SLEMAN – Antusiasme masyarakat untuk me-nyaksikan Gebyar Dirgantara Yogyakarta 2015, Sabtu (19/12), sangat luar biasa. Sejak pagi hingga siang, pengunjung tidak putus mengantre me lalui pintu masuk Pos Karangjambe dan Santan.Bahkan pengunjung yang datang dengan roda dua dan roda empat, sudah harus ber-jalan kaki sejak Museum Dirgantara hingga lokasi di Taxy Way Lanud Adisutjipto.Acara yang baru pertama kali digelar tersebut, merupakan bagian dari memperingati hari lahir Sekolah Penerbang TNI Angkatan Udara pada 15 November 1945. Usia ini bahkan lebih tua ketimbang TNI AU sendiri, yang baru lahir pada 9 April 1946.”Jogja ada lembaga pendidikan AU dan se kolah penerbangan. Itu bisa dikembangkan sebagai pusat kedirgantaraan, ini bisa kerja sama dengan pemda untuk menggelar program, semisal setahun sekali,” kata Gubernur DIJ Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X seusai membuka acara tersebut, Sabtu (19/12) kemarin
Menurut HB X , tidak menutup-kemungkinan dilakukan MoU antara pemda dan Lanud Adi-sutjipto, sehingga masyarakat sipil juga dapat dilibatkan. Ter-masuk apabila dikelola men-jadi kegiatan wisata tahunan.Komandan Lanud Adisutjipto Marsma Imran Baidurus me-ngatakan, acara bertemakan Adisutjipto Air Force Open Base, bertujuan mendekatkan diri dengan masyarakat. Sehingga masyarakat lebih banyak tahu tentang Lanud Adisutjipto. “Yang belum mengenal, bisa tahu lebih dalam apa yang kami laksanan. Selain juga mening-katkan minat dirgantara, agar lebih dikenal, akan lebih cinta dengan TNI AU,” terangnya.Setelah prosesi pemotongan tumpeng oleh gubernur yang diberikan kepada Danlanud, pertunjukkan pun dimulai. Diawali dari pertunjukan terjun payung dengan membawa bendera. Puluhan penerjun ber-usaha mendarat di lapangan Jupiter Lanud Adisutjipto.
Saat itu, langit seperti dipenuhi oleh para penerjun dari TNI AU itu. Selanjutnya berturut-turut men-darat pesawat-pesawat F16 TNI AU yang berangkat dari Skadron Udara Iswahjudi Madiun. Belasan pesawat itu dipimpin Flight Leader Letkol Pnb M. Anjar Le-gowo. Kontan saja, begitu selesai landing, mereka diserbu ma-syarakat untuk berfoto.”Semua lahirnya di sini, bisa jadi ini reuni. Semua penerbang AU brojolnya (lahirnya) di Adis-utjipto. Kesannya bagus, agar kita semakin dekat dengan ma-syarakat. Tadi berangkat dari Madiun 08.30, karena landasan-nya pendek sama dengan di Pekanbaru mengefektifkan pengereman aja,” terang pener-bang dengan nama Dragon Zero-Zero yang memiliki lebih dari 2.500 jam terbang itu.
Setelah itu, tampil berikutnya adalah atraksi 6 pesawat dari Jupiter Aerobatik Team. Penonton tidak berhenti berdecak kagum. Deru pesawat KT 1 Wongbee buatan Korea menggelegar di langit Jogja-karta. Enam pesawat itu selama 18 menit beratraksi membentuk 15 formasi manuver. Diawali dengan Jupiter Roll. Yaitu enam pesawat terbang beriringan, lalu secara bersam-aan berputar 360 derajat di tengah-tengah. Ada pula Screw Roll. Dalam ma-nuver ini tiga pesawat terbang lurus bersamaan, lalu ada satu pesawat yang berputar memilih menge-lilinginya dari bekakang ke depan. Selanjutnya atraksi dua pesawat membuat formasi bentuk hati. Mula-mula kedua pesawat terbang bersamaan dari bawah ke atas. Lalu berpencar ke dua arah ber-beda lalu berputar kembali ke ba-wah, sehingga membentuk gambar hati dengan asap berwarna-warni.Tepuk tangan membahana seketika saat mereka menyele-saikan satu manuver. Tak henti pula pengunjung mengabadikan dengan kamera berlensa tele, maupun sekadar kamera ponsel.”Untuk acara ini persiapan kita sejak bulan Oktober dengan beberapa program latihan pe-nerbangan. Di ultah ke-70 Sekbang AU yang paling tua dan mence-tak ribuan penerbang, harapan-nya memberikan hiburan dan semakin dicintai dan dekat ma-syarakat,” kata Leader Jupiter One Letkol Pnb Sri Raharjo.
Dia mengakui, dalam semua manuver ada kesulitan masing-masing. Namun dari semua itu, manuver terakhir yang menurut-nya bisa jadi paling sulit.”Manuver Bomb-Burst, lima pesawat terbang ke atas, lalu berputar turun kemudian me-mecah ke beberapa penjuru. Kita dituntut harus saling percaya satu sama lain,” imbuhnya.Dia mengaku bersyukur, atrak-si dari Tim Jupiter sangat diapre-siasi oleh masyarakat. Karena memang selain sebagai tugas pengamanan, pesawat-pesawat TNI adalah juga bagian dari milik negara. “Untuk acara ultah me-mang pertama kali, tapi sebelum-nya di 2011 kita pernah tampil di acara Fun Bike. Kalau rutin tiap tahun di acara wing day atau saat kelulusan siswa sekbang,” terang penerbang yang telah mengantongi sekitar 4 ribu jam terbang itu.
Sebagai penerbang pesawat tempur, memang ada selalu ada kekhawatiran. Namun hal itu dapat diminimalisir dengan la-tihan dan persiapan pesawat yang maksimal.”Khawatir dari keluarga kalau lihat manuver menegangkan memang ada. Tapi dengan lati-han persiapan antisipasi kerusa-kan pesawat dapat dihindari. Kalau dicek ada kendala langs-ung diperbaiki,” jelasnya. Jupiter Aerobatik Team (JAT) terbentuk berdasarkan inisiatif para instruktur penerbang di Skadron Pendidikan 103 pada tahun 1997. Mereka tampil per-tama kali pada HUT TNI 5 Okto-ber 1997 dengan 4 pesawat MK 53 Hawk. (riz/jko/ong)