YOGI ISTI PUJIAJI/RADAR JOGJA
TEGAS: Pejabat Bupati Sleman Gatot Saptadi memecahkan botol menandai pemusnahan barang bukti miras sitaan di Lapangan Pemkab Sleman kemarin (22/12).
SLEMAN-Satpol PP terus menyelidiki transaksi minuman keras beralkohol (miras) yang masuk ke wilayah Sleman. Modus baru yang tercium aparat, para pelaku bertransaksi dengan sistem COD (cash on delivery). Ini adalah sistem pembayaran di tempat pertemuan dan bukan lagi diantar ke gudang.
Peredarannya pun beragam. Bukan hanya di restoran atau rumah makan, usaha jasa spa pun menjual miras secara kamuflase. Praktiknya, minuman “setan” itu disembunyikan di gudang dan tidak dicantumkan dalam daftar menu hidangan yang ditawarkan. Miras hanya disajikan atas permintaan konsumen. “Itu modus yang kerap menyulitkan penyelidikan. Tapi yang di spa dan kafe telah kami sita,” ujar Kabid Penegakan Perundang-undangan Satpol PP Sleman Ignatius Sunarto kemarin (22/12).
Selama semester dua 2015, aparat menyita sedikitnya 2.236 dalam kemasan botol dan kaleng berbgai merek. Selain itu, 30 liter dan 27 plastik miras oplosan (ciu). Barang haram tersebut didapat aparat dalam 12 kali operasi. Sebanyak 17 tersangka dimejahijaukan dan telah disidang di Pengadilan Negeri Sleman.
Sunarto menyayangkan masih rendahnya vonis hakim yang hanya berupa denda sebesar Rp 3 juta-Rp 10 juta. Pelaku dijerat tindak pidana ringan Peraturan Daerah nomor 8Tahun 2007 tentang Pelarangan Peredaran, Penjulan dan Penggunaan Minuman Beralkohol.
Kasatpol PP Joko Supriyanto mengaku tak mudah bagi aparat mendapatkan barang bukti. Sebagian besar minuman oplosan dijual di rumah-rumah pribadi tanpa label. Minuman bermerek pabrik beredar banyak di wilayah Depok. “Banyak pola dan modusnya. Penjual sangat rapi menghindari petugas,” katanya.
Pejabat Bupati Sleman Gatot Saptadi menginstruksikan Satpol PP bekerjasama dengan kepolisian lebih giat menggelar operasi miras. Lebih dari itu, Gatot meminta proses penegakan hukum dilakukan secara transparan. Selain untuk memberi efek jera para pelaku, sekaligus memberi informasi kepada masyarakat bahwa menjual miras merupakan tindakan melawan hukum, sehingga pelaku harus diberi sanksi tegas.
“Ini harus diperangi bersama. Sebab, dari miras bisa berujung kriminal sehingga masyarakat tidak tenteram,” ingatnya.
Gatot berharap peran aktif masyarakat turut serta memberantas peredaran miras. Setidaknya dengan tidak mengonsumsi alkohol dan aktif menginformasikan kepada aparat jika mengetahui ada peredaran miras di lingkungan masing-masing.(yog/din/ong)