Hendri Utomo/Radar Jogja

Njlimet, Anak Muda Zaman Sekarang Tak Suka

Globaliasi dan kemajuan teknologi benar-benar kuat untuk menghasut generasi muda menjuh dari kreativitas yang susah payah dititiskan oleh leluhurnya. Tanpa mesin, satelit atau pulsa semua dianggap konvensional, kuno dan jadul. Kurang lebih seperti itu keluhan para perajin tentun stagen di wilayah Sentolo, saat kesulitan mencari generai penerus.
HENDRI UTOMO, Kulonprogo
TERBUAT dari kayu yang dirangkai sedemikian rupa, kayu-kayu itu saling berkait, cukup rumit. Sementara ada serupa busur peluru berisi gulungan benang segera berpindah secara otomoatis saat pedal kayu itu diinjak bergantian kanan dan kiri.
Jangan tanya usianya, mungkin sudah puluhan tahun karena itu mesin tenun warisan leluhur. Alat untuk memproduki stagen ini sering disebut alat tenun bukan mesin (ATBM).
Di rumah Rin Sriharti, 52, warga Dusun Banyunganti Lor, Kaliagung, Sentolo, ATBM itu sudah lama berada di teras rumah, bersama gulungan-gulungan benang dan stagen yang belum sempat di setor ke pengepul stagen di Sleman.
Di tengah keramaian jalur alternatif Sentolo-Pengasih, ATBM mikin Rin tidak pernah mau berhenti beroperasi. Suara kayu dan hentakan benang yang dimampatkan menjadi lembar stagen itu kadang memecah keheningan. Mengalun ritmis bersaing dengan knalpot kendaraan yang ramai melintas di depan rumahnya.
“Meski sudah semakin jarang, beberapa warga setempat masih setia menenun kain stagen seperti saya. Kalau saya sudah habis, anak-anak saya tidak ada yang mau meneruskan pekerjaan ini,” ujarnya kepada Radar Jogja (11/12).
Dijelaskan Rin, menenun stagen merupakan pekerjaan sambilan untuk mengisi waktu luang usai menyelesaikan pekerjaan pokok di dapur dan di sawah. Rin Sriharti sontak mejadi salah satu dari segelintir penenun yang masih bertahan hingga saat ini.
“Setiap hari saya membuat empat stagen dengan panjang masing-masing lima meter. Mulainya kalau sudah selesai beres-beres rumah. Ini cuma kerja sambilan, tapi ya lumayan untuk membantu kebutuhan rumah tangga,” jelasnya.
Rin mengungkapkan, keahlian menenun stagen yang dimilikinya merupakan warisan orang tuanya. Hingga kemudian berkeluarga, ia menetapkan untuk tetap menenun kendati bukan menjadi pekerjaan pokok.
“Orang tua saya dulu tidak hanya menenun stagen, tetapi juga menenun selimut dan lainnya. Alat tenun ini dulu harganya cuma Rp 250 ribu, tapi sekarang sudah banyak yang menggunakan mesin. Kalau mesin mahal harganya, sama dengan satu unit sepeda motor,” ungkapnya.
Rin sengaja menenun di teras, menurunya lebih nyaman karena longgar. Sejenak bahkan bisa berhenti untuk sekadar melihat pemandangan di halaman rumah maupun jalan raya yang tidak jauh dari rumahnya.
“Kalau kaki ini lelah mengayuh pedal penggerak ATBM ya istirahat. Mata juga butuh istirahat karena harus selalu fokus memastikan kerapian hasil tenun. Kaki, tangan dan mata ini harus kompak,” terangnya.
Rin menuturkan, ia mulai bisa menenun sejak duduk di bangku kelas 5 SD. Awalnya ia hanya mengamati kedua orang tuanya menggunakan alat tenun tradisional yang kini dipakainya. Kegiatan menenun dulu memang populer di kalangan masyarakat Banyunganti Lor. Hampir semua rumah memiliki mesin tenun.
Namun, jumlah perajin tenun terus menyusut karena tidak bisa diandalkan sebagai penopang kebutuhan ekonomi. Mereka memang tidak bisa berkembang karena hanya bekerja sebagai buruh tenun. “Banyak ATBM yang tinggal jadi kenangan dan ditumpuk begitu saja oleh pemiliknya. di Banyungati Lor ini tinggal sekitar lima orang saja yang tersisa,” tuturnya.
Rin sendiri sampai saat ini juga masih menjadi buruh. Ia setiap minggu mengambil bahan dan menyetorkan hasil ke seorang juragan di Dusun Brajan, Sendagagung, Minggir, Kabupaten Sleman. Upah untuk satu stagen sepanjang lima meter juga hanya Rp 4 ribu.
“Harga itu bisa disesuaikan jika ada pesanan stagen dengan panjang 7,5 meter atau 10 meter. Mungkin karena hasilnya kecil, anak-anak saya tidak ada yang mau menersukan keahlian saya,” keluhnya.
Kendati demikian, menenun dengan ATBM merupakan cara paling mengasyikkan bagi Rin untuk mengisi waktu luang. Di negara maju, hasil tenun manual atau tradisional seperti inilah yang memiliki nilai jual tinggi.
Terpisah Camat Sentolo Aspiyah menjelaskan, aktivitas menenun masih banyak dilakukan warga Desa Banguncipto. Walau begitu, ia tidak bisa menampik jumlah penenun terus berkurang. Ia menyadari jika regenerasi sulit dilakukan.
“Anak muda tidak telaten. Kebanyakan memang mau yang cepat menghasilkan. Kalaupun masih ada yang menenun, itu bukan pekerjaan pokok, tapi hanya jadi sambilan,” jelasnya. (laz/ong)