SETIAKY A. KUSUMA/RADAR JOGJA
Pelantikan16 penerbang mudalulusan SekbangA-88 dan 11 navigator lulusan Seknav A-12.
SLEMAN – Semakin bertambahnya pesawat baruyang dimiliki TNI Angkatan Udara, mem-buat satuan tersebut membutuhkan banyak pe-nerbang-penerbang baru. Kekurangan terbanyak,tentu saja berada padapilot-pilotpesawat tempur.Hal itu diungkapkan Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Agus Supriatna saat me lantik 16 penerbang muda lulusan Sekbang A-88 dan 11 navigator lulusan Seknav A-12 di Lapangan Jupiter Lanud Adisutjipto, Jogjakarta, Jumat (11/12).
“Menambah terus sumber daya manusia (SDM) penerbang angkatan darat dan angkatan udara. AU ada yang masuk pesawat tempur dan pesawat angkut,”katanya kepada wartawan.Meskipun setiap tahun meluluskan pe-nerbang dari perwira langsung Akademi Angkatan Udara (AAU), namun karena merasa masih kurang, maka dibangunlah kelas reguler dinas pendek.
Dari hasil pendidikan selama 31 bulan sejak 1 Juli 2013, ke luar sebagai lulusan terbaik adalah Letda Pnb Dikie Jayadi Putera. Sedangkan untuk lulusan terbaik navigator diraih oleh Letda Tek Novendi Adi Saputera. Dalam upacara Wing Day ter-sebut dimeriahkan pertunjukkan fly pass pesawat latih Sekbang Lanud Adisutjipto. Di antaranya Pesawat Grob dan Pesawat KT 1 B. “Ada juga penampilan pener-jun-penerjun TNI AU dan Fasi DIJ yang unjuk kebolehan,” terang Kapentak Lanud Adisutjipto Mayor Hamdi Londong Allo.
Sementara itu, Pesawat N219 yang resmi ditampilkan pertama kali oleh PT Dirgantara Indonesia (DI) di Hanggar Pesa-wat N219, Bandung Kamis (10/12) lalu, ternyata sebagian kompo-nennya berasal dari Jogja. Yakni dari PT Yogya Presisi Teknika-tama Industri (YPTI) yang beralamat di Kalasan, Sleman.Direktur PT YPTI Petrus Tedja Hapsoro menuturkan, telah me-masok tool stretch forming untuk komponen fuselage pesawat N219. “Kita dipercaya karena engineering capacity memadai, dukungan mesin cnc 5 axis dengan presisi tinggi dan didu-kung beberapa desainer handal,” ungkapnya, kemarin (11/12).
Fuselage merupakan struktur utama pesawat udara yang di-sebut body atau badan.Dikatakan, N219 merupakan pengembangan yang dilakukan PT DI sejak Maret 2007. Pesawat ini berkapasitas 19 penumpang dengan dua mesin turboprop. Kemampuan daya jelajahnya mencapai 1580 NM dengan ke-cepatan maksimum 213 knots. Proses stretch forming prinsip kerjanya dikembangkan oleh pabrik-pabrik pesawat terbang agar dapat membuat komponen dari lembaran logam (sheet metal). Terutama yang berukuran relatif besar dengan proses pembentu-kan yang ekonomis walaupun dalam jumlah yang relatif kecil.Ke depan Indonesia diharap-kan bisa menjadi negara yang berkompetitif dalam peng-embangan industri pesawat terbang. “Tidak hanya dipasar-kan di dalam negeri tapi juga ke negara lain,” katanya.
Tentang YPTI, Petrus mene-rangkan, merupakan industri manufaktur yang memiliki 270 tenaga kerja. Beberapa produk yang dihasilkan memperoleh penghargaan Presiden di era Susilo Bambang Yudhoyono. Di antaranya, helm latihan TNI. (riz/kus/ila/ong)