JOGJA – Aksesibilitas transportasi menuju bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulonprogo tak hanya lewat jalan raya saja. Tapi juga didukung dengan rel kereta api. Dukungan transportasi tersebut untuk memenuhi target 20 juta penumpang per tahun di NYIA.
“Saat ini, sudah dimulai pelebaran akses jalan ke Kulonprogo. Untuk kereta akan dibangun rel dari stasiun Kedundang ke bandara,” jelas Kepala Bidang Sarana Prasarana Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DIJ Ni Made Dwi Panti Indrayanti dalam rapat kerja paparan Pemprov DIJ tentang perencanaan pembangunan NYIA di DPRD DIJ, kemarin (17/12).
Selain itu, juga membuat kajian untuk mengaktifkan lagi Stasiun Palbapang di Bantul. Serta mengoptimalkan Stasiun Patukan yang diharapkan bisa menjadi check in stasiun. Untuk dalam kota, akan memaksimalkan keberadaan Transjogja.
Menurut dia, berdasarkan kajian transportasi perpindahan calon penumpang akan nyaman maksimal dua kali pindah armada. “Kalau sudah lebih dari itu sudah tidak nyaman, karena itu perlu integrasi kereta dan bus perkotaan,” jelasnya.
Mendengar paparan itu, anggota DPRD DIJ mengharapkan dalam rencana pembangunan, bisa melibatkan masyarakat lokal. Keberadaan NYIA harus bisa membawa manfaat bagi masyarakat dan pemasukan bagi pemprov.
“Pembangun bandara sejak awal mindset-nya harus memberi manfaat bagi masyarakat dan pemprov, masyarakat lokal jangan hanya jadi penonton,” tegas Wakil Ketua Komisi C DPRD DIJ Arif Budiono.
Arif meminta Pemprov DIJ terlibat aktif dalam pembangunan bandara dan infrastruktur pendukungnya. Politikus PKS tersebut mengkhawatirkan jika pembangunan bandara hanya dikerjakan sepenuhnya oleh PT Angkasa Pura (AP) I. Nantinya hanya rekanan AP I saja yang diakomodasi. Sementara pengusaha lokal dan masyarakat setempat tidak memperoleh manfaat.
Arif mencontohkan konsep airport city yang akan dibangun di NYIA dengan membangun hotel, tempat wisata, dan sarana prasarana pendukung lainnya. “Kalau sepenuhnya dikerjakan AP, hanya rekanan mereka saja yang diakomodasi nantinya,” ujarnya.
Arif meminta pemprov untuk lebih progresif dalam proses pembangunan bandara di Temon, Kulonprogo tersebut. Sebab, selama ini pembangunan bandara masih berkutat di permasalahan pembebasan lahan. Belum ada progres yang signifikan. Terkait dengan masih adanya penolakan warga, pihaknya mendesak segera dilakukan berkomunikasi sehingga keberatan yang disampaikan dapat dicarikan solusinya.
“Harusnya pemprov lebih tegas. Kalau mau dibangun dan sudah ditetapkan segera buat langkah yang progresif,” pintanya.
Hal senada diutarakan Sekretaris Komisi C DPRD DIJ Agus Subagyo. Dia meminta dalam pembangunan bandara NYIA bisa mengakomodasi kearifan lokal. Agus mewanti-wanti jangan sampai pembangunan yang dilakukan bersifat kapitalistis dan mengorbankan ekonomi masyarakat. “Ciri khas Jogja istimewa harus ditonjolkan, jangan hanya merangkul rekanan raksasa dari Jakarta tapi meninggalkan kearifan lokal,” ujarnya.
Kearifan lokal, lanjut politikus Golkar, harus ditonjolkan dalam arsitektur bandara NYIA. Selain itu, pemprov juga diminta mulai memikirkan aksesibilitas menuju bandara. Menurut dia, keberadaan transportasi, baik jalan raya maupun rel kereta api harus membawa dampak positif bagi warga. (pra/ila/ong)