JOGJA – Nor Muslim mengatakan, keluarga-keluarga Suku Dayak Ngaju bisa hidup rukun, harmonis, jarang ada konflik. Padahal, mereka berbeda-beda agamanya, hidup dalam satu rumah. Secara diskriptif ada tiga kategori yaitu 80 persen keluarga-keluarga hidup rukun, tidak pernah sekalipun mengalami konflik antar pemeluk agama yang berbeda.
“Baik konflik tertutup maupun konflik terbuka. Kerukunan yang tercipta antar pemeluk agama yang berbeda bisa dikatakan kerukunan yang sejati,” kata Muslim saat ujian terbuka di UIN Sunan Kalijaga pada Kamis (17/12).
Menurutnya, kerukunan di tengah warga Suku Dayak sangat Nampak pada kehidupan sehari-hari. Mereka bisa melakukan kerjasama dengan baik (Rukun dan kerjasama). Padahal, 10 persen keluarga Suku Dayak Ngaju, kerukunanya tercipta setelah sempat mengalami konflik, yang tidak menimbulkan pertentangan mendalam antara anggota keluarga yang menganut agama Kristen dengan anggota keluarga yang berpindah agama Islam.
“Sehingga kerukunan agama mereka dikategorikan sebagai rukun dan saling menerima. Sementara 10 persen lagi, keluarga- keluarga dalam keadaan rukun-harmonis, setelah sempat terjadi konflik mendalam antara anggota keluarga yang menganut agama Islam dengan anggota keluarga yang berpindah keyakinan menjadi Kristen Protestan,” tambah Muslim.
Ia menambahkan, konflik yang terjadi tidak hanya secara tertutup (batiniah) tetapi sampai terjadi konflik terbuka (lahiriah). Tetapi konflik antar anggota keluarga berbeda agama tersebut bisa kembali rukun dan harmonis, yang terlihat secara lahiriah. Bisa juga disebut rukun bertoleransi.
Dalam presentasinya, Muslim menerangkan, kerukunan yang tercipta pada 80 persen keluarga Suku Dayak Ngaju, dikarenakan masing-masing anggota keluarga bisa melakukan peran dan fungsinya dalam menciptakan kerukunan dengan melakukan adaptasi, integrasi dan pemeliharaan hubungan. Sehingga struktur keluarga tetap terjaga. Sementara bila dilihat dalam perspektif teori konflik, yang memandang bahwa watak masyarakat itu konflik, karena adanya persaingan, pertentangan atau perbedaan, maka kerukunan yang bisa mereka lakukan adalah kerukunan yang dipaksakan.
Pemaksaan oleh sistem ( sistem kekerabatan, ikatan darah, sistem sikap beragama ataupun sistem pemaksaan kelompok yang kuat kepada kelompok yang lemah). Sementara konflik yang terjadi pada 20 persen keluarga Suku Dayak Ngaju dapat diartikan sebagai konflik yang berfungsi positif. Yakni konflik sebagai proses yang bersifat instrumental dalam pembentukan, penyatuan dan pemeliharaan struktur sosial.
Dijelaskan, sikap beragama masyarakat Suku Dayak Ngaju dalam 3 kategori pandangan (eksklusif, inklusif dan pluralisme) 30 persen masyarakat berpandangan ekslusif, 20 persen berpandangan inklusif, 50 persen berpandangan pluralis. Keluarga yang berpandangan pluralis atau inklusif, hubungan antar umat beragama dalam keluarga selalu rukun, damai dan harmonis. Sedangkan keluarga-keluarga yang perpandangan eksklusif, cenderung berpotensi menimbulkan konflik antar agama dalam satu keluarga.
“Kalaupun terjadi konflik bisa rukun kembali. Keluarga-keluarga yang berpandangan inklusif dan eksklusif, pemahaman dan keyakinan terhadap agama yang dianutnya cukup baik dan taat dalam mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. Sedangkan keluarga-keluarga yang berpandangan pluralis cenderung kurang taat dalam menjalankan ajaran agama yang dianutnya,” ungkapnya.
Dari analisisnya juga, menurut promovendus, kerukunan antar umat beragama pada keluarga-keluarga Suku dayak Ngaju tercipta karena 3 faktor: Yakni adanya filosofi hidup Huma Betang, yang di dalamnya terdapat nilai-nilai kebersamaan, demokratis, persamaan (egaliter), toleransi, tolong menolong dan saling menghargai, kuatnya rasa kekerabatan (oloh itah) yang bersumber dari nilai-nilai adat belom bahadat dan pertalian darah, serta adanya persepsi atau sikap beragama yang inklusif atau pluralis. Serta tidak fanatik atau tidak ekstrem dalam beragama.
Faktor pertama, filosofi Human Betang dan faktor kedua, kuatnya rasa keberagamaan dan pertalian darah, menurut promovendus, adalah budaya dan tradisi Kaharingan. Karena bagi Suku Dayak Ngaju, budaya dan tradisi tidak bisa dipisahkan dari Kaharingan itu sendiri.
“Kajian Suku Dayak Ngaju bisa menjadi contoh bagi umat beragama di seluruh wilayah tanah air supaya tercipta kehidupan keberagamaan yang rukun dan harmonis dalam kebhinekaan,” jelasnya. (mar/hes/ong)