JOGJA – Pengelolaan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan, sampai saat ini masih bermasalah. Standar Kementerian Lingkungan, pengelolaan sampah dengan menggunakan sistem sanitary landfill sampai saat ini belum jelas. Alhasil, harapan kabupaten dan kota di DIJ untuk bisa mendapatkan Adipura harus dipendam. Lebih baik, mereka mengurangi volume sampah tiap hari yang terus bertambah.
“Lebih baik memanfaatkan sampah dengan mengembangkan bank sampah di masing-masing RW (Rukun Warga),” kata Kepala Bidang Pengembangan Kapasitas Lingkungan Hidup Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Jogja Ika Rostika, kemarin (22/12).
Ika menjelaskan, tahun 2016, BLH menargetkan di masing-masing RW di Kota Jogja sudah memiliki bank sampah. Sehingga, volume sampah dari Kota Jogja bisa berkurang. “Saat ini sudah ada 405 bank sampah. Bertambah 90 dari tahun lalu yang hanya 315 bank sampah di seluruh Kota Jogja,” tambahnya.
Dengan terus mensosialisasikan pentingnya pengurangan volume sampah, Ika optimistis, akhir 2016, sisa 212 RW bisa terealisasi memiliki bank sampah. Apalagi, saat ini semangat masyarakat untuk memanfaatkan sampah ini cukup banyak.
“Kepedulian sudah sangat banyak. Tinggal mendorong warga untuk memilah sampah,” tuturnya.
Dengan keberadaan bank sampah yang sudah mencapai 405, sampah di Kota Jogja memang berkurang. Tahun ini, volume sampah dari Kota Jogja hanya 240 ton. Padahal, tahun 2008 lalu, volume sampah mencapai 320 ton per hari.
Upaya pengembangan bank sampah dari BLH Kota Jogja ini mendapatkan apresiasi dari Sekretaris Kota (Sekkot) Kota Jogja Titik Sulastri. Dia melihat, tata lingkungan yang ada di Kota Jogja memang harus terus dikembangkan.
“Jika semua elemen masyarakat bersama-sama bekerja sama untuk membangun kelestarian lingkungan, penghargaan Adipura kembali ke Kota Jogja tinggal menunggu waktu,” ungkap Titik.
Mantan Asisten Sekretaris Kota (Assekot) II Bidang Administrasi ini menegaskan, kesadaran warga Kota Jogja terhadap lingkungan, cukup tinggi. Ini dibuktikan dengan parameter penilaian Adipura tahun lalu.
“Hasil evaluasi menunjukkan bahwa warga Kota Jogja memiliki kecintaan lingkungan yang tinggi,” tuturnya. (eri/jko/ong)