GUNTUR AGA/RADAR JOGJA
JELANG PUNCAK SEKATEN: Abdi dalem Keraton Jogja memainkan gamelan Kyai Naga Wilaga di Pagongan Masjid Gede Kauman, Jogjakarta, Jumat (18/12).
JOGJA – Alunan gamelan bisa didengar-kan warga setiap sorenya di seputaran Alun-Alun Utara. Pasalnya, dua gamelan Keraton Jogjakata, Kanjeng Kyai Nogo-wilogo dan Kanjeng Kyai Guntur Madu sudah dikeluarkan dan dimainkan selama tujuh hari berturut-turut selama pe rayaan Sekaten.Kedua pusaka milik Keraton Jogjakarta ini ditempatkan di Bangsal Pagongan di Masjid Gede Kauman
Sebelumnya, kedua gamelan ini dihantarkan dengan proses Miyos Gangsa pada Kamis ma-lam (17/12). Prosesi Miyos Gangsa sendiri dilepas langsung oleh GBPH Prabukusumo.Sebelumnya dua pusaka ini ditempatkan di dua tempat yang berbeda. Kanjeng Kyai Naga Wi-laga berada di bangsal Trajumas. Sedangkan Kyai Guntur Madu berada di bangsal Srimanganti. “Kedua gamelan ini akan berada di sini hingga tanggal 23 Desem-ber malam. Karena paginya (24/12) sudah masuk Maulud dan di-hantarkan kembali ke Keraton dengan prosesi Kundur Gangsa,” kata Abdi Dalem yang juga peng-rawit Mas Penewu Menyan Seto, Jumat (18/12).
Gamelan ini, lanjutnya, akan ditabuh selama tujuh hari lama-nya. Mengiringi indahnya ga-melan, beragam gending shalawat turut dikumandangkan. Menurut Mas Penewu, hal ini telah dila-kukan oleh para Wali Sanga, terutama Sunan Kalijaga.Menurutnya, tetabuhan game-lan ini digunakan Sunan Kali-jaga sebagai syiar pada waktu itu. Sehingga agama dan budaya tetap harmonis dan jalan ber-dampingan. Hingga saat ini, tradisi ini tetap dilestarikan dan diikuti oleh kalangan masyarakat.”Gamelan akan berhenti atau beristirahat di waktu Shalat Duhur, Ashar, Maghrib dan Isya,” jelasnya.Dalam Miyos Gangsa dilaku-kan prosesi Nyebar Udhik-Udhik. Terdiri dari uang logam recehan, beras kuning, dan bunga setaman. Ini dilakukan di Bang-sal Ponconiti Keraton dan di Bangsal Pagongan.”Tradisi Nyebar Udhik-Udhik ini dikenal sebagai simbol pem-berian sedekah seorang raja kepada rakyatnya,” ungkapnya.
Beragam tradisi lain turut men-dampingi permainan gamelan ini. Salah satunya adalah tra-disi penjual nasi gurih lengkap dengan ingkung ayam. Ada-pula endog abang (telur merah), juga daun sirih dan kinang yang dijual oleh para penjual sepuh.Mas Penewu mengatakan, ku-liner ini juga wujud tradisi. Bahkan tidak hanya sekadar bahan pangan, namun juga memiliki nilai budaya. “Kalau sekarang memang tidak sebanyak dahulu,, tapi tradisi nginang masih ada. Pemandangan ini akan terus berlangsung hing-ga Kundur Gangsa besok,” pungkasnya. (dwi/ila/ong)