MAGELANG – KPU Kota Magelang dinilai kurang profesional. Beberapa rangkaian kegiatan gagal dan muncul masalah. Seperti debat publik yang tidak jadi dilaksanakan hingga kotak suara yang dibuka paksa menggunakan palu.
Kali ini, ada lagi insiden yang tidak mengenakkan dan menimpa Pasangan Calon (Paslon) Wali Kota dan Wakil Wali Kota Magelang Joko Prasetyo-Priyo Waspodo. Kejadian terjadi saat Rapat Pleno Penetapan Paslon Terpilih di Pendopo Pengabdian, kemarin (22/12).
“Kami tidak boleh masuk, karena kursi sudah penuh. Tidak masalah kok duduk lesehan, yang penting bisa masuk. Tapi, tetap dihalang-halangi. Padahal, di dalam banyak juga simpatisan dari Paslon Nomor 1 yang duduk. Ini aneh,” kritik Joko di luar pagar Pendopo Pengayoman.
Dalam rapat tersebut, Paslon Nomor Urut 2 Moch Haryanto-Agus Susatyo tidak hadir. Kegiatan dimulai saat rombongan paslon nomor 3 belum datang. Karena dilarang masuk, rombongan dari pasangan yang maju dari jalur independen ini memilih kembali ke poskonya di Ruko Cacaban.
“Kami mengindikasi ini ada settingan. Terutama oleh KPU. Sejak awal, kami mengindikasi KPU tidak netral. KPU bukan penyelenggara demokrasi, tetapi penyelenggara untuk mempertahankan kekuasaan,” sindir Joko.
Kegiatan ini menetapkan Paslon Nomor Urut 1 Sigit Widyonindito -Windarti Agustina sebagai pemenang dalam Pilkada serentak 9 Desember 2015 di Kota Magelang. Rapat Pleno yang dipimpin Ketua KPU Kota Magelang Basmar P. Amron mengadendakan pembacaan penetapan paslon terpilih.
Hadir Pj Wali Kota Magelang Rudy Apriyantono dan Forpimda lain, kecuali ketua DPRD,Ketua Panwaslu Kota Magelang Karno, dan segenap tamu undangan.
“Setelah kami tunggu, ternyata tidak ada sengketa yang dilaporkan ke Mahkamah Konstitusi (MK). Sekarang kami bacakan penetapan paslon terpilihnya. Ini kemenangan seluruh masyarakat Kota Magelang,” kata Basmar.
Terkait insiden di luar pendopo, Basmar mengaku tidak jadi masalah. Tidak hadirnya paslon nomor 3 dan nomor 2 tidak mengurangi keabsahan rapat pleno yang dihadiri sejumlah LSM, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan elemen masyarakat tersebut.
“Semua paslon dan ketua tim sukses diundang. Hadir atau tidak, terserah mereka. Kami mengundang 225 tamu dari berbagai elemen. Khusus simpatisan, tidak kami undang,” paparnya.
Ketua LSM LKOD Kota Magelang Abdurohman membenarkan, kursi-kursi di Pendopo Pengayoman banyak diisi simpatisan paslon nomor 1.
“Kami lihat kok, banyak simpatisan nomor 1 yang mengenakan batik bisa masuk dan duduk di kursi undangan. Jumlahnya kalau 30 orang ya lebih,” ungkap Abdurohman.
Pj Wali Kota Magelang Rudy Apriyantono memaparkan, ketiga paslon merupakan orang-orang yang luar biasa. Mereka diminati masyarakat. Terbukti tingkat partisipasi pemilih yang tertinggi kedua di Jateng setelah Boyolali dengan 75,15 persen.(dem/hes/ong)