KEHILANGAN SUAMI TERCINTA: Dian Ambarwati (tengah), istri LetkoL (Pnb) Marda Sarjono saat tiba di Kompleks RS TNI AU Hardjolukito Jogja. Foto kanan, Dwi Wanito Ambarsari (tengah) istri almarhum Kapten (Pnb) Dwi Cahyadi.
SEJAK akhir 2013, 16 pesawat T-50i Golden Eagle buatan Korea Aerospace Ind. Ltd secara ber-tahap tiba di Indonesia. Secara resmi Kementerian Pertahanan memberikan pesawat latih ini ke TNI AU sebagai pengguna tanggal 13 Februari 2014.Pesawat T-50i merupakan pe-sawat jet serang ringan. Pesawat ini juga biasanya digunakan sebagai pesawat latih lanjutan bagi penerbang tempur.
Pesawat ini mampu terbang dengan kecepatan 1.600 km per jam. Sosoknya terlihat ramping dengan spesifikasi panjang 43 kaki, lebar sayap 31 dan tinggi 16 kaki. T-50i juga mampu mengu-sung persenjataan seberat 10.500 pound. Termasuk gatling gun tiga laras yang bisa me nyemburkan 2.000 peluru per menit serta aneka rudal dan roket.T-50i versi pesawat latih dicat biru terang dengan strip berwarna kuning. Sementara versi tempur, dicat hijau dan abu-abu seperti F-16 block 52 ID yang didapat dari AS. Pesawat-pesawat T-50i didatangkan sebagai ganti pesawat Hawk MK 53 yang dipensiunkan.
Saat Hawk MK 53 dipensiunkan 23 Agustus 2015 lalu, yang me-nerbangkan dari Lanud Iswa-hjudi Madiun adalah Letkol Marda Sarjono. Saat itu ia men-gungkapkan, lahir dan bermula menjadi penerbang dengan menggunakan Hawk MK-53. “Dan sebagai komandan skua-dron saya menjadi yang terakhir menerbangkan dari Madiun ke Jogja. Pesawat ini lahir di sini, ke Iswahyudi dan sekarang kem-bali lagi ke sini,” ujarnya kepada Radar Jogja saat itu.Dalam pemeriksaan terakhir, kata Marda, Hawk MK-53 sebe-narnya masih layak terbang bahkan hingga 200 jam terbang lagi. Namun mengingat kondisi-nya yang sudah lanjut dan saat ini telah ada pesawat peng-ganti T-50i Golden Eagle, maka setelah instruksi dari pimpinan, segera dipensiunkan.
Hawk MK-53 pertama didatan-gkan ke Indonesia sejak tahun 1980 dari Inggris. Dan berturut-turut sampai berjumlah 20 buah di tahun 1984. Seiring berjalannya waktu, beberapa pesawat men-galami kerusakan, ada yang di-kembalikan ke pabriknya, se-hingga saat ini Hawk MK-53 dengan tail number TT-5309 itu menjadi satu-satunya yang tersisa.”Saat saya bawa dari Madiun 12 Maret 2015 lalu, pesawat ini sudah enam bulan tidak terbang. Tapi setelah dicek, ternyata me-sin, hidrolik, elektrik dan ke-seluruhannya tidak ada masalah,” terangnya.Bersama Hawk MK-53, ia mengaku telah melalui lebih dari 1.500 jam penerbangan, hingga terjauh ke Jayapura, Pa-pua. Termasuk juga saat terjadi-nya ketegangan di Timor-Timur pada 1999-2000, pesawat terse-but juga ikut dalam operasi itu. (riz/laz/ong)