RADAR JOGJA FILE
SIAGA: Sebagian besar warga yang bermukim di sekitar lereng Gunung Merapi sudah mendapatkan pelatihan kesiapsiagaan menghadapi bencana. Inilah pentingnya mitigasi bencana. Masyarakat harus siap menerapkan ilmu yang telah diajarkan jika sewaktu-waktu ada bencana.
SLEMAN- Dua kewaspadaan keamanan menjadi fokus perhatian Pemkab Sleman di penghujung 2015 ini. Ancaman itu adalah bahaya lahar hujan Gunung Merapi serta libur Natal dan pergantian tahun.
Ya, hujan deras yang mengguyur wilayah Sleman beberapa hari terakhir terdeteksi telah menyebabkan aliran lahar hujan dan mengisi kantong-kantong lahar di sungai berhulu puncak Merapi. Sebab, material vulkanik di puncak gunung paling aktif di Indonesia itu bisa setiap saat meluncur ke hilir.
Pejabat Bupati Gatot Saptadi mengingatkan masyarakat yang berdomisili di sepanjang sungai berhulu Merapi selalu waspada. Khususnya, mereka yang bermukim di kwasan sempadan atau bibir sungai. Jarak teraman sekurang-kurangnya 300 meter dari bibir sungai. “Ini pentingnya mitigasi bencana. Masyarakat harus siap menerapkan ilmu yang telah diajarkan,” tuturnya di sela cara pemusnahan barang bukti minuman beralkohol di Lapangan Pemda kemarin (22/12).
Selain itu, warga di lereng Merapi diminta sudi memanfaatkan semua sarana yang tersedia guna melaksanakan mitigasi bencana. Termasuk menyiapkan barak-barak pengungsian dan memaksimalkan tas mitigasi bencana yang berisi alat-alat standar keperluan hidup dalam kondisi darurat. “Harus itu. Warga mestinya sudah paham, sehingga kapan ada peringatan pemerintah, mereka harus siap,” ujar Gatot yang juga menjabat kepala pelaksana Badan Penanggulangan Bencna Daerah (BPBD) DIJ.
Saat ini ada lebih dari 400 kepala keluarga (KK) yang masih menghuni kawasan rawan bencn (KRB) 3. Mereka tersebar di tiga padukuhan di Desa Glagaharjo, Cangkringan. Yakni, Srunen, Kalitengah Lor, dan Kalitengah Kidul. Mereklah sasaran pemerintah yang harus mengoptimalkan ilmu mitigasi bencana.
Soal penambang pasir, Gatot tak ingin pemerintah kalah dengan kenekatan mereka yang menggntungkan hidup dari mengeruk pasir dan batu di aliran sungai. Sebab, tidak sedikit korban tewas karena nekat menambang saat hujan dan tidak menghiraukan peringatan petugas lapangan. Gatot meminta kesadaran warga penambang agar mengindahkan imbauan pemerintah. Setidaknya, mematuhi peringatan petugas.
Kepala BPBD Sleman Julisetiono Dwi Wasito mengatakan telah memasang sarana early warning sistem (EWS) dan lampu sorot di titik-titik rawan lahar hujan. Hanya, alat tersebut dioperasikan secara manual oleh warga setempat. Tidak secara otomatis berbunyi alarmnya saat ada bencana. “Prinsipnya, semua siap. Tim SAR dan relawan telah disiagakan on call setiap saat,” ujarnya.
Sementara itu, terkait pengamanan Natal dan pergantian tahun, pemkab bekerjasama mengamankan kawasan rawan macet dan tindak kriminal.
Pusat-pusat keramaian, perbelanjaan, dan objek wisata menjadi fokus utamanya.
Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informasi Agoes Soesilo Endriatno berencana menmbah rambu-rambu portabel di kawasan rawan macet. Agoes mengimbau para pengendara mobil mengambil rute jalan alternatif untuk menghindari kemacetan. “Kami akan lihat dulu situasinya. Jika krowdit, kami buat sistem buka tutup, jalur lalu lintas dialihkan sementara,” ucapnya.(yog/ong)