BANTUL – Tradisi Rebo Pung-kasan kembali diselenggarakan Selasa (8/12) lalu. Seperti tahun-tahun sebelumnya, tradisi yang mengakar kuat ini tetap menarik perhatian ribuan warga masya-rakat. Mereka ingin melihat dari dekat ikon Rebo Pungkasan be-rupa lemper raksasa sepanjang 2,5 meter dan berdiameter 96 centimeter.Tradisi Rebo Pungkasan diawali dengan kirab. Lemper raksasa dan beberapa gunungan berisi lemper diarak dari halaman masjid Al Huda Karanganom, Wonokromo, Pleret menuju balai desa setem-pat. Kemudian, didoakan terlebih dahulu sebelum dibagikan kepada warga. “Tradisi Rebo Pungkasan punya sejarah panjang,” terang Ketua Panitia Mustain.
Menurutnya, lahirnya tradisi Rebo Pungkasan tak terlepas dari musibah yang menimpa di wila-yah Wonokromo di era kerajaan Mataram. Agar musibah teratasi, Sultan Agung kemudian meng-hadap Kiai Welit. Oleh sang kiai, Sultan Agung diberikan rajah yang dipercaya mampu menghilangkan musibah. “Dan hilangnya musi-bah ini pada hari Rabu bulan Safar,” tuturnya.Nah, momen bersejarah itu akhir-nya menjadi tradisi yang mengakar di tengah masyarakat Wonokromo. Setiap Rabu terakhir bulan Safar warga Wonokromo rutin menggelar tradisi Rebo Pungkasan. “Sekarang menjadi upacara adat. Ada sejum-lah rangkaian acara, Puncaknya kirab lemper raksasa,” tambahnya. (zam/din/ong)