BRIPKA FAHRUL FOR RADAR JOGJA
TERPELESET: Seekor kuda terjatuh di kawasan Titik Nol Kilometer, Rabu siang (23/12).
JOGJA – Lapisan batuan andesit di kawasan Titik Nol Kilometer Jogja beberapa kali memakan korban. Terhitung belasan andong sempat terpeleset. Bahkan menurut petugas polisi di Pospam perempatan nol kilometer, kejadian Rabu (23/12) kemarin dinilai yang paling parah.Seharian kemarin di media sosial (medsos) memang ramai dengan postingan gambar kuda penarik andong yang terpeleset di kawasan Titik Nol Kilometer Jogja.
Kawasan yang baru selesai proses rekonstruksi jalan, dengan mengganti aspal dengan batu an-desit tersebut, dianggap membuat jalan lebih licin hingga menyebabkan kuda ter-peleset.Petugas Polresta yang bertugas di Titik Nol Bripka Fahrul mengungkapkan, sejak Titik Nol dibuka kembali sudah ada belasan kuda yang terpeleset
Bahkan, membuat kaki kuda pincang. “Kalau hari ini (ke marin) ada lima, tadi ada yang sampai nggeblak,” ujarnya kepada Radar Jogja.Dia menjelaskan, petugas saat ini berjaga di tengah perem patan untuk mengingatkan para kusir andong agar berhati-hati. Sebab, selain kondisi batu andesit yang licin, juga permukaannya yang tidak rata.
Kapospam Nol Kilometer AKP Hendro Wahyono mengatakan, ada petugas yang ditugaskan untuk memberikan imbauan pada para kusir untuk berhati-hati. Menurutnya, sehabis hujan beberapa kali ada andong yang tergelincir. Terutama andong yang berjalan dari arah Jalan Malioboro ke Jalan Pangurakan atau dari utara ke selatan. “Bagian tengahnya lebih tinggi dari sebelumnya. Ada beberapa permukaan yang tidak rata. Makin ke selatan makin menurun,” ungkapnya.
Hendro mengatakan, siang kemarin sempat ada sebuah andong yang kudanya terpeleset hingga jatuh. Kuda andong milik Suhadi asal Potorono, Bangun-tapan, Bantul itu bahkan harus dibantu beberapa orang, ter-masuk dua petugas kepolisian yang saat itu berjaga di pos setempat. “Bisa bangun lagi se-telah dibantu beberapa orang,” ujarnya.
Sementara itu, seorang kusir andong Ibeng, 46, menyebut, lapisan jalan di Titik Nol saat ini lebih licin dibandingkan se-belumnya. Menurutnya, sudah banyak andong yang terjatuh. “Ndak berani lari. Jalan saja pelan, apalagi kalau musim hujan gini. Kemarau malah licin lagi,” ujarnya.Ibeng berharap ada solusi agar permukaan di Titik Nol bisa di-buat tidak licin bagi kuda. Ter-lebih tapal kuda terbuat dari besi, apabila berjalan di batuan andesit akan terasa licin. “Rata ada potongan-potongannya agak kasar seperti di Tugu Jogja itu ndak terlalu licin. Kalau yang ini mbahayani bagi andong,” sambungnya.
Salah satu kusir andong yang biasa mangkal di Malioboro Angga Setiawan menambahkan, dia mengkritisi jalan di Titik Nol Kilometer yang disebutnya seperti batok tengkurap. Menurutnya, hal itu membuat kemiringan jalan lebih tajam dibanding sebelumnya. Selain bagi andong, kondisi permukaan Titik Nol yang baru juga kurang menguntungkan bagi tukang becak. Terutama yang membawa penumpang dari arah selatan ke barat. Se-jumlah pengemudi becak me-ngaku sangat kesulitan. Karena selain harus menanjak, per-mukaannya juga tidak rata. “Harus didorong, kalau di-naiki terlalu tinggi. Itu juga harus ditahan, karena pas belokannya itu miring. Belum lapor siapa-siapa,” ujar Slamet Supriyadi, 54, tukang becak yang mangkal di depan Kantor Pos Besar.
Menanggapi hal itu, Kepala Seksi Perencanaan Jalan dan Jembatan Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Energi dan Sumber Daya Mineral (PUP-ESDM) DIJ Bambang Sugaib mengaku, belum tahu pasti penyebabnya. Pihaknya masih menggali informasi dari para kusir andong. “Kami masih cari info dari kusir andong kok bisa kudanya terpe-leset. Apakah karena faktor jalan atau kudanya yang kecapekan,” ujarnya saat dihubungi, kemarin (23/12).Menurut Gaib, sapaannya, sebenarnya penggantian aspal dengan batu andesit membuat jalan lebih kasar. Karena itu, Gaib mengaku bingung ketika di med-sos ramai disebutkan batu andesit yang dipasang di kawasan Titik Nol Kilometer menjadikan jalan licin dan membuat kuda ter-peleset. “Batu alam ini tekstur-nya seperti kulit jeruk, agak halus tapi tidak licin,” jelasnya.
Meskipun begitu, Gaib me-ngatakan, informasi yang di dapat dari para kusir andong menjadi bahan masukan untuk perbaikan. “Informasi yang diperoleh akan dikumpulkan untuk menjadi masukan perbaikan nantinya,” tandasnya. Terkait kemiringan di Titik Nol, Gaib mengatakan, sebenarnya sejak dulu jalan di sana elevasinya sudah seperti itu. “Mungkin setelah diganti batu andesit jadi lebih kelihatan, sebenarnya sejak dulu sudah seperti itu,” jelasnya.

Dikaji di Forum Lalu Lintas

Sementara itu, Kasatlantas Polresta Jogjakarta Kompol Sugiyanta mengatakan, me ngenai insiden jatuhnya beberapa kuda di Titik Nol Kilometer, dia telah menginventarisasi foto-foto dari beberapa kejadian. Se-lanjutnya, dari laporan dan kejadian tersebut dilanjutkan ke Forum Lalu-Lintas.”Sudah difoto yang jatuh, nanti akan dikaji apakah andong tidak boleh lewat sini (Titik Nol), dan dialihkan lewat jalan lain,” katanya pada wartawan di Pospam Perempatan Nol Kilometer, Rabu sore (23/12).
Beberapa kejadian terpeleset dan jatuhnya kuda tersebut, di-nilai cukup membahayakan. Terlebih apabila andong ter sebut sedang membawa banyak penumpang. Selain itu, bagi roda dua yang berbelok juga licin. Hal ini bisa memicu ke-rawanan lalin (lalu lintas)”Biar dikaji, kita angkat ke Forum Lalu-Lintas yang terdiri dari Polri, Dishub, Kimpraswil, Satpol PP, UPT Parkir dan Jasa raharja. Permukaanya kan tidak datar, jangankan andong, motor saja berbahaya,” ungkapnya. Selanjutnya, untuk me ngawasi dan memantau kondisi di perempatan Titik Nol, kepo lisian menyiagakan sekitar 30 personel. Mereka akan berjaga dalam beberapa sif. Polisi bersiaga sejak 24 Desember hingga 3 Januari. (riz/pra/ila/ong)