanyak 40 orang, satgas PDIP 10 orang, dan kepolisian. “Kepolisan sekitar seratus personel yang dibagi dalam beberapa sif,” ujarnya.
Dalam pengamanan Natal dan tahun baru, Polda DIJ mening-katkan kewaspadaan mencegah tindakan teror dan kriminal. Un-tuk menemukan bahan berbahya dan narkotika, kepolisian mener-junkan sembilan anjing pelacak yang telah terlatih untuk mengen-dus barang-barang terlarang.
Kanit Satwa Polda DIJ AKP Supriyanta mengatakan, anjing pelacak dari Polda DIJ telah ter-latih mendeteksi barang bawaan yang mungkin berisi bahan pele-dak, senjata tajam, dan narkotika. “Selain anjing yang memang penciumannya tajam, kita latih untuk dapat mengidentifikasi bahan peledak, senjata tajam, dan narkotika,” tandasnya kepada Radar Jogja, Kamis (24/12).
Menurut Supriyanta, anjing pelacak tersebut jenisnya ber beda-beda. Termasuk yang dimiliki Polda DIJ adalah jenis Sheperd dari Belgia. Anjing tersebut di kenal ahli dalam membantu polisi menemukan barang bukti.Mereka mendapat pelatihan dua kali dalam sepekan. Anjing ter sebut sudah jinak dan membantu kepo-lisian setelah dilatih selama tiga bulan. “Selain itu, pawang-pawang anjing ini juga mendapat pendi-dikan di Jakarta,””terangnya.
Selanjutnya, selama operasi pengamanan Natal 2015 dan Ta-hun Baru 2016, anjing-anjing tersebut akan berkeliling ke tem-pat-tempat umum seperti stasiun, terminal, dan bandara. Tak lupa mereka juga akan menyisir bebe-rapa gereja di Kota Jogja, agar terhindar dari bahan peledak yang bisa menyebabkan teror.Dijelaskan, penyisiran dilaku-kan di gereja-gereja dan tempat ibadah lain. Karena Natal dan tahun baru ini ancamannya tero-risme maupun ISIS. Dia berharap, selama perayaan Natal umat dapat beribadah dengan tenang dan nyaman. (riz/zam/ila/ong)