GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
JADI AJANG SELFIE: Pengunjung berfoto berlatar belakang hamparan tanaman Enceng Gondok di Dusun Karangasem, Palbapang, Bantul, Jogjakarta, kemarin(14/12).

Awalnya Hanya Sawah yang Dibiarkan Menganggur

Jika di Gunungkidul ada taman bunga Amarilis yang dijadikan sebagai objek self e, hingga akhirnya rusak. Di Bantul, ada ‘taman bunga’ Eceng Gondok yang juga mulai mengundang perhatian publik. Juga mulai ramai untuk selfie
ZAKKI MUBAROK, Bantul
PENGARUH media sosial memang luar biasa. Dalam hitungan hari, ‘taman bunga’ Eceng Gondok di Dusun Karangasem RT 04, Palbapang, Bantul, ramai dipadati pe-ngunjung yang ingin berselfie.Bak di taman bunga ‘sungguhan’, belasan remaja putri bergaya dengan berbagai pose di ‘taman bunga’ Eceng Gondok, ke-marin (14/12). Mulai dari gaya selfie biasa, hingga pose yang tampak ‘aneh’. Bahkan, ada pula yang sengaja membawa sejumlah barang ‘pemanis’ selfie, seperti payung. Mungkin sebagian dari pengunjung ini ingin tampak seperti seorang model kala bergaya di depan kamera.
Mayoritas pengunjung ‘taman bunga’ Eceng Gondok ini tidak datang sendirian. Ada yang datang bersama teman. Ada pula yang diantarkan sang pacar. Mereka saling bergantian peran: menggambil gam-bar dan diambil gambarnya. “Cuma berdua naik motor,” terang salah satu pengunjung Rahayu Kamila. Mahasiswi semester tujuh salah satu per-guruan tinggi swasta ini datang bersama Oktarina Anggraini, teman kampusnya
Mereka berdua rela datang jauh-jauh dari sekitaran Kota Jogja demi ingin melihat lebih dekat dan berfoto ria dengan background Eceng Gondok yang tengah berbunga.Mila, begitu dia disapa, menge-tahui keberadaan ‘taman bunga’ Eceng Gondok dari media so-sial Instagram. “Lucu aja. Kan jarang melihat kayak gini,” ucap mahasiswi asal Kalimantan ini.Mila, begitu juga dengan teman-nya meyakini, nasib ‘taman bunga’ Eceng Gondok tidak akan seperti taman bunga Amarilis di Gunung-kidul yang rusak lantaran ulah para remaja yang berselfie ria.
Menurutnya, rusaknya taman bunga Amarilis karena tidak ada akses jalan di tengah-tengah taman. Parahnya, para pengun-jung ingin masuk ke tengah taman demi dapat berpose di dekat atau di antara bunga.”Kalau di sini kan sawah dan bawahnya ada air. Nggak mun-gkin lah nekat ingin bisa sampai ke tengah,” bebernya.Karsono, pemilik ‘taman bunga’ mengatakan, sebenarnya ham-pir setiap tahun Enceng Gondok yang tumbuh di sawahnya ber-bunga. Baru kali ini musim ber-bunganya Enceng Gondok ini menyedot perhatian pengunjung.”Ada yang dari Bantul sendiri, Sleman dan Kulonprogo,” ucapnya.
Pria kelahiran 48 tahun silam ini menceritakan, sawahnya dulu merupakan lahan perta-nian subur. Pasca gempa, sawah berukuran sekitar 70 X 45 meter ini dibiarkan lantaran selalu tergenangi air. Luberan air aliran irigasi ini tidak bisa dibuang, karena di sekitar sawah tak ada lagi saluran pembuangan. Kondisi inilah yang membuat Eceng Gondok tumbuh subur dengan sendirinya. “Tanaman Eceng Gondok asal-usulnya juga bawaan dari irigasi,” ungkapnya.
Kendati ramai dipadati peng-unjung, Karsono berjanji tidak akan mengkomersialkannya. Namun demikian, dia memper-silakan bila kelompok pemuda setempat mematok tarif parkir untuk pemasukan kas.”Mulai seminggu ini ramai. Awalnya hanya satu, dua orang. Baru hari Sabtu dan Minggu kemarin yang benar-benar ramai,” tambahnya. (jko/ong)