Hendri Utomo/Radar Jogja
SENI: Salah seorang seniman asal Kulonprogo saat membacakan Antologi Nyanyian Bukit Menoreh, di Balai Desa Ngestiharjo, Wates, Kulonprogo, kemarin (13/12).

KULONPROGO – Ada yang lain di Balai Desa Ngestiharjo, Wates, Kulonprogo, kemarin (13/12). Benar saja, para seniman se Kulonprogo baik yang aktif secara lokal maupun nasional, kumpul bersama dan tampil bergilir dalam “Panggung Sastra, Macapat, dan Teater”.
Mereka juga meluncurkan buku antologi puisi “Nyanyian Bukit Menoreh”. Buku antologi puisi setebal 146 halaman itu berisi 27 penyair asal Kulonprogo. Di antaranya Marwanto, Sugiono MS, Slamet Riyadi Sabrawi, Dewi Floren, Samsul Ma’arif, Sumarno, Papi Sadewa, dan beberapa lainnya.
Ketua Panitia Sukino mengatakan, panggung “Sastra, Macapat, dan Teater” adalah awal dari kolaborasi antarseniman, ke depannya kegiatan ini akan terus berlangsung menjadi agenda rutin. “Untuk saat ini belum berkolaborasi satu panggung, masih bergiliran,” terangnya.
Acara itu menarik perhatian anggota DPRD DIJ Sudarto yang kebetulan menjabat Ketua Dewan Kebudayaan Kulonprogo. Hadir juga sejumlah pejabat yang terlibat dalam kegiatan macapat (tembang Jawa, Red) dari Anggara Kasih, Mekar Asih, Pambodja, dan Sari Swara.
Sudarto mengatakan, membumikan budaya memang harus sampai ke akar rumput. Jika banyak pelaku seni dan budaya unjuk diri dalam suatu acara, sebaiknya hal itu juga diterapkan dalam acara tradisi di masyarakat.
“Budaya berarti budi dan daya, artinya jika itu tertanam maka kelak akan berpengaruh pada perilaku manusia di masyarakat,” katanya.
Menurutnya, seni dan budaya harus tertanam di tengah masyarakat, karena perubahan dari waktu ke waktu cukup pesat. Di Kulonprogo yang kini dalam proses megaproyek di sejumlah lokasi pun pada akhirnya berdampak pada perubahan budaya masyarakat.
“Ini pekerjaan rumah yang berat jika tidak dipertahankan dan ditanamkan di tengah masyarakat, macapat dan seni lainnya akan hilang,” ujarnya.
Ketua Forum Sastra Macapat dan Teater Kulonprogo Marwanto menambahkan, kegiatan kali ini sebagai upaya menumbuhkan kreasi dan karya para seniman di Kulonprogo. Wadah kegiatan ini menyatukan 12 forum seni yang ada di kabupaten Binangun.
“Ini tantangan agar ke depan semua dapat berkolaborasi. Harapannya semua tetap semangat berkarya dan berkembang bersama,” imbuhnya. Acara semakin ramai ketika satu persatu para penyair asal Kulonprogo membacakan karya-karya yang termuat dalam antologi tersebut. (tom/laz/ong)