PADA bagian lain, Suharsono sebagai pemenang pilkada Bantul memanfaatkan acara syukuran Sukses Pilkada dan Menyambut Perubahan Bantul di Joglo Oemah Kampung Jalan Bantul, untuk ngudarasa. Banyak cerita yang disimpan purnawirawan Polri berpangkat terakhir komisaris besar ini. Termasuk pengalamannya dijegal di DPP PDIP, meski menjadi pemenang rapat kerja cabang khusus (rakercabsus) DPC PDIP Bantul.
“Saya sudah tahu kalau nggak dipilih. Biarpun saya menjawabnya benar, tetap nggak dipilih. Sebelum dites di DPP, saya sudah tahu yang akan menang Mbah Putri,” ucap Suharsono mengawali cerita di depan peserta syukuran Sukses Pilkada dan Menyambut Perubahan Bantul di Joglo Oemah Kampung Jalan Bantul, kemarin (13/12).
Dia lantas bercerita tentang pengurus DPP PDIP yang mengujinya. Ada dua orang. Yakni Ketua DPP Bidang Pengkaderan Idham Samawi dan Ketua Badan Pemenangan Pemilu DPP PDIP Bambang Dwi Hartono.
“Yang menguji saya Mbah Kakung dan mantan wali kota Surabaya (Bambang DH),” lanjutnya yang disambut geer. Suharsono lantas menjelaskan siapa yang dimaksud Mbah Kakung. Menurut dia Mbah Kakung adalah sebutannya untuk Idham Samawi. Dia merupakan suami dari Sri Surya Widati, pesaingnya.
Dalam pertemuan itu, Suharsono mengaku sempat berdebat panjang dengan Idham. Salah satunya menyangkut pengelolaan pariwisata di Bantul. Saat ini perkembangan pariwisata pantai Bantul tertinggal dibandingkan Gunungkidul. Pantai Parangtritis yang dulu kesohor saat ini kalah populer dengan Pantai Indrayanti, Gunungkidul.
“Saat saya bicara sempat dipotong Pak Idham. Katanya faktornya karena sumber daya manusia (SDM). Beliau sambil melirik menunjuk ke arah saya. Saya balas. Kalau pariwisata Bantul tertinggal berarti kepala dinas pariwisata dibayar suruh tidur,” ucapnya dengan nada tinggi sambil menunjukan ekspresi menunjukkan jarinya ke depan audien.
Dalam fit and proper test itu, Suharsono tahu bila dirinya akan tersingkir. Sejak awal dia sudah tahu, Istri Idham yang juga menjadi petahana di Bantul akan lolos sekaligus mendapatkan rekomendasi. “Saya ini lama bertugas di bidang psikologi, tapi tes psikologi kalah dengan lulusan SMA,” katanya yang kembali mengundang geer.
Suharsono mengungkapkan, sebelum diuji di DPP, dirinya mendapatkan dukungan dari arus bawah PDIP. Dalam rakercabsus itu mendapatkan 14 dukungan PAC se-Bantul. “Mbah putri didukung delapan PAC,” katanya.
Lamaran di partai moncong putih ditolak tak membuat Suharsono patah semangat. Dia kemudian mencari kendaraan politik lainnya. Pria yang terakhir bertugas di Polda Banten itu lantas merapat ke Partai Gerindra. Upayanya direspons. Partai Gerindra kemudian berkoalisi dengan PKB.
Suharsono kemudian diduetkan dengan Ketua DPC PKB Bantul Abdul Halim Muslih. Koalisi Gerindra-PKB ini kemudian resmi mengusung duet Suharsono-Halim sebagai pasangan bupati dan wakil bupati. Koalisi ini didukung PKS Bantul.
Meski pada awalnya tak ada yang mengunggulkan pasangan ini, Suharsono tidak berkecil hati. Dengan semangat juang 45, dia terus mengonsolidasikan kekuatannya. Berbagai jaringan dan relawan dibentuk.
Hasilnya luar biasa. Setelah berbulan-bulan bergerilya dari satu dusun ke dusun lain, dukungan masyarakat terus meluas. Puncaknya saat Pilkada lalu dia berhasil mengungguli duet Sri Surya Widati-Misbakhul Munir yang diusung PDIP dan Partai Nasdem didukung Partai Golkar serta PPP.
“Saya memadukan teori perang ditambah intelejen dan psikologi,” ucapnya.
Dengan kemenangan dalam pilkada ini, Suharsono berjanji segera menata birokrasi Bantul. Maklum selama hampir 15 tahun ini dikuasai semacam dinasti politik. “Saya akan bersih-bersih birokrasi,” janjinya. Langkah ini sebagai realisasi atas janjinya mewujudkan perubahan di Bumi Projo Tamansari ini.
Di depan massa PAN yang memadati lokasi, Suharsono mengaku hubungannya dengan partai berlambang matahari biru itu telah lama terjalin. Dia berkawan baik dengan Ketua Fraksi PAN DPRD DIJ Suharwanto yang berasal dari Bantul. “Pak Harwanto itu teman kecil saya,” cerita pria yang kini tinggal di Jalan Parangtritis, Sewon, Bantul ini.(zam/kus/jko/ong)