MAGELANG – Temuan proyek yang tidak tepat waktu muncul lagi. Satu lagi, adanya proyek molor terjadi pada pembangunan masjid Ilmun Nafi yang ada di Kompleks Setda Kota Magelang.
Pembangunan tempat ibadah senilai Rp 2,535 miliar tersebut seharusnya sudah selesai pada 22 Desember 2015. Pembangunan masjid seharusnya selesai dalam waktu 135 hari kalender.
“Proyek ini belum selesai mas. Masih banyak yang harus dikerjakan. Kayaknya satu minggu lagi juga belum selesai. Wong pemasangan keramik di dalam gedung saja baru sebagian. Belum yang bagian luar gedung,” ungkap Topa, salah satu pekerja, kemarin (22/12).
Dari pengamatan di lapangan, konstruksi Masjid Ilmun Nafi masih terdapat beberapa bagian yang belum selesai dikerjakan. Mulai pemasangan keramik, tempat wudu, bagian atap samping, kubah masjid, finishing batu alam pada bagian eksterior, dan lainnya. Keterlambatan lebih banyak disebabkan masalah finansial.
“Pekerjaan dikebut setelah akhir-akhir ini. Pada awal pengerjaan, tidak banyak yang bisa dikerjakan. Tidak ada material. Sepertinya keuangan tidak ada,” ungkap Yanto, pekerja lainnya.
Pembangunan masjid ini merupakan perluasan musala yang dilaksanakan PT Aneka Bangun Cemerlang Jogjakarta.
Kabag Perlengkapan Setda Kota Magelang Al Idris mengatakan, pelaksana sebenarnya sudah diberikan tambahan waktu lima hari hingga 22 Desember. Dalam kontrak awal, semestinya pekerjaan harus tuntas pada 17 Desember lalu, sebelum akhirnya diadendum dengan tambahan lima hari.
“Ada adendum perpanjangan, karena terjadi perubahan konstruksi sampai 22 Desember. Tapi sampai sekarang (kemarin) pekerjaan masih belum selesai dan rekanan minta sampai 29 Desember 2015,” papar Al Idris.
Rekanan diwajibkan membayar denda dari 22- 29 Desember. Setelah itu, jika pekerjaan belum selesai, besar kemungkinan rekanan yang bersangkutan akan di-blacklist.
“Kalau denda hanya persoalan sepele. Jumlahnya tidak terlalu besar. Tapi kalau sudah blacklist, rekanan sendiri yang rugi. Apalagi kalau perusahaan besar dan banyak terjalin kerja sama luas, kan sayang,” imbuh Idris.
Kasubag Pengadaan Bagian Perlengakapan Setda Kota Magelang Ariyadi menambahkan, terkait keterlambatan tersebut, sebenarnya pihaknya cukup getol mendesak rekanan menambah tenaga kerja.
“Adendum berlaku sampai 22 Desember. Setelahnya diopnam karena belum selesai 100 persen. Rekanan wajib membayar denda sejak keterlambatan sampai batas waktu ditentukan. Kalau masih juga tidak selesai, kami putus kontrak,” katanya.
Tidak selesainya proyek pembangunan masjid menambah daftar panjang kegiatan yang tidak bisa dilaksanakan tepat waktu di lingkungan Setda Kota Magelang. Sebelumnya, ada dua proyek drainase yang terlambat. Disusul terlambatnya pembangunan Puskeswan.(dem/hes/ong)