BANTUL – Gejolak di internal DPC PDIP ternyata tidak hanya menjelang pemilihan kepala daerah (pilkada). Pasca pilkada, gejolak di internal partai berlambang banteng moncong putih ini semakin menjadi-jadi.
Kekalahan pasangan Sri Surya Widati-Misbakhul Munir (Ida-Munir)) sebagai salah satu pemicunya. Alhasil, sejumlah pengurus dan kader PDIP pun bersuara mendesak agar struktur kepengurusan DPC PDIP Bantul segera dirombak.”Jika menjadi pengurus DPC, saya akan memilih mundur dengan hormat karena tidak dapat memenangkan pilkada,” seru Ketua Ranting PDIP Desa Argodadi, Sedayu Kadri, kemarin (13/12).
Dia berpendapat ada banyak faktor penyebab kekalahan pasangan Ida-Munir. Di antaranya, DPC PDIP merasa jemawa dan meremehkan kekuatan pasangan calon lawan. Parahnya lagi, tidak sedikit pengurus DPC mengedepankan ego sendiri-sendiri. Sebagai pengurus ranting, Kadri pun akan mengundurkan diri. Meskipun pasangan Ida-Munir di Kecamatan Sedayu menang.”Saya merasa tidak bisa bekerja sesuai harapan,” ujarnya.
Senada disampaikan Panudiyana. Bekas Ketua PAC PDIP Pajangan tiga kali berturut-turut ini mendesak seluruh pengurus DPC PDIP mengundurkan diri. Selain itu, dia juga meminta segera dilakukan konfercabsus untuk membentuk struktur kepengurusan yang baru.”Pokoknya ya secepatnya untuk menyelamatkan partai ini,” tandasnya.
Bekas anggota DPRD Bantul periode 2009-2014 ini menilai, kondisi internal PDIP memprihatinkan. Selain kekalahan pasangan Ida-Munir, kondisi tersebut juga dibuktikan dengan banyaknya kader dan simpatisan yang membelot dan mendukung pasangan Suharsono-Halim.”Ini terjadi karena partai tidak peka,” tegasnya.
Dikatakan Panud, partai seharusnya peka dengan aspirasi akar rumput. Partai seharusnya lebih mengakomodasi suara 14 PAC yang mencalonkan Suharsono saat proses penjaringan bakal calon bupati PDIP.(zam/din/ong)