DWI AGUS/Radar Jogja
POTENSI DAERAH: Pementasan sandiwara berbahasa Jawa yang dipentaskan dalam Festival Pathok Negoro di Masjid Babadan Kamis (10/12).

Buktikan Bahwa Agama dan Budaya Itu Berdampingan

Beragam kesenian hadir di Masjid Pathok Negoro milik Keraton Jogjakarta ini. Mulai potensi seni masyarakat, sandiwara bahasa Jawa, dan pementasan wayang kulit semalam suntuk.
DWI AGUS, Bantul
Diawali sejak Kamis lalu (10/12) di Masjid Pathok Negoro Babadan, kegiatan yang dikemas dalam Festival Pathok Negoro, seluruh Masjid Pathok Negoro menjadi persinggahan dan menampilkan ragam kesenian rakyat.
Selain itu, festival ini juga digelar di Masjid Kagungan nDalem Wonokromo Bantul, Sabtu malam (12/12). Dilanjutkan di Masjid Pathok Negoro Plosokuning Sleman, tadi malam (13/12). Gelaran ini akan ditutup di Masjid Pathok Negoro Mlangi, Sleman, Jumat mendatang (18/12).
“Festival ini merupakan salah satu wujud program pengelolaan keragaman budaya, pembinaan seni budaya daerah. Latar belakangnya melihat perkembangan Islam di tanah Jawa. Bahwa agama dan budaya itu berdampingan,” kata Kepala Seksi Rekayasa Budaya Dinas Kebudayaan Agus Amarullah.
Agus menilai, keberadaan Masjid Pathok Negoro ini tidak hanya penting bagi Keraton Jogjakarta. Dalam perjalanannya, masjid ini turut menaungi masyarakat di sekitarnya. Sehingga, selain dipandang kiblat papat lima pancer, peran masjid-masjid ini dalam pranata sosial masyarakat juga penting.
Persinggungan antara agama dan budaya pun sangat penting. Hal itu pula yang terekam dalam keempat Masjid Pathok Negoro, mampu merangkul potensi budaya warga sekitar untuk menjadi bagian dari Masjid Pathok Negoro.
“Dalam perkembangan Islam di tanah Jawa, merangkul kebudayaan masyarakat sekitar. Inilah yang diterapkan Sunan Kalijaga dalam syiarnya. Ini membuktikan bahwa agama dan budaya bukan untuk dipertentangkan, apalagi dibenturkan,” jelasnya.
Variasi kesenian yang hadir dalam festival kali ini beragam. Mulai dari potensi seni masyarakat sekitar Masjid Pathok Negoro. Lalu penampilan sandiwara bahasa Jawa, dan pementasan wayang kulit semalam suntuk.
Agus menambahkan, festival ini juga bertujuan mengenalkan Masjid Pathok Negoro kepada generasi muda. Selain itu juga mengajak masyarakat luas melihat nilai-nilai di dalamnya. Sehingga masjid-masjid ini tidak hanya dipandang dari sudut pandang bangunan fisik semata. “Tapi nilainya. Nilai-nilai ini lah yang wajib diketahui masyarkat, begitu juga perannya pada waktu itu,” kata Umar.
Festival ini diselenggarakan untuk merayakan 500 tahun Sunan Kalijaga. Kaitannya adalah peran salah satu Walisanga ini dalam syiar Islam pada waktu itu. Yakni, menggunakan pendekatan budaya untuk mengenalkan Islam kepada masyarakat.
Pengurus Forum Langgar Duwur Muhammad Jadul Maula mengungkapkan, ajaran Sunan Kalijaga sangatlah dekat dengan masyarakat. Mengenalkan agama dengan cara yang sepatutnya. Bahkan menggandeng kearifan lokal sebagai bagian dari pengenalan agama.
“Dulu Sunan Kalijaga menggunakan pendekatan budaya yang sangat dekat dengan masyarakat. Mulai dari wayang kulit hingga tembang-tembang bahasa Jawa,” kata Jadul. (din/ong)