KENANG SANG MAESTRO: Penampilan keluarga Basiyo yang membawakan judul Milik Kecelik dalam Parade Dagelan Mataram karya Basiyo di TBY, Jumat (18/12) malam.

Parade Dagelan Mataram Menobatkan Basiyo sebagai Maestro

Sosok pelawak Basiyo memang fenomenal dalam dunia seni, khususnya lawak di Indonesia. Salah satu produknya yang terjaga hingga saat ini, adalah Dagelan Mataram. Sejumlah seniman lawak Jogjakarta pun menghidupkan sosok Basiyo dalam Parade Dagelan Mataram karya Basiyo.
DWI AGUS, Jogja
TAMAN Budaya Yogyakarta (TBY) kembali menjadi saksi keperkasaan seorang Basiyo, Jumat malam (18/12). Setelah sempat menampilkan film drama dokementer Mbarang Kahanan bulan September lalu, kali ini menampilkan Parade Dagelan Mataram. Sosok Basiyo tetap menjadi foKus utama dalam pementasan ini.Aksi para seniman Jogjakarta ini tersaji se-lama dua hari, Jumat (18/12) dan Sabtu (19/12) kemarin di Concert Hall TBY. Pementasan ini sekaligus memberikan gelar maestro ke-pada Basiyo. Gelar ini diberikan TBY atas perannya membesarkan Dagelan Mataram.”Seorang Basiyo bisa digolongkan sebagai maestro dunia lawak. Ciri khas dirinya da-lam melawak tetap lestari hingga saat ini. Mulai dari pangkur jenggleng, srimulat, hingga stand up comedy mengadaptasi gaya Basiyo. Maka gelar maestro buat beliau sudah sangat pas,” kata Kepala Dinas Kebuda yaan DIJ Umar Priyono yang turut hadir, Jumat malam (18/12)
Pementasan turut melibatkan keluarga besar Basiyo. Sang anak Harto Basiyo mengaku senang atas penghargaan maestro ini. Menurutnya, gelar ini merupa-kan penghargaan bagi sosok Basiyo dan keluarganya.Menurutnya, sang bapak ada-lah panutan baik dalam ke luarga maupun dunia komedi. Salah satu kenangan yang tak terlupa adalah pengabdian beliau. Totalitas dalam melakoni dunia lawak tak diragukan lagi. Meski terkadang bayaran untuk meng-hibur penonton tidaklah seberapa.”Bapak itu tidak peduli baya-rannya berapa, yang penting datang dahulu. Bagi beliau ter-penting bisa menghibur penon-ton. Selalu berpesan jiwa seni kalau kerja harus beneran. Jika dilakoni, maka bisa menghidu-pi. Sedikit atau banyak hasilnya, nanti dulu. Yang penting jangan sembrono,” kenangnya.
Dia berharap, dengan adanya gelar ini, sosok Basiyo akan terus hidup. Tidak hanya dikenang semasa hidup, juga karya-karya-nya. Terutama keinginan untuk selalu menghibur melalui dunia seni, selain totalitas dalam men-jalani segala bentuk profesi.”Melestarikan dagelan Mataram dan tetap mengenang Pak Basiyo. Tidak hanya pemerintah, tapi seluruh masyarakat tetap me-lestarikan. Terutama gaya bapak dalam menyikapi kehidupan melalui guyonan. Kritik sosial dengan cara yang menghibur,” harap Harto.
Hari pertama menampilkan lima kelompok. Diawali oleh keluarga besar Basiyo dengan judul Milik Kecelik. Harto sen-diri berperan menjadi sosok ayahnya, Basiyo. Penonton yang hadir pun dibuat terpingkal-pingkal dengan ragam guyonan keluarga besar Basiyo.Aksi selanjutnya tak kalah he-boh dengan tampilnya Mar-woto dan teman teman. Suasa-na semakin geeer karena kelom-pok ini berisikan sesepuh dunia seni dan lawak Jogjakarta. Selain Marwoto, turut hadir Susilo Nugroho, Yu Beruk, dan Yati Pesek. Kelompok ini hadir dengan lakon Popok Wewe.”Improvisasi Mbah Basiyo itu sangat dahsyat. Bahan lawakan susah ditebak tapi mudah di-mengerti pendengar. Memiliki imajinasi tinggi, bahannya sur-prise dan selalu baru. Jika kita mendengarkan setiap kasetnya, pasti bahannya berbeda dan segar,” kesan Marwoto.
Narasumber program Indra Tranggono menilai Basiyo adalah sosok yang visioner. Meski gaya lawakannya tergolong gaya lawas, tetap payu hingga saat ini. Ini terlihat dalam gaya komedi saat ini yaitu stand up comedy.Indra melihat ciri khas dari stand up comedy mirip dengan lawakan Basiyo, yaitu gaya mo-nolog. Gaya ini oleh Basiyo dikenalkan dengan nama ngu-darasa. Materi yang dibawakan pun tak jauh dari kehidupan sehari-hari. “Kalau kita cermat pasti ada yang mirip dalam gaya lawakan beda generasi ini. Mengangkat fenomena sehari-hari menjadi materi lawakan. Ada kritik so-sial yang disampaikan dengan gaya yang nyentil. Mengajak tertawa sejatinya wujud kritik yang satir,” ungkapnya.
Hal ini juga diamini oleh sang anak Harto Basiyo. Di mana ngu-darasa sudah menjadi bagian dari gaya lawakannya. Tidak ha-nya mengajak tertawa, tapi me-nertawakan fenomena yang ada. Oleh Basiyo pengalaman hidup dikemas menjadi lakon yang menghibur. Lakon ini pun men-jadi favorit, bahkan kasetnya diburu oleh pendengarnya. Hal ini menurut Harto, karena ada kedekatan pengalaman empirik penggemar dengan cerita sang bapak.”Ciri khas bapak itu ngudara-sa dan berbagi tentang penga-laman hidup. Kadang mengkri-tik, tapi juga menertawakan hidupnya sendiri. Bapak orang-nya serius, jarang bercanda ka-lau di rumah. Tapi anehnya dapat membuat orang lain ter-tawa,” kenang Harto.Selain Harto Basiyo dan kelom-pok Marwoto, malam itu (18/12) juga menampilkan tiga kelompok lainnya.
Seperti Joned dan kelom-pok sebagai perwakilan Kota Jogja dengan lakon Umuk Ke-blusuk. Selanjutnya grup dari Kabupaten Bantul dalam lakon Goro-Goro Berlian dan ditutup oleh grup Hasmi dengan lakon Gandrung Kepentung.Sedangkan tadi malam (19/12) penampilan semakin gayeng dengan hadirnya grup Essem dengan lakon Sam Pek Eng Tay.
Penampil kedua grup Jampi Puyeng dari Kabupaten Gunung-kidul dengan lakon Dadung Kepuntir.Dilanjut grup dari Kabupaten Sleman membawakan Gatot-koco Gandrung. Selanjutnya grup dari Kabupaten Kulonprogo dengan lakon Basiyo Mbecak. Ditutup oleh grup mBeling dengan lakon Joko Bodho.”Lakon-lakon yang dipilih merupakan karya dari Basiyo dan populer. Dengan adanya page-laran ini, berharap masyarakat bisa mengenal dan mengingat siapa sosok Basiyo sebenarnya. Dikemas oleh teman-teman pelawak dan juga perwakilan Kabupaten dan Kota di Jogja-karta,” kata kepala TBY Diah Tutuko Suryandaru. (jko/ong)