DWI AGUS/RADAR JOGJA
KEARIFAN LOKAL: Salah satu prosesi upacara adat Saparan Rebo Pungkasan Bendung Kayangan di Desa Pendoworejo, Girimulyo, Kulonprogo, kemarin (9/12).
KULONPROGO – Dinas Pariwisata DIJ terus memberikan dukungan akan potensi wisata di Jogjakarta. Salah satu potensi ini adalah Upa-cara Adat Saparan Rebo Pungkasan Bendung Kayangan yang berlang-sung di Desa Pendoworejo, Giri-mulyo, Kulonprogo. Upacara tra-disi ini dikemas lebih menarik dengan poin wisata.Kepala Dinas Pariwisata DIJ Aris Rianta mengungkapkan Jogja-karta memiliki keragaman budaya. Upacara tradisi yang telah men-jadi bagian dari masyarakat perlu dikemas. Tanpa menghilangkan makna ritual, namun mendukung pariwisata di Jogjakarta.”Upacara tradisi memiliki makna yang besar bagi masyarakat. Se-perti upacara adat saparan ini yang telah berlangsung sejak lama. Mu-lai dari potensi kesenian, kuliner hingga alam tersaji dalam upa-cara ini. Sehingga wajib kita dukung agar menjadi nilai wisata yang kuat,” kata Aris kemarin (9/12).Upacara adat ini sendiri terbagi menjadi beberapa bagian. Diawali sejak Selasa (8/12) yang menam-pilkan ragam potensi kearifan lokal di Lapangan Desa Pendowo-rejo. Sedangkan kemarin (9/12) diadakan Kembul Sewu Dulur di Kali Tempuran, Bendung Kayangan.Mengawali upacara terlebih dahulu digelar kirab dari halaman Balai Desa Pendoworejo menuju ke Kali Tempuran, Bendung Kayangan. Selanjutnya upacara adat Saparan Rebo Pungkasan Bendung Kayangan digelar dengan diawali prosesi Ngguyang Jaran di Kali Tempuran.
“Kembul Sewu Dulur mampu memperat persaudaraan dengan sesama warga. Tidak memandang jabatan atau strata, semua makan bersama di tepi sungai. Ini sangat bermakna bagi warga yang datang. Ini dapat menjadi salah satu daya tarik wisata yang kuat,” kata Aris.Wakil Bupati Kulonprogo Sutedjo turut hadir dalam upacara adat ini. Menurutnya, upacara adat ini merupakan wujud keharmonisan antara manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam. Ini dibuktikan dalam setiap prosesnya yang sakral dan dilakukan di alam terbuka.Sebagai warisan nenek moyang, upacara adat ini menurutnya wa-jib dilestarikan. Bedanya kemasan harus diperhatikan agar terlihat lebih menarik. Tentunya tanpa menghilangkan esensi upacara adat yang diwariskan.”Sang pencipta memberikan ke-indahan alam dan tentu harus kita jaga. Selain menjaga kehar-monisan dengan manusia, dengan alam juga wajib. Saat kita bisa men-jaga alam, maka alam akan men-jaga kita,” pesannya.Malam harinya (9/12) di Lapangan Desa Pendoworejo menampilkan pentas musik etnik oleh maha-siswa ISI Jogja. Selain itu juga ke-indahan Symphony of Light Bukit Perahu. Ditutup dengan pertunju-kan wayang kulit oleh dalang Ki Suryo Maharso dengan lakon Mula Bukane Bendung Kayangan. (dwi/tom/laz/ong)