RIZAL SETYO NUGROHO/RADAR JOGJA
HUMANIS: Pengunjung melihat salah satu foto hasil bidikan salah seorang PSK, kemarin (17/12).
JOGJA – Ada yang berbeda di Pendopo Kelurahan Giwangan, Kota Jogja, Kamis (17/12). Di sana terpampang bingkai-bingkau foto yang dipasang rapi. Ya, di sana sedang berlangsung pameran foto karya pekerja seks komersial (PSK) yang tergabung dalam Perhimpunan Perempuan Pekerja Seks Yogyakarta (P3SY). Kegiatan itu dilakukan dalam rangka memperingati hari anti kekerasan terhadap pekerja seks.
Sedikitnya ada 30 foto hasil jepretan para PSK yang diikutsertakan dalam pameran.
Foto-foto tersebut banyak menceritakan tentang kehidupan keseharian para PSK. Mulai dari kondisi rumah, tempat mangkal, dan kegiatan PSK di P3SY.
Relawan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jogjakarta Vary Abdul Gani, yang mendampingi para PSK, menjelaskan sebelum menggelar pameran, para PSK dibekali dengan pelatihan fotografi.
“Mereka selama ini selalu menjadi sorotan, menjadi objek. Sekarang gantian mereka yang berada di belakang kamera, mereka yang membidik,” katanya.
Selama ini, lanjut Vary, para PSK tidak memiliki kesempatan melakukan kegiatan yang bertujuan untuk berkarya dan ekspresi diri. Oleh karena itu, melalui pameran ini mereka unjuk gigi dengan karya fotografi.
“Kalau orang lain sudah banyak mendapat kesempatan, mereka ini tidak punya akses itu. Fotonya juga menggambarkan kehidupan mereka sendiri,” terangnya.
Ketua P3SY Sarmi menjelaskanpameran foto ini juga sebagai alat kampanye anti kekerasan terhadap pekerja seks dan diskriminasi. Sebab, selama ini ada stigma kuat di masyarakat yang masih merendahkan PSK. “Hargailah mereka, ini pilihan pekerjaan. Boleh membenci profesinya, tapi jangan melakukan kekerasan terhadap PSK. Itu pesan yang ingin disampaikan,” sambungnya.
Sementara itu, berdasarkan data P3SY terhitung dari bulan Januari hingga Oktober 2015, terjadi sebelas kasus kekerasan terhadap pekerja seks di Jogjakarta. Dari jumlah tersebut dua kasus di antaranya trafficking anak. Sedangkan lainnya, yakni tiga kasus KDRT, dua kasus kekerasan oleh aparat, dua kasus kekerasan oleh keamanan, dan dua kasus kekerasan oleh pelanggan.
Sarmi menjelaskan, dari kasus-kasus tersebut hampir semuanya tidak bisa terselesaikan oleh pihak kepolisian. Hanya beberapa kasus saja yang bisa diungkap dan ditangkap pelakunya.
“Banyak kasus kekerasan yang tidak terungkap. Karena sebagian para PSK juga malas untuk melapor ke polisi karena pengalaman yang sudah-sudah tidak ada hasilnya,” katanya.
Tidak hanya itu, terkadang para PSK enggan untuk melapor karena ada perlakukan yang tidak sama dengan orang lain saat melapor. Misalnya dalam kasus kekerasan terhadap PSK waria, polisi seperti enggan melayani.
“Pertanyaan saat melapor itu aneh-aneh. Ada yang tanya kenapa milih jadi waria, itu sama sekali tidak ada kaitannya. Seharusnya diperlakukan sama. Tapi memang tidak semua petugas seperti itu,” ungkap Sarmi.
Sebagai solusi, pihak kepolisian sempat mengusulkan jika dipasang CCTV di kamar PSK saat melayani tamu, sehingga pelaku bisa dikenali dengan cepat jika terjadi sesuatu. Namun usul itu sangat sulit dilakukan mengingat para pelanggan tidak akan mau jika ada rekaman semacam seperti itu.
“Usul yang cukup masuk akal itu yaitu melihat KTP pelanggan dulu. Tapi tidak semua PSK melakukan dan pelanggan juga tidak semua mau menunjukan. Mungkin perlu dicari solusi yang lebih pas,” tandasnya. (riz/ila/ong)