JOGJA – Proses penataan kawasan Keraton, yang di antaranya dengan memindahkan pedagang kaki lima (PKL) di Alun-alun Utara (Altar) ke sisi timur, belum juga berjalan, eee malah diperparah kehadiran PKL baru. Diduga sejumlah PKL menderikan stan di wilayah tersebut dengan mengambil momen perayaan sekaten.
Dari pengamatan di lokasi, para PKL yang sudah diberi lapak dan gerobag oleh pemerintah untuk program penatan Altar, belum semuanya berjualan. Namun dengan hadirnya perayaan sekaten, di sisi timur Altar tersebut didirikan stan salah satu perusahaan produk perawatan tubuh yang menutupi gerobag dan lapak PKL.
“Bagaimana mau berjualan, lha dari luar saja tidak kelihatan, karena ditutupi stan itu,” kecam salah seorang PKL di Altar Sukartina saat ditemui, kemarin (12/12).
Menurut dia, pendirian stan di depan lapak dan gerobag PKL tersebut mematikan usaha mereka. Praktis, lanjut dia, tidak ada pengunjung yang datang, karena akses masuk ditutupi stan tersebut. “Tidak ada celah, ditutupi rapat, gimana pengunjung mau tahu,” lanjut dia.
Penjual kuliner dan madu tersebut menambahkan, sebenarnya berdasarkan kesepakatan para PKL, pada 18 Desember 2015 nanti, semua PKL yang mendapat gerobag dan lapak akan berjualan. Sementara selama ini, baru sebagian PKL yang berjualan, dengan alasan sepi pengunjung.
Berdasarkan kesepakatan dengan kecamatan setempat, mulai 18 Desember seiring dengan mulai liburan, semua PKL sepakat akan berjualan. “Sepertinya akan mundur lagi, lha lokasinya ditutupi stan gini,” lanjutnya.
Seorang pedagang angkringan Agus juga mengakui, belum semua PKL berjualan karena sepi pengunjung. Dirobohkannya tembok di sisi timur Altar, untuk menarik pengunjung, juga belum banyak membantu. Setelah tembok dirobohkan, lanjut Agus, malah dibangun stan. “Tembok baru dirobohkan beberapa hari, malah dibangun stan ini, ya sama saja ketutupan,” keluhnya.
Menurut Tina, stan yang berdiri di lokasi yang sudah diresmikan oleh Gubernur DIJ pada 13 Agustus 2015 lalu tersebut, juga tanpa persetujuan para PKL. Ketika hal itu ditanyakan ke pihak kecamatan, mereka beralasan proses perizinan merupakan kewenangan Dinas di Pemkot jogja.
Ketika dikonfirmasi, Ketua Pelaksana Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS) 2015 Suyana mengaku pihaknya tidak mengeluarkan izin kapling di luar lapangan Altar. Izin yang diberikan hanya yang berada di atas tanah di Alun-alun Utara. Karena itu, untuk yang berada di luar lokasi yang ditentukan tersebut, dipastikan tanpa izin dari panitia.
“Kami hanya mengeluarkan izin yang di dalam Altar, itu pun yang di atas tanah alun-alun. Yang di luar itu pasti tanpa izin,” ujarnya.
Suyana mengaku tidak tahu menahu tentang stan yang didirikan diluar lapangan Altar. Termasuk pihak yang memberikan izin pembangunan. Terkait dengan stan dari perusahaan perawatan kecantikan tersebut, pihaknya akan melakukan pengecekan terlebih dahulu ke lapangan. “Nanti kita lihat dulu, yang pasti izin bukan dari kami. Kita cek siapa yang mengeluarkan izin,” jelas Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Pertanian (Disperindagkoptan) Kota Jogja itu. (pra/ong)