JOGJA – Interaksi sosial antara elite agama di Palangkaraya berpijak pada pola tertentu. Yang disebut pola interaksi “Solidaritas Integratif”. Yang ditandai dengan dengan beberapa nilai perekat antar elite agama. Yaitu : – Nilai Belom Bahadat, – Nilai Adil Ka’talino,- Nilai Belom Penyang Simpei,- Nila Spiritualitas Pancasila. Melalui pola-pola interaksi sosial inilah Kalimantan Tengah dan Palangka Raya dikenal dengan motto : Bumi Tambun Bungai Bumi Pancasila Bhineka Tunggal Ika.
Sementara, faktor yang mempengaruhi interaksi sosial para elite agama di Palangka Raya antara lain agama yang mengajarkan amar ma’ruf nahi munkar. Dimana tingkat pemahaman para elite agama dapat mempengaruhi interaksi para elite di lapangan. Kemudian faktor sosial budaya yang disebut Huma betang mengajarkan kebersamaan, kesetaraan, persaudaraan, kekeluargaan, musyawarah dan mufakat, perdamaian dan menentang kekerasan.
Selanjutnya, tingkat pendidikan yang mempengaruhi pola pikir dalam mensikapi perbedaan. Politik. Faktor politik juga berpengaruh. Kebijakan politik yang mempengaruhi langkah-langkah strategis, membangun interaksi antar elite agama menjadi sarana yang dapat digunakan oleh elite agama untuk menciptakan hubungan yang lebih harmonis. Keterlibatan elite agama dalam kegiatan politik dapat memberikan kemudahan dalam menyelesaikan masalah-masalah agama dan keagamaan.
“Sedangkan fktor ekonomi ikut mempengaruhi tingkat kesejahteraan masyarakat dalam rangka memenuhi kebutuhan pokok, serta kebijakan ekonomi yeng berpihak pada elite agama, namun elite agama tidak terlibat langsung dalam upaya pemberdayaan ekonomi umat, sehingga juga tidak secara langsung berpengaruh pada tingkat kesejahteraan elite agama itu sendiri,” kata Abubakar H. Muhammad, 60 saat ujian terbuka disertasi berjudul Interaksi Sosial Dalam Masyarakat Plural-Studi Tentang Hubungan Anter Elite Agama Di Palangka Raya Kalimantan Tengah di UIN Sunan Kalijaga Jogja, Jumat (18/12).
Abubakar menambahkan, pihaknya telah melakukan riset dengan pendekatan sosiologis. Sementara untuk menganalisis interaksi antar elite agama menggunakan teori interaksionisme simbolis paradigma definisi sosial. Sedangkan data tersaji melalui analisis diskriptif-interpretatif-interaksional. Sehingga lebih jauh promovendus berhasil mengungkap bahwa, interaksi yang harmonis antar elite agama di Palangka Raya berhasil menumbuhkan rasa saling menghormati dan menghargai perbedaan di kalangan masyarakat dengan agama yang berbeda-beda.
Di Palangka Raya ada Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) yang didalamnya aktif para elite dari berbagai agama yang berbeda. Mereka ini melalui program rutin dan berkala melakukan pembinaan kerukunan antar umat beragama, dengan tujuannya untuk mewujudkan harmonisasi lintas agama. Namun terkadang masih muncul konflik antar elite agama sendiri. Hal ini dipengaruhi oleh faktor dari luar, yang tidak sejalan dengan nilai-nilai budaya Huma Betang, yang dijunjung tinggi oleh para elite agama dan mesyarakat Palangka Raya, dan faktor pemahaman agama yang tidak proporsional yang memunculkan mis-komuniksi dalam memaknai sesuatu yang muncul di masyarakat Palangka Raya.
“Jika muncul mis-komunikasi antar elite agama, agar tidak melebar ke masyarakat biasanya diselesaikan dengan menumbuhkan pemahaman yang kolaboratif sampai terwujud kembali kebersamaan dan hubungan yang kundusif,” paparnya.
Di Palangka Raya tumbuh dan berkembang simbul simbul budaya, bahasa dan tempat-tempat ibadah yang tujuannya untuk memelihara kerukunan dan hormonisasi antar elite agama yang kemudian berkembang ke masyarakat antar pemeluk agama yang berbeda-beda. Simbul-simbul budaya diantaranya : -Batang Garing, yang menggambarkan keseimbangan hubungan antar manusia dengan manusia, manusia dengan alam semesta dan manusia dengan Sang Pencipta. – Simbul Betang, menggambarkan filosofi masyarakat multikultural, yang menghargai perbedaan, kejujuran, kebersamaan dan toleransi, kemandirian, persaudaraan dan kekeluargaan, serta musyawarah-mufakat. – Simbul Isen Mulang menggambarkan kecerdasan dan keuletan. – Simbul Belom Bahadat menggambarkan tatakrama, sopan-santun, menghargai profesionalisme dan memelihara moralitas.
Simbul-simbul bahasa, untuk menumbuhkan kebersamaan, misalnya, Adil Ka’talino, Bacuramin Ka’saruga, Basingat Ka’jubata, artinya salam sejahtera dan damai selalu. Tabe Salamat Lingu Nalatai Salam Sujud Karendem Malempang, artinya: selamat bertemu semoga dalam keadaan bahagia. Simbul-simbul rumah ibadah. Misalnya untuk menumbuhkan kerukunan dan kebersamaan, tempat-tempat ibadah dibangun dalam s atu kompleks yang berdekatan. Cara ini ternyata efektif. Masyarakat pemeluk agama berbeda bisa melakukan ibadah di tempat ibadah masing-masing tanpa menimbulkan konflik. Justru menciptakan kebersamaan dan harmonisasi. Disamping itu para elite agama di Palangka Raya saling proaktif membangun harmonisasi melalui dialog kemanusiaan dan dialog iman dan terbuka saling mengingatkan jika terjadi pelanggaran terhadap batas-batas yang harus dipelihara bersama.
Apa yang dilakukan oleh para elite agama di Palangka Raya ternyata juga sejalan dengan motto Kota Palangka Raya sebagai kota CANTIK (Terencana, Aman, Nyaman, Tertib, Indah dan Keterbukaan). “Apa yang diperjuangkan para elite agama di Kota Palangka Raya dapat dijadikan acuan untuk mengembangkan model interaksi bagi umat beragama di seluruh wilayah Indonesia yang plural ini,” ungkap bapak 5 putra dari istri Nanik Mulyati ini. (mar/hes/ong)