DWI AGUS/Radar Jogja
SAJIAN ISTIMEWA: Djaduk Ferianto, Kepala Bidang Tradisi dan Film Dinas Kebudayaan DIJ Setiawan Sahli, pengamat musik keroncong Prof Dr Victor Ganap M.Ed, Aji Wartono, sesepuh Kotagede Muhammad Natsir, dan Ketua Pasar Keroncong Kotagede 2015 Alfan Farhan saat jumpa media kemarin (10/12).
JOGJA – Kotagede dikenal sebagai kawasan heritage gudangnya musisi keroncong. Terhitung sekitar 20-an kelompok musik keroncong lahir di sini. Ini pula yang menginspirasi lahirnya Pasar Keroncong Kotagede 2015 yang diselenggarakan Sabtu (12/12).
Kepala Bidang Tradisi dan Film Dinas Kebudayaan DIJ Setiawan Sahli menyebutkan, Kotagede adalah kawasan yang penuh dengan nilai sejarah. Bertambah dengan hadirnya kelompok-kelompok musik Keroncong. “Potensi ini kami hadirkan dan dikemas lewat Pasar Keroncong Kotagede 2015,” saat jumpa media kemarin (10/12).
Menurutnya, Dinas Kebudayaan sejatinya memiliki program tahunan musik keroncong. Sayangnya penyelenggaraan ini kurang mendapat respons yang kurang bagus dari masyarakat. Namun, dia optimis dengan kemasan Pasar Keroncong Kotagede 2015, pamor musik keroncong akan meningkat lagi.
Meskipun baru pertama kali diselenggarakan namun respons positif sudah berdatangan. Terlebih respons masyarakat di sosial media. Selain itu musisi yang terlibat mampu memberikan warna tersendiri bagi keberagaman musik keroncong. “Musik keroncong dikemas secara menarik dengan segmen penonton yang lebih luas,” ungkapnya.
Keunikan dari konsep pementasan musik ini terlihat dari berbagai sudut. Pertama adalah melibatkan kelompok-kelompok musik keroncong dari Kotagede. Total ada 16 kelompok yang turut meramaikan even perdana ini. Selanjutnya panggung yang terbagi menjadi tiga panggung besar yang tersebar di area Kotagede.
Panggung-panggung ini diberi nama yang unik sesuai lokasinya. Panggung Loring Pasar yang berada di utara Pasar Kotagede. Panggung Sayangan yang berada di kampung Sayangan tepatnya utara Mesjid Besar Mataram Kotagede. Panggung Sopingen yang berada di Halaman Pendopo Sopingen.
“Ini stimulus yang sangat bagus bagi para pelestari musik keroncong di Kotagede. Dengan adanya even ini maka semangat mereka terapresasi. Selain itu para pelestari ini tetap terpacu untuk terus menjaga musik keroncong khas Kotagede,” kata ketua panitia Alfan Farhan.
Menurut musisi Djaduk Ferianto, Kotagede sangat melekat akan musik keroncongnya. Identitas ini jika diolah dapat menjadi daya tarik yang luar biasa bagi penikmat musik.
Selain dapat menjadi kekuatan bagi Kotagede, disisi lain event ini turut menggugah generasi muda. Ini diperlihatkan dengan partisipasi beberapa musisi muda di dalamnya. Seperti hadirnya vocalis Shaggdydog yang berkolaborasi dengan kelompok Puspa Jelita.
“Kehadiran Heruwa dan Lilik Shaggydog merupakan poin tersendiri bagi musik keroncong. Mereka lahir dengan scene musik yang berbeda tapi sangat berminat untuk turut serta. Selain para musisi muda hadir pula Iga Mawarni, Subarjo HS hingga seniman tari Didik Nini Thowok,” kata Djaduk.
Heruwa mengungkapkan konsep ini baru pertama kali dia lakoni. Meski begitu dirinya sangat tertarik untuk membawakan musik keroncong dalam pentas nanti. Tantangan terbesar sekaligus menjadi motivasi adalah membawakan musik keroncong ala Shaggydog.”Beberapa lagu khas Shaggydog seperti Sayidan akan kami bawakan besok,” kata Heruwa. (dwi/din/jiong)