ZAKKI MUBAROK/RADAR JOGJA
PENUH DINAMIKA: Abdul Halim Muslih (kiri) bersama tokoh NU dan PKB yang bertamu ke rumahnya di Singosaren RT 04, Wukirsari, Imogiri, Bantul.

Lawan Petahana, Hanya Punya Uang Cash Rp 200 Juta

Siapa bilang modal menjadi calon wakil bupati (cawabup) mahal? Abdul Halim Muslih mematahkannya. Pendamping calon bupati Suharsono ini hanya bermodal uang cash Rp 200 juta untuk “menantang” petahana.
ZAKKI MUBAROK, Bantul
PASCA penghitungan quick count selesai Rabu (9/12) sore, rumah Halim, sapaan akrab Abdul Halim Muslih tak pernah sepi tamu. Mulai pagi hingga tengah malam, deretan kursi yang tertata di halaman sam-ping rumah yang terletak di Singosaren RT 04, Wukirsari, Imogiri itu selalu tampak penuh.
Begitu pula dengan ruang tamu.Tamu yang datang dari berbagai wilayah Bantul ini jauh-jauh datang hanya ingin menyampaikan ucapan selamat atas ter-pilihnya Halim sebagai calon wakil bupati (cawabup). Pemandangan ini pula yang tampak pada Kamis (11/12) malam.”Pangestune mbah kiai,” ucap Halim ketika menyalami Ketua Dewan Syura DPC PKB Bantul Kiai Khudhori yang bertamu ke rumahnya.
Ya, sebagian besar yang datang adalah war-ga dan tokoh nahdliyyin. Maklum, selain men-jabat Ketua DPC PKB Bantul, Halim merupa-kan salah satu tokoh muda nahdliyyin. Kepada para tamunya, Halim banyak bercerita tentang perjalanannya menuju kursi Bantul 2. Mulai dari cerita yang paling seru, hingga yang mengharukan.
Keputusannya maju sebagai calon cawabup tidak serta- merta dibuatnya. Ada dinamika cukup panjang sebelum akhirnya me-mantapkan diri mendampingi Suharsono yang diusung Partai Gerindra. Apalagi lawan tan-dingnya adalah calon petahana.”Sebagai ketua DPC saya per-nah menawari beberapa tokoh NU untuk maju,” ucapnya.
Sejumlah tokoh yang pernah ditawari yakni, Wakil Ketua DPW PKB DIJ Aslam Ridlo, Sekretaris DPW PKB DIJ Umaruddin Mas-dar hingga Kiai Damanhuri. Semuanya bergeming. Akhirnya, Halim sendiri yang mengambil peluang itu. Bekas anggota DPRD DIJ dua periode berturut-turut ini lantas melakukan komunikasi dengan DPW PKB DIJ dan DPP PKB untuk mendapatkan rekomendasi. Ru-panya, kendala yang ditemui Halim tak berhenti di situ.
Istrinya, Emi Masrurah, sempat shock dengan keputusannya. Bagaimana tidak, rivalnya seperti “mustahil” dikala-hkan. Sebab, sebelum Sri Surya Widati menjabat sebagai bupati, suaminya, Idham Samawi pernah memegang kekuasaan di Bantul selama dua periode berturut-turut. “Setelah diyakinkan, istri ke-mudian mendukung keputusan saya,” jelasnya.
Halim kemudian gencar meng-gelar safari silaturahmi ke bebera-pa tokoh PKB dan nahdliyyin Ban-tul. Itu sebagai bentuk permintaan doa restu sekaligus dukungan. Setiap malam, selama masa kam-panye, bapak dua anak ini bisa menghadiri empat hingga lima kali pertemuan.”Nek ngantuk mri-pate yo diolesi banyu,” kelakarnya.
Menariknya lagi, para relawan yang mendukung pencalonan-nya juga tanpa pamrih. Tak ada satu pun di antara mereka yang minta biaya operasional. Dengan modal sendiri, mereka meya-kinkan para pemilih dengan menggulirkan isu perubahan. Juga, mengejar ketertinggalan elektabilitas lawan. Saat pendaf-taran di KPU, elektabilitas Ida-Munir mencapai 50 persen. Se-mentara, Suharsono-Halim 13 persen. “Saya hanya punya uang cash Rp 200 juta. Itu pun di tengah perja-lanan sudah habis,” bebernya.Tak pelak, di pertengahan masa kampanye Halim harus “berpuasa”.”Sampai minus-minus uang saya,” tuturnya.
Meski begitu, Halim bersama Suharsono berkomitmen tidak akan mengambil dan mengguna-kan gaji pertama mereka setelah dilantik menjadi bupati dan wa-kil bupati nanti. Gaji mereka akan digunakan memuluskan bebe-rapa program 100 hari mereka. Mengingat, APBD 2016 sudah disahkan dan tidak dapat diotak-atik lagi. Semua anggaran be-lanja sudah dialokasikan untuk program-program yang telah dirancang sebelumnya.
Halim menuturkan, akan mem-buat sejumlah gebrakan di 100 hari pertama. Duet Suharsono-Halim akan membebaskan pendaftaran di puskesmas. Sebagai wabup, Halim juga akan mengevaluasi sekaligus menata penempatan staf dan pejabat. Bagi Halim, penempa-tan pejabat harus disesuaikan dengan kompetensinya. Bukan faktor like dan dislike.Karena merasa dimenangkan oleh rakyat, Halim meminta seluruh warga Bantul ikut mengawasi jalannya roda pemerintahan. Agar pemerintah baru dapat mereali-sasikan isu perubahan di Bumi Projo Tamansari. (ila/ga/jiong)