SETIAKY/RADAR JOGJA
DISALATKAN: Dwi Wanito Ambarsari istri Kapten Dwi Cahyadi mencium peti jenazah almarhum, sebelum disalatkan di Masjid Al Taqwa, Kompleks RS TNI AU Hardjolukito, Jogja, kemarin (20/12).

Finarsih Tak Menyangka Konco Golek Iwak Itu Telah Tiada

Gugurnya Letkol (Pnb) Letkol Marda Sarjono dan Kapten Dwi Cahyadi dalam musibah jatuhnya pesawat T-50i Golden Eagle saat akrobatik udara di langit Lanud Adisutjipto kemarin, meninggalkan duka mendalam orang-orang terdekatnya. Mereka menilai almarhum adalah pribadi yang baik semasa hidupnya.
DEWI SARMUDYAHSARI, Sleman
DUKA mendalam juga dirasakan mantan srikandi bulutangkis Indonesia, Finarsih. Fina, panggilan akrabnya, tak lain adalah kakak sepupu dari almarhum Letkol (Pnb) Marda Sarjono. Jarak usia yang tidak terpaut jauh, membuat Fina cukup dekat dengan sepupunya yang dikenal sangat baik dan ramah ini.”Waktu kecil teman golek iwak (cari ikan, Red),” ujar Fina mengenang sang adik sepupu.
Dikatakan, meski tidak banyak waktu dihabiskan dengan sang sepupu, namun saat bersama selalu menjadi momen membahagiakan. Saat dirinya digembleng di Pelatnas misalnya, Fina mengaku kerap menginap di rumah almarhum di Jakarta. Demikian pula sebaliknya saat almarhum masih men-jadi taruna AAU, almarhum juga kerap me nginap di rumahnya di kawasan Godean.
Pertemuan terakhir Fina dengan almarhum, seingatnya di bulan Februari 2015 lalu. Di acara keluarga itulah Fina bertemu dengan sepupunya ini”Saat itu, ya dia cerita dan minta doa restu karena mau naik pangkat,” ungkapnya.
Fina mengatakan, almarhum sejak kecil memang memiliki ketertarikan pada dunia dirgan-tara. Ditinggal pergi oleh sang ayah (yang juga tentara dan gugur saat bertugas di Timor-Timur sekitar tahun 1976) se-waktu almarhum masih kecil, tidak membuatnya trauma. “Orangnya memang baik, penuh semangat, dia juga tulang punggung keluarga. Sekarang memang sedang nanjak- nanjaknya, tapi Tuhan ber-kehendak lain,” tambah Fina.
Bersama keluarganya, Fina akan menyusul ke Madiun pada Senin (21/12) pagi ini untuk mengikuti prosesi pemakaman. Almarhum meninggalkan seorang istri dan tiga anak yang berdo-misili di Madiun.
Lalu, bagaimana dengan sosok Kapten (Pnb) Dwi Cahyadi? Radar Solo (Jawa Pos Group) beberapa waktu lalu sempat mewancarai almarhum dan menurunkan berita dalam bentuk boks ter-sebut di harian itu.
Disebutkan, kekonsistensinnya menjadi sorang pilot membuah-kan hasil memuaskan. Berkat keahliannya itu, sudah banyak negara-negara yang dilalui. Dwi pernah melaksanakan exchan-ge cadet antara AAU dan ROKAFA (Republic of South Korea Air Force Academi) di Korea selatan selama satu minggu.
Pria berbadan tegap, besar dan senyum penuh percaya diri itu diperlihatkannya ketika ber cerita banyak hal tentang pengalaman-nya terbang di atas langit menge-mudikan pesawat. Memorinya berputar mengingat di mana ia pertama kali terbang sampai menjadi seorang Komandan Flights Ops C untuk menjadi instruktur penerbang dan tes pilot di pesawat Hawk Mk 53 di Skadron Udara 15, Lanud Iswah-yudi, Madiun.
Adrenalinnya meningkat saat terbang pertama. Pria kelahiran Sleman 6 Juli 1984 ini pun sa ngat bersyukur atas karunia yang diberikan Tuhan YME. Bagai-mana tidak, sebelumnya tidak terbayangkan oleh Dwi Cahya-di jika ia bisa melangkah sebagai seorang penerbang.”Saya dulu hanya anak seorang pensiunan sopir PNS di Jogja, tapi bisa melangkah dan membang-gakan orang tua,” jelasnya.
Demi mewujudkan cita-citanya sebagai seorang pilot, ia memutuskan untuk mendaftar di Akademi Angkatan Udara (AAU). Dwi lulus tahun 2005 dan dilantik di AAL Surabaya oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.Setelah itu, Ia mengikuti se-leksi di sekolah penerbang TNI AU dan mejadi siswa sekolah penerbang angkatan 74. Saat itu Ia terbang dengan pesawat AS202 Bravo (buatan Swiss) dan T34 Charlie buatan Amerika. “Lulus tahun 2007 dan selanjutnya ber-dinas di Skuadron Udara 15 Lanud Iswahjudi, melanjutkan pendi-dikan transisi pesawat tempur Hawk Mk 53 (buatan Inggris) selama lima bulan,” paparnya.
Saat menjalani pendidikan, ia mengaku selalu bersemangat untuk bangun pagi dan menja-lani setiap perintah instruktur dengan baik. Lantaran kedisipli-nannya itu, ia berhasil mencapai target sampai sekarang. Matanya menatap dalam ke-tika bercerita perasaannya yang campur aduk ketika ikut dalam latihan menjaga perdamaian Khaan Quest 2012 di Mongolia dengan TNI AL dan TNI AD. Pelatihan itu berlangsung satu bulan. Peserta pelatihan berasal dari berbagai negara seperti USA, Korea Selatan, India, Kamboja, Mongolia dan Indonesia. Selain itu, Dwi juga pernah melak-sanakan kursus G-FET di Singa-pura dan patroli udara gabungan CMPT (Combine Maritime Patrol Training) menggunakan pesawat Fokker F-50 Singapura di area perbatasan udara Indonesia-Singapura dan Malaysia.
Ia menceritakan tahun 2012 mengikuti pendidikan Sekolah Instruktur Penerbang TNI ang-katan 68 menggunakan pesawat KT-1 Woong Bee (buatan Korea Selatan) dan lulus sebagai in-struktur penerbang ke 777 dan mendapat Call Sign Jupiter 777. “Selanjutnya tahun 2013 saya ditugaskan kembali di Skuadron Udara 15 sebagai Komandan Flights Ops C untuk menjadi instruktur penerbang dan tes pilot di pesawat Hawk Mk 53. Lalu, mengawaki pesawat T-50i Golden Eagle, pesawat baru dari Korea Selatan,” ungkapnya.
Dwi merupakan siswa lokal yang dididik oleh instruktur T-50i yang sebelumnya telah melaksanakan pelatihan di Korea selama de-lapan bulan. Ia melaksanakan pendidikan konversi di T50i dan total jam terbang keseluruhan 1.300 jam terbang. (Dilengkapi Ryantono dari Solo/laz/ong)