SETIAKY A.KUSUMA/RADAR JOGJA
KHUSYUK: Beberapa umat Kristiani memanjatkan doa di bawah patung Bunda Maria yang berada di Sendang Sriningsih yang berlokasi di Gayamharjo, Prambanan, Sleman, Jogjakarta, kemarin (25/12).

Lebih Khusyuk, Optimistis Permintaan Cepat Terkabul

Sudah menjadi rutinitas sebagian warga pemeluk Agama Kristen, bahwa setelah beribadah Natal di gereja, mereka mengunjungi Sendang Sri Ningsih. Konon sendang yang terletak di Gayamharjo, Prambanan, Sleman itu, diyakini membawa berkah bagi mereka yang berdoa di sana.
RIZAL SN, Sleman
SELEPAS menjalani misa Natal di gereja, beragam acara digelar oleh umat Kris-tiani. Mulai dengan berkumpul keluarga, atau memanfaatkan waktu libur Natal dengan berkunjung ke tempat favorit untuk berdoa.Hal itu juga yang dilakukan sebagian warga dari berbagai daerah di DIJ dan Jawa Tengah.
Mereka menyepi sembari berdoa secara khusyuk di Sendang Sriningsih, Gayam harjo, Prambanan, Sleman. Jemaat meyakini, dengan berdoa di Sendang Srining-sih bisa lebih khidmat dan permintaanya cepat terkabul
Berada di kawasan tebing desa Gayamharjo, Sendang Sriningsih terletak di antara dua pohon beringin besar berusia ratusan tahun. Sendang itu, kini sudah dibuat sumur timba, dan menjadi sarana ibadah bagi umat Kristiani. Sementara di lereng tebing sebelah barat, terdapat patung Bunda Maria yang sedikit masuk di dalam gua. Sejak puluhan tahun lalu, sendang ini menjadi tempat menyepi sambil meman-jatkan doa kepada Tuhan.
Salah seorang jemaat asal Desa Wedi, Klaten, Jawa Tengah, Wu-ryanti, 50, mengaku telah sejak pagi berdoa di kompleks Sendang Sriningsih. Ia yang datang ber-sama seorang putrinya, sengaja memilih Sendang Sriningsih untuk berdoa di hari Natal ini.”Saya ada doa khusus tahun ini, sehingga saya datang ke sini agar segera diberi jalan keluar dan kemudahan,” ujar Wuryanti saat ditemui di lokasi, Jumat, (25/12).
Dia mengaku memilih Sendang Sriningsih, karena tempatnya yang sepi, tenang dan sejuk. Dengan suasana seperti itu, bisa berdoa menjadi bisa lebih khu-syuk. Wuryanti mengungkapkan, sudah sejak tahun 1980-an sering datang ke tempat itu untuk ber-doa. Saat itu, dia masih anak-anak, sekitar usia sekolah dasar.Seingatnya, zaman itu belum banyak angkutan umum. Pun demikian akses jalan, juga belum sebagus sekarang. “Saya waktu itu berombongan jalan kaki dari Klaten ke sendang ini. Jaraknya mungkin sekitar 30-an kilometer,” kenangnya.
Bukan tanpa alasan, jika ba-nyak jemaah dari tempat jauh sengaja datang untuk berziarah dan berdoa di Sendang Sriningsih. Sebab, tempat itu sudah sejak 1935 dikenal sebagai tempat yang dipercaya membawa keberkahan bagi yang berdoa.Jamianus Taryono, warga se-kitar sendang yang juga Pe ngurus Gereja Marganingsih mengata-kan, kebanyakan pengunjung adalah perantauan luar kota atau provinsi yang pulang ke Jogja atau Jawa Tengah.
Dia menuturkan, pengunjung tahun ini mengalami penurunan setidaknya 30 persen dibanding-kan tahun sebelumnya. Hal itu disebabkan banyaknya ruas jalan yang menuju sendang masih dalam perbaikan. “Tapi hitungannya dari luar kota belum banyak. Sekitar 300 orang untuk saat ini. Hari biasa sekitar seratusan, biasanya yang datang satu keluarga,” terangnya kepada Radar Jogja, Jumat (25/12).
Dia memprediksikan, puncak kunjungan ke Sendang Sriningsih berlangsung akhir pekan sampai dengan tahun baru. “Seperti tahun-tahun sebelumnya, pe-ngunjung akan terus mengalir hingga tahun baru. Termasuk sekarang ini, kami perkirakan masih akan berdatangan hing-ga 1 Januari 2016 nanti,” katanya.
Dia menambahkan, Sendang Sriningsih ditemukan pertama kali oleh Romo Hartosuwondo, SY. Seorang pastur Jawa yang saat itu sangat dikenal dihormati oleh warga Kristiani. Kala itu, Romo Harto, panggilan akrabnya, yang melihat sendang itu sangat cocok untuk berdoa, lalu meminta ke-pada Lurah Jali untuk membeli tanah tersebut, guna dijadikan tempat peziarahan atau lourdes.Lalu, pada tahun 1936, sendang yang semula bernama Sendang Duren itu kemudian dipugar dan diberkati untuk pertama-kalinya oleh Romo Harto. Namanya kemudian diganti Sendang Sriningsih. (jko/ong)