JOGJA – Kapur masih jarang tersentuh sebagai media seni. Sifatnya yang mudah hilang, membuat kapur kurang mendapat respons dari para seniman. Namun di tangan seorang Riono Tanggul, kapur dapat melahirkan karya yang indah.
Hal ini dibuktikan oleh seniman yang akrab disapa Tatang dalam pameran tunggalnya. Karya-karya seniman kelahiran Jogjakarta 1984 ini tersaji di Kedai Kebun Forum (KKF) Tirtodipuran Jogjakarta. Total ada enam lukisan dan 24 karya drawing yang dihadirkan dalam pameran ini.
“Sedang mengeksplorasi kemampuan diri dalam berkarya. Menggunakan media yang jarang digunakan yaitu kapur. Menggambar dengan kapur tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri,” kata Tatang ditemui di KKF, Minggu (13/12).
Tatang tidak menampik kapur memiliki beragam kekurangan. Seperti sifatnya yang cepat hilang. Terlebih media gambar yang digunakan adalah kertas. Hal ini menambah rumit untuk mewujudkan karya dengan goresan kapur.
Tantangan ini lanjutnya memotivasi dirinya untuk berkarya. Selain itu sudut pandang Tatang mengungkapkan media kapur jarang dikoleksi. Tentu karena sifatnya yang rapuh dibandingkan media seni rupa lainnya.
“Konsekuensi ketika menggunakan media ini adalah kemungkinan tidak akan ada yang mengoleksi karya kapur ini. Tapi di situlah persoalan yang sedang benar-benar saya kerjakan saat ini, berkarya dengan materi-materi yang tidak biasanya saya gunakan,” ungkapnya.
Dalam pameran ini Tatang menghadirkan beberapa objek karya. Seperti hadirnya kijang sebagai objek utama karya. Ini dihadirkan melalui media kapur dalam beberapa helai kertas. Kijang dalam gambar-gambar Tatang dihadirkan dengan wujud yang layu, lunglai, dan tak berdaya.
Selain itu Tatang juga merespon lantai ruang pamer. Lantai yang awalnya bercat hijau, kini bercat abu-abu. Cara ini ditempuh untuk menguatkan konsep pamerannya. Sehingga karya-karyanya mampu berbicara banyak dalam ruang pamer ini.
“Saya merasa merdeka ketika sedang mengeksplorasi hal-hal baru seperti ini. Tanpa pikiran apakah karya saya akan langgeng, tahan lama, collectable atau tidak,” jelasnya.
Sementara itu direktur artistik KKF Agung Leak Kurniawan menilai karya Tatang ibarat pencarian jati diri. Meski Tatang memiliki identitas karya, namun tak ragu menjajal hal baru. Dipilihnya kapur sebagai media karya menurutnya inspiratif.
Bagi Agung Leak, kapur adalah jalan senyap seorang seniman. Hadirnya Tatang dalam konsep karya ini merupakan sudut pandang yang berbeda. Bahkan dirinya mendukung respon Tatang dalam menggarap ruang pamer.
“Saya kira Tatang sedang menempuh pilihannya seperti Kijang yang lunglai itu. Bicara seni ibarat ruang bermain, juga bentuk refleksi sosial dan tidak otonom. Sehingga seni apapun, dianggap baik ataupun buruk, dapat dilihat sebagai cerminan pergerakan sosial yang sedang terjadi,” pungkas Agung Leak. (dwi/jko/ong)