MUNGKID – NahdlatulUlama (NU) mensinyalir ada tujuh kelompok aliran ekstrem yang berkembang di wilayah Kabupaten Magelang. Aliran ini terus diawasi para ulama dan kader NU sejak Januari lalu. Berdasarkan pengawasan NU, satu dari tujuh kelompok ekstrem ini diketahui sudah mengarah ke kelompok radikal ISIS.
Pernyataan ini disampaikan Ketua Panitia Istighotsah Peringatan Resolusi Jihad NU ke 70 dan Maulid Nabi Ahmad Majidun di Lapangan Pondok Tingal, Borobudur, kemarin (13/12) Acara ini dihadiri sembilan kiai ternama seperti KH Muhaimin Asnawi, KH Abdul Rozak, KH Sa’id Asrori, KH Amin Hamid, KH Mina Nurohman, KH Afifudin, KH Muslih, KH Halim Abdurohman, dan KH Ashari. Sekitar empat ribu pengurus dan kader NU dari berbagai kecamatan menghadiri acara ini.
Ahmad Majidun mengatakan, tujuh aliran ekstrem yang diidentifikasi ini berbaur masyarakat dengan berbagai kegiatan. Di antaranya seperti pengajian, bakti sosial, dan bahkan ada yang membujuk warga NU untuk berpindah ke agama lain. Masuknya aliran kelompok ekstrem ini sudah sangat meresahkan masyarakat.
“Selain di Borobudur, aliran kelompok seperti ini juga berlangsung di Salam, Muntilan, Sawangan, Grabag, Pakis dan lainya. Acara istighotsah ini menyikapi kelompok aliran tersebut,” jelasnya.
Mantan Ketua KPU Kabupaten Magelang ini mengatakan, ketika masyarakat merasa resah, maka NU harus hadir di situ.Ia meminta warga nahdliyin harus merapikan barisan untuk membentengi dari kelompok-kelompok ekstrem. “Hal ini karena kelompok ekstrem ini bisa mengakibatkan disharmoni dan keresahan masyarakat, khususnya di Borobudur,” katanya.
Pada acara ini, Rois Syuriah PCNU Kabupaten Magelang KH Akhmad Sa’id Asrori juga menyampaikan sembilan butir deklarasi damai. Poin-poin itu di antaranya bahwa NU setia mengawal tegaknya akidah Islam ahlusunnah waljamaah an nahdiyyah, menjaga tegaknya NKRI, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika dan UUD 45, senantiasa aktif dalam usaha menjaga terciptanya keamanan, ketertiban, dan ketentraman masyarakat.
Selain itu NU juga menjaga kerukunan antarumat beragama, dan menolak segara usaha yang mengganggu ketenangan warga NU, menolak segala bentuk intervensi dari manapun yang dapat mengancam eksistensi NU.
Selain karena ada kelompok aliran ekstrem, acara istigotsah ini digelar menyusul keresahan masyarakat terkait adanya upaya orang asing yang ingin menguasai wilayah Borobudur. Ia mengaku sudah menjalin komunikasi dengan Camat Borobudur, Bupati Magelang, DPRD dan lembaga lainnya bahwa tidak hanya Borobudur yang ingin dikuasi orang asing. Tetapi juga ada yang ingin menguasai wilayah Magelang secara keseluruhan.
Untuk itu, pihaknya mengajak semua masyarakat menjaga keutuhan Magelang. “Warga NU harus bersatu padu. Ketika berjuang, kita harus satu dan bersama-sama. Saya minta dukungan pengurus NU agar berbenah dan diberi kekuatan agar mampu jihad melawan kebodohan, keterbelakangan, dan kemiskinan. Pengurus harus bangkit membenahi jamaah,” jelasnya. (ady/laz/ong)