SLEMAN – Dari perhitungan sementara, tiga calon yang diusung PDIP di tiga kabupaten yakni Bantul, Gunungkidul, dan Sleman tak ada satupun yang berhasil memenangi pemilihan. Hal ini menegaskan bahwa partai Banteng Moncong Putih gagal total di Pilkada Jogjakarta.
Di Bantul, pasangan Sri Suryawidati-Misbakul Munir kalah dari Suharsono-Abdul Halim Mulish yang diusung Gerindra, PKB, dan PKS. Nasib serupa terjadi Gunungkidul. Pasangan Djangkung Sudjarwadi-Endah Subekti tumbang di tangan Badingah dan Immawan Wahyudi. Demikian pula di Sleman yang mengusung Yuni Satia Rahayu-Danang Wicaksana Sulistya yang takluk di tangan bupati petahan Sri Purnomo-Sri Muslimatun.
Sejumlah pengamat politik angkat bicara tentang kegagalan partai pemenang Pemilu yang kadernya kini menjadi Presiden RI tersebut. Pengamat Politik sekaligus Pakar Tata Negara Universitas Islam Indonesia (UII) Jawahir Tantowi mengungkapkan, disonansi kognitif jadi kegagalan utama kader-kader PDIP di DIJ dalam pilkada kali ini.
Disonansi pertama adalah maraknya isu dan pemberitaan tentang kegagalan PDIP dalam menjalankan roda pemerintahan saat ini. Santernya kegagalan ini sudah muncul ke publik sejak adanya evaluasi kerja Kabinet Kerja Jokowi-JK.
Hal ini membuat masyarakat takut memilih kader bermoncong putih itu, karena enggan daerah mengalami kejatuhan laiknya pusat. Sudah setahun lebih pemerintah sekarang berkuasa namun tidak ada perubahan signifikan. Sebaliknya, yang terjadi malah penuh gonjang ganjing politik. “Akhirnya berdampak negatif untuk meraih kemenangan optimal dalam pilkada saat ini,” ucapnya Kamis (10/12).
Kelatahan yang kedua adalah luputnya mereka dalam merangkul kelas menengah yang terus tumbuh di DIJ. Kelas menengah ini, yang bercirikan ingin mengerti apa yang ada dalam pikiran elite sekaligus tak ingin memutus status sebagai rakyat kecil, sudah mulai selektif dalam memilih. Hal ini dibuktikan dengan dipilihnya calon yang punya program yang cukup rasional dan tak lebay.
“Jogja itu ukurannya kelas menengah sekarang. Kelas menengah di DIJ sendiri sudah cerdas dalam menuntut hak politiknya dan tidak mudah dikendalikan oleh elite politik dengan berbagai stimulus,” terangnya.
Selain dua faktor tersebut, PDIP juga gagal menekan angka golput di DIJ. Sebenarnya ini bukan kesalahan PDIP saja, namun juga parpol lainnya. Meski pilkada kali ini sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Yaitu KPU membatasi penggunaan poster dan spanduk, gaya kampanye masih tetap sama. Misalnya saja pawai motor di jalan raya dengan memamerkan bendera laskar atau simpatisan. Peluang inilah yang belum ditangkap PDIP. Ketika calon yang didukung parpol lain melakukan kampanye zaman batu tersebut, PDIP malah ikut-ikutan tanpa melihat reaksi masyarakat.
Pengamat politik UGM Arie Sudjito menuturkan hal senada. Dalam hal kampanye, masyarakat ingin sesuatu yang berbeda dari pilkada kali ini. Sayangnya tidak ada perubahan yang berarti dalam kampanye pilkada serentak.
“Hampir semuanya melakukan hal sama. Jadi tidak menarik. Dulu pernah saya sampaikan, pilkada akan tetap begini-begini saja, tidak ada perubahan,” tuturnya.
Sebelumnya, Ketua DPC PDIP Sleman Koeswanto mengungkapkan, jika hasil yang tak maskimal di Pilkada Sleman menjadi pembelajaran berarti bagi kader PDIP. Terutama untuk pembenahan sistem dan sumber daya manusia ke depan. (riz/ila/ong)