GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
DUKA MENDALAM: Istri dan anak almarhum Dwi Wanito Ambarwati dan Ega (digendong) saat menaburkan bunga.

Istri Sempat Pingsan, Orang Tua Ikhlaskan Kepergian Sang Anak

Duka mendalam sangat dirasakan keluarga dan kolega Kapten (Pnb) Dwi Cahyadi. Itu terlihat saat proses pemakaman kopilot pesawat T-50i Golden Eagle di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusumanegara, Umbulharjo, Jogja.
RIZAL SN, Jogja
ISTRI almarhum Kapten Penerbang (Pnb) Dwi Cahyadi, Dwi Wanito Ambarwati tiba-tiba jatuh pingsan seusai prosesi pemakaman suaminya di TMP Kusumanegara, Senin (21/12). Dia bahkan harus dibopong menuju tempat yang teduh. Keluarga dan kerabat terlihat te-rus mendampinginya untuk memberikan dukungan
Pemakaman kopilot pesawat T-50i Golden Eagle berlangsung secara militer, kemarin. Upa-cara dipimpin inspektur upa-cara Danlanud Adisutjipto Marsma Imran Baidirus. Dua kali letupan tembakan salvo dari delapan tentara TNI mengi-ringi pemakaman almarhum.Secara perlahan, peti dimasuk-kan ke liang lahat. Jenazah dikuburkan menempati makam bernomor F-1942.
Ikut secara simbolis menutup liang lahat Danlanud Adisutjipto Marsma Imran Baidirus dan ayah korban Suciyono mewakili keluarga. Ke-mudian dilanjutkan prosesi pena-buran bunga dari pihak keluarga.Kesedihan mendalam begitu dirasakan keluarga. Sejak tiba di TMP, ibunda dan istri almar-hum beberapa kali mengusap air matanya.
Sang ayah Suci-yono pun seperti masih belum percaya anak keduanya itu gugur dalam tugas.Sang ibu, Ponirah, mengaku, masih terpukul atas kepergian putranya. Karena Sabtu (19/12) kemarin, mereka masih berceng-kerama dan bergembira di Ge-byar Dirgantara Yogyakarta 2015.”Masih foto-foto di dekat pe-sawatnya setelah dia turun. Be-ratraksi bagus, bahkan ngajak ayahnya naik pesawat. Tapi yang terbang kedua mendapat mu-sibah seperti ini,” ujarnya seusai pemakaman.
Meskipun sangat terpukul, orang tua korban mengikhlaskan kepergian putra keduanya ter-sebut. “Allah sudah menghenda-ki seperti itu, walaupun belum sampai tua sudah dipanggil. Saya juga bangga anak saya gugur saat bertugas demi negara,” ujar ibunda almarhum.
Danlanud Adisutjipto Mars-ma Imran Baidirus mengata-kan, almarhum adalah sosok teman, junior dan kolega yang enak diajak bekerjasama dan kooperatif. “Salah satu yang terbaik. Selama ini selalu me-nampilkan yang terbaik dalam tugas,” terangnya.Sementara itu, TNI AU akan memberikan santunan dan ja-minan pendidikan kepada kedua putra almarhum. Termasuk kemungkinan memberikan pen-ghargaan kenaikan pangkat satu tingkat kepada kopilot pe-sawat T-50i Golden Eagle itu.Imran mengungkapkan, dari Mabes TNI AU akan memikirkan lebih lanjut. Ada santunan, juga hak prajurit kepada keluarga. “Tadi pagi (kemarin kepala staff TNI AU sudah ke rumah duka. Ada hak prajurit kepada kelu-arga, termasuk dipikirkan biaya pendidikan anak-anaknya,” katanya kepada wartawan seu-sai pemakaman.Imran menambahkan, tim in-vestigasi sudah mulai bekerja sejak Minggu (20/12) kemarin.
Termasuk mencari fakta-fakta di lapangan. Hal itu yang nantinya menjadi dasar membuat analisis tentang penyebab kecelakaan. Dijelaskan, bangkai pesawat te-lah dievakuasi dan dibawa ke Lanud Adisutjipto. “Hari ini (kemarin) telah dievakuasi se-mua. Kemarin kita biarkan apa adanya agar tim dalam melihat fakta yang ada tetap objektif, dan melakukan dokumentasi,” terangnya. (ila/ong)