KEHILANGAN SUAMI TERCINTA: Dian Ambarwati (tengah), istri LetkoL (Pnb) Marda Sarjono saat tiba di Kompleks RS TNI AU Hardjolukito Jogja. Foto kanan, Dwi Wanito Ambarsari (tengah) istri almarhum Kapten (Pnb) Dwi Cahyadi.
HUJAN deras menyambut kedatangan jenazah co-pilot pesawat T-50i Golden Eagle Kapten Dwi Cahyadi, 32, di rumah duka, Jalan Kepuhsari, Dusun Paingan, Maguwoharjo, Depok Sleman, Minggu (20/12) sore. Jenazah dibawa dari Rumah Sakit Harjolukito dengan kereta jenazah TNI AU dan sampai sekitar pukul 17.00 WIB.Peti jenazah yang dibungkus bendera Merah Putih lalu di gotong oleh personel TNI AU ke dalam ruangan di samping ruang tamu. Ayah almarhum, Suciono, 57, tak kuasa menahan kesedihan ditinggal anak keduanya itu. Ia bahkan sampai harus dipapah oleh seorang kerabatnya memasuki rumah
Ia menerima ucapan duka cita dari para kerabat yang te-lah datang sejak siang. Ibunda tiri korban, Ponirah, 68, bahkan berkali-kali menyeka air ma-tanya. Ia mengingat selang sehari sebelumnya masih ber-temu dengan korban di Lanud Adisutjipto.Saat itu, Sabtu (19/12) pagi keluarga bertemu di acara Ge-byar Dirgantara Yogyakarta 2015. “Kemarin ada atraksi dari pagi keluarga sudah datang, kita foto-foto bercanda. Kita masih nungguin sampai dia turun terus selesai, pulang. Terus hari ini (kemarin, Red) dia bilang mau terbang jam 9,” ujar Ponirah kepada wartawan.
Minggu (20/12) pagi, Ponirah tidak sempat menemui putra tirinya yang dibesarkannya sejak masih bayi itu. Karena ada ke-rabat yang meninggal dan ia harus melayat sebentar. “Dia bilang jam 10.00 mau terbang. Saya barusan berangkat, sempat lihat dari perjalanan di rel ke-reta sudah lihat asap tinggi,” ungkapnya.Ia mengingat anaknya ingin sejali melanjutkan pendidikan ke Jerman. Menurutnya, Dwi adalah anak yang cerdas dan berprestasi. “Baru naik pangkat April lalu,” katanya.
Sementara itu kakak korban, Bripka Eddy Cahyono, 33, mengatakan, adiknya terma-suk anak yang penurut dan rajin. Saat remaja seusianya sudah merokok, adiknya tidak pernah merokok. Ia juga ter-masuk anak yang cerdas sejak SMA di SMA 9 Jogja.Ranking satu terus. Anaknya pintar dan pendiem. Itu juga yang membuat istrinya sekarang senang dengan adik saya,” imbuh Eddy.Kapten Dwi Cahyadi adalah Lulusan AAU tahun 2005. Ia lalu melanjutkan ke Sekolah Penerbang angkatan 74 dan lu-lus pada 2007. Ia juga sempat menempuh pendidikan Kibi AAU dan Separadas TNI AU. Pangkat terakhirnya adalah kapten yang diangkat pada 1 April 2013.Selepas lulus dari sekolah pe-nerbang hingga sebelum mening-gal, ia bertugas di Lanud Iswa-hjudi Madiun. Sebagai lima terbaik lulusan sekolah penerbang, Dwi masuk menjadi penerbang pesawat tempur. “Sebelum men-jadi pilot T50i dia menjadi pilot MK 53 Hawk yang saat ini telah dipensiunkan,” ujar Eddy.
Sedari kecil, Dwi memang te-lah bercita-cita sebagai pilot. Itu terlihat dari saat kecil, ia sangat senang menggambar pesawat. Bahkan ia sempat mengajak ayah, istri dan anaknya naik pe-sawat. “Kalau jadi pilot katanya ada kebanggan kalau dapat me-lewati di atas rumahnya sen-diri. Itu sempat diucapkan ke orang tuanya,” jelas Eddy yang sehari-hari bertugas di PJR Polda DIJ ini. Rencananya, jenazah Kapten Dwi Cahyadi akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusumanegara pukul 10.00 WIB. Meskipun sebelumnya diren-canakan akan dimakamkam satu liang lahat dengan ibu kandungnya, Anjarniati. “Sesuai pesan istrinya, karena gugur da-lam tugas makanya dimakamkan di TMP,” terang Eddy.
Kapten Dwi adalah putra kedua dari pasangan Suciyono dan almarhum Anjarniati. Ibu kandungnya meninggal setelah melahirkannya. Ia kemudian diasuh oleh Ponirah yang ke-mudian menjadi ibu tirinya. “Ibu sambung yang merawat sejak kecil, yang paling dekat dengan almarhum,” kata Eddy.Dwi meninggalkan satu kakak dan satu adik, yakni Eddy Cahyono dan Mei Puspitasari. Serta seorang istri, Dwi Wanito Ambarsari, dan dua putra yang masih berusia lima tahun dan 2,5 tahun. (riz/laz/ong)