BANTUL – Salut. Itulah kata yang tepat menggambarkan warga Bantul yang berani memutuskan dinasti politik yang sudah 15 tahun bercokol di Bumi Projo Tamansari. Itu terlihat dengan kemenangan telak pasangan Suharsono-Abdul Halim Muslih di tiga belas kecamatan atas pasangan petahana Sri Surya Widati yang berpasangan dengan Misbakhul Munir (Ida-Munir).
Dari perhitungan sementara, pasangan Ida-Munir hanya mampu unggul di empat kecamatan, yakni Piyungan, Pundong, Sedayu, dan Kasihan. Persentase perolehan suara yang berhasil dicapai hanya 47,20 persen.
Tim pemenangan Suharsono-Abdul Halim Muslih (Suharsono-Halim) telah usai melakukan penghitungan rekapitulasi suara. Dari hasil rekapitulasi yang telah divalidasi ini diketahui, pasangan yang diusung Partai Gerindra dan PKB serta didukung PKS ini hanya kalah di empat kecamatan.
Ketua DPD PKS Bantul Amir Syarifudin menyebutkan, berdasar hasil rekapitulasi pasangan Suharsono-Halim mendapatkan 261.145 suara atau 52,80 persen. “Selisihnya hanya 27.716 suara,” terang Amir, kemarin (10/12).
Amir menegaskan, hasil rekapitulasi valid karena disertai dengan bukti berupa dokumen C1. Karena itu, tim pemenangan siap ikut mengawal penghitungan suara mulai di tingkat PPS, PPK, bahkan KPU Kabupaten sekalipun.
“Dalam penghitungan nanti kami juga akan mengirimkan saksi-saksi kita untuk ikut memantau,” ujarnya.
Senada disampaikan Sekretaris DPD PKS Bantul Setiya. Dia mengatakan, ada potensi perbedaan hasil penghitungan suara versi tim pemenangan dan KPU. Meski begitu, tim pemenangan Suharsono-Halim siap menghadapi potensi perbedaan ini. Toh, hasil rekapitulasi tim pemenangan disertai dengan bukti-bukti otentik. “Biasa saja kalau ada perbedaan. Kita siap dengan argumen kita,” tandasnya.
Dia menambahkan, kemenangan pasangan Suharsono-Halim merupakan kemenangan rakyat. Sehingga tidak perlu ada gesekan antarpendukung. “Sing menang ora usah umuk. Sing kalah yo ora usah ngamuk,” tandasnya.
Sementara itu, hasil yang cukup mengejutkan dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) 2015 mendorong DPC PDIP Bantul langsung melakukan evaluasi internal secara menyeluruh. Hasilnya, tidak ada yang salah dengan kinerja mesin politik pasangan calon Ida-Munir.
Ketua DPC PDIP Bantul Aryunadi mengatakan, kinerja tim pemenangan Ida-Munir telah berjalan dengan terukur dan maksimal. “Bahkan kita berani bila disandingkan dengan tim sebelah,” terang Aryun, sapaan akrabnya, saat ditemui di ruang kerjanya, kemarin (10/12).
Menurutnya, struktur tim pemenangan Ida-Munir komplet. Mulai dari tempat pemungutan suara (TPS) hingga tingkat kabupaten. Begitu pula dengan perencanaan, model kampanye hingga target. Semuanya telah terkonsep dan terealisasi dengan maksimal. “Di setiap desa kita punya posko. Tim sebelah apa punya?,” ujarnya.
Lalu, apa yang menjadi penyebab kekalahan? Aryun menengarai ada faktor X yang menjadi biang kekalahan Ida-Munir. Menurutnya, faktor X inilah yang selama masa kampanye bekerja secara terencana dan terukur. Faktor X yang ditengarai tenaga terdidik ini juga piawai mempengaruhi para pemilih. “Hebat banget (faktor X). Menyiasati aturan tapi tidak melanggar aturan,” ucapnya.
Namun demikian, Aryun enggan membeberkan apa atau siapa faktor X ini. Yang pasti, faktor X ini merupakan kekuatan politik besar yang ikut meramaikan Pilkada Bantul, tetapi mereka bukan dari unsur partai politik. “Dua atau tiga bulan akan saya sebutkan (siapa faktor X),” janjinya.
Aryun menambahkan, tim pemenangan sebenarnya sudah mencium gelagat keberadaan faktor X ini saat masa kampanye. Untuk mengantisipasinya, tim pemenangan membentuk sejumlah satgas. Misalnya, satgas antipolitik uang. “Tapi apa boleh buat. Mereka hebat banget,” tuturnya.
Kendati begitu, Aryun menegaskan, legawa menerima hasil pilkada 2015. Tim pemenangan juga tidak berencana mengajukan gugatan sengketa pilkada. “Kami akan menunggu dan menghormati keputusan KPU,” tandasnya.
Tak lupa, Aryun juga berharap jalannya roda pemerintahan Kabupaten Bantul selama lima tahun ke depan berjalan lebih baik dari sebelumnya. Sebagai partai politik terbesar di Bantul, PDIP akan kooperatif dan ikut mengawal jalannya roda pemerintahan. “Selama itu untuk rakyat akan kita dorong,” tandasnya.
Sementara itu, relawan Jas Merah Basuki Rachmad menilai, kekalahan Ida-Munir sebagai bukti warga Bantul cerdas menentukan pilihan. Ini juga sebagai bukti bila keputusan yang diambil PDIP dengan merekomendasikan Ida-Munir salah. Mengingat, mayoritas akar rumput PDIP saat masa penjaringan cabup-cawabup lebih memilih Suharsono daripada Sri Surya Widati. “Warga Bantul bisa memaknai arti perubahan,” terang bekas anggota DPRD Bantul PDIP periode 2009-2014 ini. (zam/ila/ong)