JOGJA – Kepadatan lalu lintas di dalam Kota Jogja selama musim liburan sudah jamak terdengar. Tetapi hingga libur akhir tahun ini, belum ada solusi dari pemerintah daerah untuk mengatasinya. Kondisi seperti itu, justru sudah diantisipasi sendiri oleh wisatawan yang berlibur ke Jogja, yakni dengan menikmati wisata di luar kota dulu, baru jelang pulang masuk wilayah Kota Jogja.
Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) DIJ Aris Riyanto mengatakan, berdasarkan pengalaman libur Lebaran lalu, wisatawan yang berlibur ke DIJ justru menghindari pusat kota, dengan berlibur dulu ke luar kota. Wisatawan mencoba tidak langsung ke pusat kota, tapi ke destinasi wisata lain. “Pengalaman kemarin, banyak wisatawan yang tidak langsung ke Malioboro, tapi ke Kulonprogo atau Gunungkidul dulu,” ujar Aris.
Menurut dia, kedua kabupaten tersebut menjadi magnet wisata baru di DIJ, dengan wisata alam yang ditawarkan. Meski, diakuinya, Kota Jogja masih menjadi magnet utama wisatawan yang berlibur ke DIJ. Terutama, yang berlibur ke kawasan Keraton-Malioboro, Taman Pintar dan Gembira Loka Zoo. Tapi kunjungan ke pusat kota diakhirkan. “Kemarin kan PKL di Malioboro sempat ngeluh sepi, tapi ternyata di akhir tetap penuh,” ujarnya.
Selama liburan akhir tahun ini, Dispar DIJ memprediksi jumlah wisatawan yang berkunjung meningkat 10-15 persen dibandingkan pada hari biasa. Sayangnya Aris mengaku tidak hafal jumlah pasti wisatawan yang berlibur ke DIJ setiap bulannya. Selama liburan akhir tahun nanti, Dispar DIJ juga akan mendirikan posko informasi di sepanjang Malioboro.
Keluhan tentang infrastruktur pendukung pariwisata DIJ juga disuarakan oleh Sekretaris Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIJ Deddy Pranowo Eryono. Menurut dia, akibat kepadatan lalu lintas di pusat kota, memberi andil positif untuk kenaikan tingkat okupansi kamar hotel di ring dua atau yang berada di perbatasan kota. “Karena tidak mau kena macet, wisatawan mulai menghindari ring satu dan mencari hotel di ring dua,” ujarnya.
Deddy meminta kepada pemerintah untuk segera merampungkan infrastruktur pendukung pariwisata. Selain keberadaan bandara baru, adanya kantong parkir, termasuk penyelesaian segera Taman Parkir Abu Bakar Ali dinantikan. “Jalan-jalan ke objek wisata juga harus diperbaiki untuk mendukung kunjungan wisatawan,” ujarnya.
Ketua Asociation of the Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) DIJ Udi Sudiyanto juga meminta infrastruktur penunjang wisata segera dibangun. Menurut dia, sudah sejak lama didengungkan perlunya pembangunan fly over hingga ring road kedua. “Harusnya sejak 10 tahun lalu sudah dipikirkan, karena jalan yang sudah ada tidak mampu menampung lagi,” harapnya.
Udi juga mendukung segera beroperasinya kawasan wisata dan edukasi air Jogja Bay di Maguwoharjo Sleman. Menurut dia, keberadaan permainan air, yang diklaim merupakan terbesar dan terlengkap di Indonesia tersebut, akan menambah destinasi wisata penyangga di DIJ. Keberadaannya akan menarik wisatawan domestik. “Destinasi wisata utama DIJ tetap Malioboro atau Parangtritis, tapi bisa menjadi destinasi alternatif, terutama untuk wisatawan domestik,” terangnya. (pra/jko/ong)