DWI AGUS/RADAR JOGJA
DIDOMINASI PEMAIN MUDA: Kelompok seni jathilan Kuda Narpati dari Kralas Wetan, Candes Jetis, Bantul, unjuk gigi dalam Gelar Seni Tradisi Pura Pakualaman. Saat ini, pelestari jathilan didominasi penggawa muda.
JOGJA – Sebagai kesenian rakyat, jathilan sukses dalam malakukan regenerasi. Bahkan (saat ini), ada kecenderungan bahwa seni kerakyatan ini terus diisi oleh para pelestari muda. Salah satunya adalah kelompok kese-nian jathilan Kuda Narpati dari Kralas Wetan, Candes Jetis, Bantul. Kelompok ini didominasi oleh penggawa muda, hingga 85 persen dari total anggotanya.
Sebagai wujud pelestarian, Kuda Narpati unjuk kesenian di Alun-Alun Sewandanan Pura Pakualaman, ke-marin. Membawakan lakon Ramayana, para penggawa terlihat lihai dalam membawakan kesenian ini. Pemen-tasan ini dalam rangka Gelar Seni Tradisi Pura Pakualaman.”Anggota kami saat ini sebanyak 40 orang, yang didominasi generasi muda. Minat anak muda untuk melestarikan memang sangat tinggi. Bahkan tanpa kita tawari, memiliki kesadaran untuk melestarikan kesenian ini,” kata Ketua Kelompok, Sumarji ditemui sebelum pentas.
Sumarji mengungkapkan, kesenian jathilan hidup dengan baik di desanya. Kelompok pelestari jathilan ini, se jatinya telah ada sejak puluhan tahun lalu. Namun secara adiministrasi baru ter-daftar di tahun 1999.Beragam upaya untuk melestarikan sudah dilakukan sedari dini. Terutama mengenalkan kepada anak-anak tentang kesenian jathilan. Penggawa kelompok ini, terdiri dari beragam latar belakang. Bahkan anggota paling muda duduk di bangku SMP kelas 1.”Kalau untuk pentas, biasanya di hajatan warga. Sementara untuk latihan rutin sebulan sekali. Iklim seni di desa sangat mendukung pelestarian. Kita sebagai orangtua, tetap mendampingi dan menjaga,” ungkap Sumarji.
Sejarah berdirinya kelompok ini cukup berliku. Para penggawa sempat ber jualan batu bata untuk menghidupi kesenian ini. Tujuannya agar dapat membeli beragam perlengakan jathilan. Bahkan kelompok ini sempat ngamen di era tahun 2000-an. Namun kini dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, kelompok ini mampu bertahan. Meski mengusung seni kerakyatan, wujud dinamis tetap dikedepankan.”Membuka pola pandang dengan adanya dinamika saat ini. Tetap berakar pada tradisi, tapi mengusung unsur kebaruan. Selain itu para penggawa juga dituntut multi talent. Para penari harus bisa menjadi wiyaga begitu juga sebaliknya,” kata Bendahara kelompok Widayati.
Penanggung jawab gelar seni RM Donny Surya Megananda mengung-kapkan, Pakulaman konsisten men-dukung kesenian rakyat. Gelaran rutin ini sempat berhenti ketika Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Sri Paduka Pakualam IX meninggal dunia, 20 November lalu. Namun atas seijin Kanjeng Bendoro Pangeran Haryo (KBPH) Suryodilogo, gelaran ini kembali diadakan. Menurut Donny, sang Pangeran Pati berharap pentas kesenian ini tetap berlanjut. Pasalnya kesenian ini telah menjadi bagian penting dari masyarakat.”Beliau (KBPH Suryodilogo) berpesan agar gelar kesenian harus tetap dihelat. Banyak yang mendapatkan manfaat dari gelaran ini, mulai dari seniman, penonton hingga para pedagannya. Ini juga sesuai semangat Pakualaman dalam melestarikan kesenian tradisi maupun kerakyatan,” ungkapnya. (dwi/jko/ong)