DWI AGUS/RADAR JOGJA
SUKET GODHONG DADI REWANG: Samuel Indratma di tengah-tengah karyanya yang dipamerkan di Bentara Budaya Jogjakarta belum lama ini.

Bebas Mengalir Tanpa Memikirkan Rumus dan Aturan

Janji haruslah ditepati. Kira-kira itulah yang saat ini dilakukan perupa Samuel Indratma. Pasalnya, setahun sebelumnya dia mendapatkan Anugerah Bentara Budaya Jogjakarta Award. Setiap seniman yang dapat award ini wajib untuk unjuk karya setelahnya. Lantas karya seperti apa yang ditampilkan?
DWI AGUS, Jogja
BERTAJUK Suket Godhong Dadi Rewang, pameran ini menyajikan karya yang me-ngalir. Dalam pameran kali ini Samuel berpegangan pada istilah Los Stang. Artinya Samuel menjelaskan, terkait pameran tidak ada konsep secara khusus dalam mengha-dirkan sebuah karya. Namun tetap berpegangan pada tema besarnya Suket Godhong Dadi Rewang. Istilah Suket Godhong Dadi Rewang sendiri merupa-kan celotehan dari sahabatnya sesama pelukis, Panjul.
Di tengah keraguan untuk meng-gelar pameran, beberapa sa-habatnya siap membantu. Hingga akhirnya bantuan dan dukungan dari para sahabatnya ini membuat Samuel yakin untuk unjuk karya.Dia mengaku, sempat ragu untuk menggelar pameran ini. Sebab, meski telah ditetapkan jauh hari, persiapan yang dila-kukan terbilang mendadak.
Bahkan dia ragu dapat memenuhi target karya untuk pameran.”Meski lama dipersiapkan, ternyata butuh waktu cukup banyak. Tiba-tiba muncul kali-mat dari Panjul yang menen-teramkan hati. Justru Panjul dan saya tidak tahu artinya, tapi menarik untuk dijadikan judul pameran,” seloroh Samuel.
Pameran ini juga turut merang-kum perjalanan seorang Sam-uel. Bagaimana jejak berkese-nian mampu membentuk pri-badi seni seperti saat ini.
Samuel mengaku, dinamika seni ini turut mengukir dirinya. Diawali dengan tahap pencarian jati diri hingga memiliki identi-tas seni seperti saat ini.Beragam media pernah dijajal oleh Samuel dalam menghasil-kan sebuah karya. Di era tahun 1990an Samuel pernah berkarya bersama Apotik Komik. Meng-gunakan komik sebagai alat ungkap seninya, hingga lahirlah Jogja Mural Forum.”Hebatnya Jogjakarta adalah kota yang sangat mewah untuk mewadahi seni. Bisa dibilang sebagai ibu kota seni rupa bagi Indonesia. Tidak hanya iklim seninya, tapi kekeluargaan dan persahabatan yang menopang juga kuat,” ungkapnya
.Kurator Bentara Budaya Jogja-karta Romo Sindhunata meng-ungkapkan, Samuel Indratma dianggap sebagai sosok seniman yang mempunyai kontribusi cukup besar. Baik itu kepada sesama seniman maupun ma-syarakat seni Jogjakarta. “Dia mampu menghasilkan gerakan dan nuansa baru di bidang seni dan budaya,” katanya. (ila/ga/jiong)