GUNTUR AGA TIRTANA/Radar Jogja
KERAGAMAN SENI: Peserta dari Bengkel Mime mengusung tema Kursi-kursi Kehormatan turut memeriahkan karnaval visual sebagai penutup Biennale Jogja XIII dari SMKI Jogja, kemarin(10/12). Konsep Biennale Jogja Equator pada 2017 mendatang direncanakan akan bekerja sama dengan negara di Amerika Latin.
JOGJA – Pertemuan antara seniman Indonesia dengan seniman Nigeria dalam Biennale Jogja XIII telah berakhir. Di awali sejak 1 November lalu, Biennale Jogja mampu melahirkan beragam pemikiran seni. Kerja sama seni juga terjalin dalam beberapa program yang diselenggarakan oleh Biennale Jogja XIII.
Direktur Yayasan Biennale Jogja Yustina Neni mengungkapkan, pertemuan seni dalam Biennale Jogja XIII telah melahirkan beragam pemikiran. Terutama sudut pandang seni antara kedua negara, Nigeria dan Indonesia. Terutama dari segi identik negara yang berbeda benua ini.
“Ada beberapa wujud persamaan antara Indonesia dan Nigeria. Dari segi sosial dan politik, dalam beberapa kasus dan isu hampir sama. Bahkan hadirnya pemerintah dalam kegiatan seni ibaratkan delusi. Negara jarang hadir dalam peristiwa seni, dan ketika seniman keluar (negeri), itu juga wujud dari usahanya sendiri,” kata Neni, di sela penutupan Biennale Jogja XIII di Jogja National Museum, Kamis (10/12).
Neni menjabarkan, perjalanan Biennale Jogja XIII telah memasuki tahapan selanjutnya. Saat ini penyelenggaraan Biennale Ekuator telah memutari separo belahan bumi. Sebelum bersama Nigeria, Biennale Jogja telah bertemu dengan Arab dan India di tahun-tahun sebelumnya.
Dua tahun berikutnya, Biennale Jogja akan menjelajah Negara Amerika Latin. Pertemuan ini diakui Neni menjadi peristiwa seni yang sakral. Pasalnya dalam kesempatan ini, belum bisa meraba seperti apa perkembangan seni di sana.
“Perpindahan dari Afrika ke Amerika Latin akan melahirkan peristiwa seni yang baru. Berkenalan dengan seniman berani lainnya, tanpa tahu seperti apa. Melahirkan kerja sama kolaborasi lainnya. Ini adalah bagian etape Biennale Jogja yang harus dilalui,” kata Neni.
Rangkaian Biennale Jogja XIII ditutup dengan karnaval bertajuk Karnaval Visual JALISTIWA, Kamis sore (10/12). Melibatkan 10 kontingen dari kelompok seni kontemporer maupun kerakyatan. Pawai diselenggarakan dari SMKI menuju Jogja National Museum.
JALISTIWA sendiri merupakan akronim dari Jalaran Jalanan Khatulistiwa. Di mana memiliki arti disebabkan perjalanan melintasi garis khatulistiwa. Tajuk ini merangkum perjalanan Biennale Jogja dalam melintasi garis khatulistiwa.
“Ini kali pertama Biennale Jogja menyelenggarakan penutupan dengan pawai. Bagi kami, ini adalah wujud rasa syukur dan selamatan atas perjalanan selama ini. Juga wujud perpisahan dengan Nigeria untuk menuju Amerika Latin,” jelas Neni.
Dalam kesempatan ini pula diserahkan awarding Lifetime Achievement Art Award Biennale Jogja XIII Equator #3. James Supangkat, seniman asal Bandung mendapatkan kehormatan menerima penghargaan ini. Perannya dalam memajukan seni rupa Indonesia di mata internasional patut mendapatkan apresiasi.
“Latar belakang beliau adalah seniman patung. Di sisi lain, beliau juga aktif menulis tentang jurnal seni. Bahkan berkat tulisannya, namanya dikelanl di luar negeri. Selain itu beliau juga tokoh pergerakan seni rupa baru,” jelas Neni. (dwi/jko/ong)