GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
MEMBELUDAK: Kondisi tempat pembuangan sampah (TPS) yang membeludak hingga menutupi trotoar di Jalan Suryonegaran atau timur Kantor Ditlantas Polda DIJ, Jumat (18/12). Pemandangan itu menimbulkan kesan kumuh di tengah perkotaan dan mengganggu kenyamanan pengguna jalan.
JOGJA – Masalah sampah di Kota Jogja tak hanya soal pengelolaannya. Pengang-kutan sampah dari tempat pembuangan sementara ke tempat pembuangan akhir di Piyungan membutuhkan penanganan tersendiri.Terlebih, di Kota Jogja, volume sampah cukup besar. Tiap hari sampah dari warga Jogja mencapai 250 ton per hari. Alhasil, keberadaan truk pengangkut jadi sangat vital
“Jumlahnya setiap tahun me-mang terus bertambah. Truknya juga harus ditambah,” jelas Pelaksana harian (Plh) Kepada Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Jogja Aman Yuriadjaya, kemarin (18/12).Aman menjelaskan, sistem pengangkutan sampah memang dilakukan tiap satu jam sekali. Itu pun, biasanya TPS sudah penuh. “Ini ada tambahan dua angkutan sampah,” jelasnya.Untuk mengurangi sampah rumah tangga, lanjut Aman, BLH sudah melakukan banyak pela-tihan. Ini menyasar ibu-ibu untuk mengolah sampah menjadi ba-rang yang berguna. “Banyak yang sudah jalan,” tuturnya.
Pengolahan sampah tersebut, sambung dia, sejak dari rumah-rumah. Pihaknya telah banyak membuatkan tempat pemilahan sampah. Sehingga, barang yang masih bisa berguna, dapat lans-ung dimanfaatkan.Kepala Dinas Bangunan, Gedung, dan Aset Daerah (DB-GAD) Kota Jogja Hari Setyawa-cana mengatakan, di APBD 2015 ini, pihaknya membeli dua dump truck yang diberikan untuk BLH. “Tiap tahun, jika masih kurang kami anggarkan,” kata Hari.Meski, pengadaan truk sampah ini hampir tiap tahun anggaran, tapi lelang penghapusannya juga hampir tiap tahun. Ini ka-rena kerusakan truk sampah lebih tinggi dibandingkan truk biasa. “Sampah lebih mudah membuat korosi besi. Jadi, tidak bisa awet sampai puluhan tahun,” ujarnya. (eri/ila/ong)